Setiap manusia dilahirkan dalam puncak kesempurnaan, itu yang Allah swt tegaskan dalam  surah al-Tin [95]: 4. Dari lima indra yang mereka miliki, mulut (al-lisan) merupakan indra yang esensial dengan ayat tersebut. Lisan mampu membuat seseorang menjadi personifikasi surah al-Tin [95]: 4, tetapi pada saat yang lain, juga mampu menjerumuskan seseorang ke lembah kehinaan, seperti pada ayat berikutnya, surah al-Tin [95]: 5. Dua titik ekstrem tersebut terjadi melalui aktivitas lisan yang disebut “bicara”.

Karena (ber)bicara, seseorang diangkat ke derajat kemuliaan. Karena bicara pula, seseorang seringkali menjadi hina. Hal itu tergantung kita sang pembicara, hendak kemana mengarahkannya. Lisan yang selalu berkata hal-ihwal keburukan, umpamanya, atau berkata dusta, tidak akan pernah mengantarkan pada derajat mulia. Terbukanya kebenaran tak jarang bergantung jujurnya lisan. Bahkan juga, untuk membuka jalan kebenaran tersebut melalui lisan, Allah swt melakukannya secara tak diterka. Pada bayi, misalnya.

Di dalam sejarah, ada beberapa kejadian menakjubkan, ketika Allah  di samping menyingkap kebenaran, juga bermaksud menunjukkan kuasa kebesaran-Nya. Para bayi luar biasa yang berbicara sejak di ayunan (al-mahd) bahkan Allah swt rekam dalam Alquran. Mereka mendapat keistimewaan demi sebuah kebenaran, dan misinya direkam Tuhan. Juga direkam dalam hadis Nabi saw, bayi-bayi tersebut dapat berbicara fasih laiknya orang dewasa. Dalam banyak literatur, ada beberapa bayi yang dapat berbicara.

Saksi Nabi Yusuf ‘alayh al-salam

Sebagai pemuda dengan ketampanan luar biasa, Yusuf muda meluluhkan hati Zulaikha, dan membuat istri raja tersebut bersiasat buruk terhadapnya. Alquran melukiskan kejadian tersebut dengan indah, melalui redaksi “wa laqad hammat bihî wa hamma bihâ, law lâ an ra’â burhâna rabbihî” pada surah Yusuf [12]: 24. Kalau saja dibaca secara sepotong, tentu saja ayat tersebut mencederai kesucian para nabi dari perbuatan dosa (fâhisyah).

Al-Razi dalam Mafatih al-Ghayb mengulas detail penafsiran terhadap redaksi ayat tersebut, sekitar persoalan: apakah Yusuf mungkin pernah berniat juga melakukan hal yang sama dengan Zulaikha. Namun demikian, al-Razi sendiri berpendapat, Yusuf terjaga dari perbuatan dosa, dan kata ‘hamma bihâ’ dianggap sebagai jawab dari kata syarat ‘law lâ’ yang didahulukan (muqaddam). Terlepas dari bagaimana penafsirannya, jelasnya Yusuf kabur, dan di depan pintulah ia kepergok suami Zulaikha.

“Apakah balasan terhadap orang yang bermaksud buruk terhadap istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan siksa yang pedih?” kata Zulaikha, seperti direkam al-Qur’an, surah Yusuf [12]: 25.

Yusuf spontan memberi pembelaan diri. Ia tidak mau dipenjara lantaran sesuatu yang tak dibuat olehnya. Kendati, andai sekalipun ia dipenjara, Yusuf pasti merasa lebih baik daripada terjerumus ke dalam kemaksiatan. Itu juga dituturkan Alquran, dalam surah Yusuf [12]: 33. Dan di peristiwa yang tak memiliki saksi satu pun, juga terpojok itulah, seorang saksi menyarankan, seperti direkam Yusuf [12]: 26-27.

“Jika baju gamisnya koyak di bagian depan, maka perempuan itu benar, dan dia (Yusuf) termasuk orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di bagian belakang, maka perempuan itulah yang dusta, dan dia (Yusuf) termasuk orang yang benar.”

Kesaksian tersebut, menurut al-Razi, dilakukan oleh keponakan Zulaikha. Dengan mengutip riwayat Ibnu Abbas, al-Razi berpendapat bahwa saksi tersebut adalah bayi yang Allah swt. berikan keistimewaan berbicara saat di ayunan. Pendapat yang sama, bahwa saksi Yusuf adalah seorang bayi di ayunan, dituturkan oleh al-Suyuthi dalam tafsirnya, Tafsir al-Jalalayn.

Sahabat Juraij

Kisah Juraij direkam dalam hadis Nabi saw., dan al-Razi juga mengutipnya dari riwayat Ibnu Abbas. Redaksi hadisnya pun beragam. Yang dikutip al-Razi redaksinya singkat. Adapun di literatur lain, terdapat pula hadis panjang perihal kisah Juraij, yang berasal dari perbicangan Nabi saw. dengan para sahabat. Poin dari kisah tersebut memang sebenarnya bukan Juraij, tetapi bayi yang menjadi saksi atas kebebasan Juraij dari tuduhan zina.

“Wahai Nabi Allah! Siapa Juraij itu?,” tanya salah satu sahabat, ketika Nabi menyinggung Juraij.

Nabi saw pun mengisahkan, Juraij adalah seorang biarawan (al-rahib) yang tinggal di rumah peribadatan (shawma‘ah), di sebuah perbukitan. Di lereng tempat peribadatannya itu, biasa ada lelaki menggembalakan sapinya. Juga di tempat itu, sang penggembala didatangi seorang perempuan. Konon, perempuan tersebut pelacur. Ia hendak berbuat asusila dengan sang penggembala. Sang pelacur hamil. Sedangkan di sisi lain, suatu hari, Juraij yang taat ibadah dipanggil ibunya.

“Wahai Juraij!” ibunya memanggil.

“Apakah aku harus memenuhi panggilan ibuku atau meneruskan salatku?” bimbang Juraij dalam hatinya. Ia kemudian memilih tetap dalam ibadahnya, mengabaikan panggilan sang ibu. Panggilan kedua kali, Juraij kembali bingung, lalu masih memilih ibadahnya. Begitu pun dalam panggilan ketiga, Juraij tetap mengabaikan panggilan ibunya.

Sang ibu lalu berdoa, “Semoga Allah tidak mewafatkanmu, wahai Juraij, sampai wajahmu dipertontonkan di depan para pelacur.”

Doa tersebut terkabulkan. Sang pelacur yang sudah mesum bersama sang penggembala menghadap pemimpin setempat dalam keadaan telah menggendong bayi.

“Hasil dari siapa anak ini?” tanya sang pemimpin kepada pelacur.

“Juraij.”

“Apakah dia yang tinggal di tempat peribadatan itu?”

“Benar.”

“Hancurkan rumah peribadatannya dan bawa dia kemari,” perintahnya kepada para penduduk.

Orang-orang lalu menghancurkan tempat peribadatan Juraij. Mereka mengikat tangan Juraij, dan di jalanan, ia menjadi tontonan para pelacur. Juraij hanya tersenyum melihat mereka.

“Siapa ini menurutmu?” tanya sang pemimpin kepada Juraij.

“Siapa yang engkau maksud?”

“Dia, sang perempuan tadi, berkata bahwa anaknya adalah hasil hubungan denganmu.”

“Di mana bayi itu?”

Mereka pun membawakan si bayi ke hadapan Juraij. Ia lantas meminta izin untuk salat. Setelah selesai, Juraij bertanya kepada si bayi.

“Siapa ayahmu?”

Si bayi dengan fasih menjawab, “Seseorang, dia penggembala.”

Menyaksikan keajaiban tersebut, semua penduduk mencium Juraij dan mengusap-usapnya. Mereka mengakui keistimewaan Juraij, sang ahli ibadah itu.

“Apakah perlu kami bangun kembali rumah peribadatanmu dari emas?” Tanya sang pemimpin

“Tidak.”

“Atau dari perak?”

“Jangan!”

“Lalu dari apa?”

“Bangunlah dari tanah, seperti sedia kala,” jawab Juraij sambil tersenyum.

“Mengapa engkau tersenyum?” sang pemimpin penasaran

“Aku tertawa karena suatu perkara yang telah kuketahui, yaitu terkabulnya doa ibu terhadap diriku.”

Anak Tukang Sisir Putri Firaun

Sementara orang salah paham, dengan mengatakan bahwa yang berbicara saat bayi adalah putra Masyitah bint Firaun. Padahal bukan. Keislaman istri Firaun memang direkam Alquran, tetapi anaknya tidak ada yang muslim. Yang berbicara ketika bayi ialah anak lelaki dari salah satu tukang sisir putri Firaun, bukan anak Firaun itu sendiri. Masyitah bukan nama orang. Ia istilah bahasa Arab ‘masyitah’, tukang sisir.

Cerita tentang tukang sisir putri tersebut diabadikan dalam hadis Nabi saw riwayat Ibnu Abbas yang berkata bahwa Rasulullah besabda: “Saat malam Isra’ bersama Jibril, tercium olehku aroma harum. Aku bertanya, ‘Hai Jibril! Aroma apakah yang harum ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini aroma tukang sisir putri Firaun bersama anak-anaknya’.”

“Memang mereka kenapa?” tanya Nabi saw lagi kepada Jibril.

“Ketika ia sedang menyisir rambut putri Firaun, suatu hari, sisirnya jatuh. Ia segera berkata: ‘Dengan nama Allah’,” kata Jibril. Ia pun melanjutkan kisahnya.

Putri Firaun lalu bertanya, “Engkau punya tuhan lain selain ayahku?”

“Iya. Tuhanku dan tuhanmu adalah Allah,” jawab tukang sisir.

“Akan kulaporkan kau ke ayah.”

“Iya silakan.”

Sang putri melaporkan kejadian tersebut kepada Firaun. Ia kemudian meminta si tukang sisir menghadap.

“Engkau punya tuhan selainku?” tanya Firaun

“Iya. Tuhanku dan tuhanmu Allah.”

Firaun lantas memerintahkan agar menyediakan minyak goreng yang ditungku api, lalu melempar si tukang sisir beserta anak-anaknya ke didihan minyak gorengnya.

“Aku punya permintaan padamu,” kata tukang sisir kepada Firaun.

“Apa kebutuhanmu?”

“Aku berharap engkau akan menyatukan tulang-belulangku dan anak-anakku dalam satu pakaian lalu menguburkannya.”

Mereka pun dilempar satu persatu. Saat tiba giliran anaknya yang sedang digendong, si tukang sisir kelihatan ragu. Karena kasihan. Lalu saat itulah keajaiban terjadi.

“Ceburkanlah dirimu, jangan ragu. Sesungguhnya siksa dunia lebih hina daripada siksa akhirat!” sahut sang bayi yang sedang di ayunan. Maka tukang sisir tanpa ragu langsung menceburkan diri.

Nabi Isa ‘alayh al-salam

Maryam tengah hamil tua ketika penduduk sekitar mencelanya, lantaran hamil tanpa seorang suami. Olokan mereka Allah swt abadikan dalam surah Maryam [19]: 28. Mereka menuduh Maryam mencederai kehormatan keluarganya. Setelah lahir, Maryam membawa anak tersebut, namanya Isa, ke tengah penduduk. Mereka menanyakan perihal anak yang dilahirkannya,dan menuduh Maryam pezina. Tanpa bicara, ia hanya memberikan isyarat untuk bertanya langsung kepada anaknya.

“Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” kata para penduduk.

Maka seketika bayi Maryam berbicara. Ia mengaku hamba Allah yang dinubuatkan menjadi nabi bagi penduduk setempat. Para penduduk takjub. Belakangan, ketakjuban mereka kepada Isa berubah kebencian, lantaran dianggap mencederai kenabian Musa. Mereka adalah Yahudi, yang mengejar dan mengaku telah menyalib Isa. Sementara penduduk Nazaret mengkultuskannya, menjadikan penyalibannya sebagai penebusan dosa oleh seorang anak Tuhan. Kelak, mereka dikenal sebagai umat Nasrani, Kristen.

Bhindhara Saot

Tidak banyak yang tahu bahwa, kisah bayi-bayi luar biasa juga terjadi di Indonesia. Tepat di ujung timur Madura, lahirlah bayi yang diberi nama Muhammad Saot. Ia adalah putra Kiai Abdullah alias Raden Bhindhara Bungso, hasil perkawinannya dengan Nyai Nurima, keturunan Pangeran Natapraja. Guru Kiai Abdullah, Kiai Abdur Rahman alias Bhuju’ Raba, memerintahnya untuk membangun pesantren di Batu Ampar, dan menubuatkan kelak ia akan punya keturunan yang menguasai Sumenep tujuh turunan.

Keistimewaan Saot sudah tampak sejak dalam kandungan. Istilah ‘saot’ sendiri berasal dari bahasa Arab ‘shawt’ yang berarti suara, juga dari bahasa Madura ‘saot’ yang berarti menyahut, menjawab. Kisahnya bermula ketika Kiai Abdullah pulang larut dari menyebarkan imu agama. Ia mengetuk pintu rumah, memanggil salam, dan tak ada yang menjawab. Istrinya, Nyai Nurima, sedang salat tahajud.

Wa ‘alaykum salam wa rahmatullah. Mangkèn ghâllu, Aba. Ummi ghi’ ashalat (Wa ‘alaykum salam wa rahmatullah. Sebentar, Aba. Ummi masih salat),” sahut seseorang dari dalam rumah.

Kiai Abdullah yang menyadari belum punya putra, terheran. Setelah masuk, ia menayakan perihal keanehan tadi. Nyai Nurima pun menceritakan keajaiban anaknya yang mampu berbicara dari dalam kandungan. Bayinyalah yang menyahut, nyaot, dan menjawab salam juga panggilan Kiai Abdullah.

Muhammad Saot dikenal dengan sebutan ‘bhindhara’, sebutan untuk bangsawan dalam adat Madura. Bhindhara Saot nyantri kepada Kiai Faqih, dan menikah dengan Nyai Izzah. Belakangan ia juga menikahi R. Ayu Rasmana Tirtonegoro, ratu ke-30 (1750-1762) kabupaten Sumenep, berdasarkan isyarat sebuah mimpi, lalu menjadi Tumenggung Tirtonegoro.

Leave a Response