KH As’ad Syamsul Arifin adalah seorang kiai karismatik dan penuh karomah yang yang merupakan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Kiai As’ad lahir pada tahun 1897 kemudian wafatnya pada 4 Agustus 1990 pada usia 93 tahun.

Ikhwal karomah KH As’ad Syamsul Arifin, bagi sejumlah orang mungkin tak asing dengan kelebihan-kelebihan bagi insan pada umumnya. Banyak kalangan, terutama para santri beberapa kiai menyaksikan karomah Kiai As’ad.

Antara lain yakni kisah yang dirasakan Mas’ud, misalnya. Konon, santri yang biasa bertugas melayani keperluan Kiai As’ad itu benar-benar takjub bak dalam dunia mimpi saat mengetahaui dengan mata kepala sendiri tentang kelebihan pada sosok Kiai As’ad.

Suatu ketika, Mas’ud diajak Kiai untuk melihat pekerja yang tengah membangun gedung madrasah di sebelah barat kantor asrama. Kiai As’ad yang termasuk tipikal kiai perokok, melihat kantong bajunya sudah kosong dari sebiji rokok pun. Beliau langsung menyuruh Mas’ud yang berada di sampingnya untuk mengambilkan sebungkus rokok di atas pintu kamar beliau.

Mendengar titah itu, dengan sigap Mas’ud berlari menuju dalem (rumah) yaitu kamar pribadi kiai. Jarak antara pembangunan gedung madrasah dengan kamar beliau bisa dibilang sedikit jauh, kurang lebih 300 meter. Sehingga Mas’ud sebelum menggenggam sebungkus rokok itu, ia harus melewati sudut-sudut madrasah dan asrama santri putri.

Keanehan mulai Mas’ud rasakan saat mendekati kamar pribadi beliau. Bagaimana tidak, Kiai yang baru saja memerintahkannya untuk mengambil rokok di tempat pembangunan tadi, waktu itu juga Mas’ud menjumpai beliau di dekat kamar, guna memberi pengarahan perihal kebersihan pada santri putri kala itu.

Kekagetan itu segera Mas’ud hentikan, karena perintah untuk mengambil rokok harus dengan segera ia tunaikan. Dengan perasaan yang masih ganjil, Mas’ud meneruskan derap langkahnya menuju kamar kiai, untuk mengambil sebungkus rokok. Tepat di bibir kamar, Mas’ud benar-benar terkejut dan kaget bukan kepayang, pasalnya ia “juga” jumpai sosok Kiai As’ad sedang membaca kitab di dalam kamar pribadinya itu.

Semakin kaget dan terus bertanya-tanya seorang Mas’ud di tempat itu. Terdiam sejenak, lalu ia pun mengurungkan niatnya untuk mengambil sebungkus rokok yang diamanahi kiai. Sebab di tengah rasa takjubnya, Mas’ud beranggapan bahwa Kiai As’ad sudah mengambil sendiri, rokok yang sebelumnya diperintahkan kepadanya.

Mas’ud sedikit lega, karena titah Kiai selayang pandang ia anggap telah purna. Mas’ud kemudian kembali, berjalan menyusuri madrasah dan asrama putri untuk menuju ketempat semula, tempat pembangunan gedung madrasah yang sebelumnya ia bersama dengan Kiai As’ad.

Perasaan yang sempat sedikit lega, kembali harus memuncak saat Mas’ud tak jauh dari tempat pembangunan menyaksikan Kiai As’ad di dekat material bangunan. Bagaimana tidak, beberapa detik yang lalu ia menyaksikan kiai sedang memberi wejangan di dalem, kemudian membaca kitab di kamar beliau. Tapi, kali ini ia “kembali” melihat sosok Kiai sedang berdiri di dekat pembangunan madrasah. Peristiwa itu, ia rasakan dalam kurun “waktu yang sama”.

Kali ini, Mas’ud benar-benar merasakan hal yang tak wajar, sebuah pengalaman yang tak pernah ia rasakan semasa hidupnya. Kembali, untuk kedua kalinya Mas’ud menuju kamar kiai, tempat rokok berada. Beberapa depa di kamar beliau, kali ini seorang Mas’ud tak tahu ingin mengungkapkan apa, kecuali keheranan yang sungguh luar biasa.

Kembali, untuk yang kesekian kalianya Mas’ud menyaksikan Kiai As’ad sedang membaca sebuah kitab di hadapannya. Kali ini dengan sedikit percaya diri Mas’ud berdehem, memberi isyarat di kamar beliau, beberapa saat sebelum tangannya mengambil sebungkus rokok di atas pintu kamar.

Dengan posisi tak berubah, masih di hadapan kitab, Kiai As’ad pun sontak bertanya, “Ada apa, Ud?” tanya Kiai, dengan nada agak keras.

Mas’ud yang sebelumnya telah diterpa rasa takjub di luar nalar sebab peristiwa janggal ini, sepontan lansung gemetar, rasa canggung bercampur aduk dengan rasa takut ia emban, tak jauh di samping Kiai.

“Sobung kiai (tidak ada kiai),” tanggap lentur Mas’ud, usai mendengar pertanyaan Kiai As’ad tadi.

Dirasa Kiai As’ad tak kembali bertanya, perlahan Mas’ud melangkahkan kakinya, keluar dari kamar pribadi beliau. Tak lama berselang, ia pun bercerita, mengungkapkan pada teman-temannya, ikhwal rasa heran dan takjub atas kejadian yang dialaminya tersebut.

Itu, sebuah karomah Kiai As’ad yang pernah dialami oleh salah seorang santrinya.
Tak kalah mengejutkan dari cerita Mas’ud, sebuah cerita non fiksi prihal karomah kiai, juga pernah disaksikan sejumlah pasang mata, lebih tiga dekade silam, tepatnya di akhir tahun 1984.

Pada Desember 1984 bisa dikatakan tahun bersejarah bagi pesantren asuhan Kiai As’ad, yakni Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Pada waktu itu, pesantren ini menampung ribuan santri karena menjadi tuan rumah pagelaran Muktamar NU yang ke-27.

Dalam acara akbar ini, sudah hal yang wajar kedatangan deretan masyayekh (kiai-kiai sepuh), petinggi negara, hingga orang nomor wahid di Tanah Air kala itu, yakni Presiden Soeharto.

Desas-dedus ihwal kedatangan Presiden kedua itu telah sampai ke Pesantren Sukorejo, para pengurus dan segenap panitia Muktamar. Lantas, mereka melakukan persiapan matang guna menyambut deretan tamu undangan terutama Presiden RI yang akan menghadiri acara tertinggi di lingkungan jamiyah NU tersebut.

Persiapan dilakukan, salah satunya dengan merapikan dan menyiram sepetak Lapangan Sodung—sebuah tanah lapang yang tak jauh dari Pesantren Sukorejo—guna menyambut pendaratan helikopter yang berisi rombongan Presiden Soeharto.

Nah, pada baris cerita ini, karomah Kiai As’ad mulai hampir terasa oleh deretan pasang mata yang ikut merapikan dan menyiram sebuah lapangan. Kiai yang mengetahui beberapa petugas dan simpatisan tengah menyiram lapangan, dengan cepat langsung mendekati para petugas, lalu bertutur:

“Pakai uang siapa menyiram lapangan seluas ini? Kalau pemerintah banyak uang, lebih baik untuk memperbaiki jalan di utara sana,” tanya beliau, sembari tangan mulianya menunjuk ke arah utara.

“Percuma saja kalian meyirami lapang ini. Toh, sebentar lagi akan turun hujan. Lagi pula Pak Harto tidak akan mendarat di sini” sambung kiai, guna memperi tahu petugas yang telah terlanjur membasahi sebagian lapangan, dengan sebuah trus tangki air.

Mendengangar dawuh beliau, para petugas sejenak tertegun, terselimuti dengan rasa ketidak nyamanan pada pimpinan tertinggi pesantren sukorejo itu. Dengan hanya memberi tangap singkat pada kiai, bahwa; mereka hanya menjalankan tugas dari atasan. Tak lama di tempat ini, kiai lalu beranjak, kembali ke area Pesantren Sukorejo.

Hal luar biasa pun terjadi, kira-kira langkah kiai sampai ke Sukorejo. Para petugas dan segenap simpatisan, pun masyarakat yang hadir kala itu dibuat kaget dan takjup bukan main. Hanya berselang durasi yang sebentar usai Kiai As’ad meninggalkan lapangan, tempat yang digadang-gadang mendaranya presiden suharto itu, tiba-tiba dengan cepat rintihan hujan turun dengan amat lebat.

Kesan bagi publik makin tinggi, karna kala itu daerah Sukorejo dan sekitar dalam cuaca retik matahari yang menyala-nyala. Uniknya lagi, bias air hujan hanya membasahi area lapangan, tidak untuk daerah sebelah kiri pun sebelah kanan. Dan sekali lagi, itu semua sama, layaknya Kiai As’ad sebelumnya mendawuhkan.

Sumber:

Buku Riwayat Hidup dan Perjuangan Kiai As’ad.

Leave a Response