Berikut ini adalah kisah Fathima An-Nisabburiya, sufi perempuan yang memilih menikah. Fathima An-Nisabburiya adalah salah seorang keturunan raja di Iran. Hidup dalam lingkungan istana, tak membuatnya melupakan Tuhan. Ia adalah putri yang tidak suka hidup mewah dan foya-foya. Bahkan sebagian besar waktunya dihabiskan untuk berdzikir, membaca kitab suci Al-Qur’an dan ibadah-ibadah lainnya, baik wajib maupun sunnah.

Ali Abdullah dalam Kisah Hikmah Para Sufi dan Ulama Salaf menuliskan kisahnya. Suatu hari Fathimah An-Nisabburiya mengingkan untuk menunaikan salah satu ibadah sunnah. Sebagai umat Rasulullah Muhammad Saw, tentunya ia juga ingin menjalankan ajarannya, yakni menikah. Maka mulailah ia mencari salah seorang utusannya untuk pergi ke seseorang lelaki yang akan dijadikannya suami.

Pilihan Fathimah An-Nisabburiya jatuh pada seorang lelaki saleh nan alim. Diketahui, bahwa lelaki tersebut juga menjalani hidup sufi sama sepertinya. Oleh karena itu, Fathimah An-Nisabburiya merasa cocok apabila menikah dengan lelaki tersebut. Keduanya akan sama-sama saling memahami, begitu pikir Fathimah An-Nisabburiya. Sepertinya, sudah lama juga ia mengagumi lelaki tersebut yang diketahui bernama Syekh Ahmad.

“Aku ingin menikah dengannya, wahai  Fulan,” kata Fathimah An-Nisabburiya kepada utusannya. “Maukah Engkau menyampaikan maksudku ini kepada lelaki itu?” tanya Fathimah An-Nisabburiya kepada utusannya lagi.

“Tentu saja, aku akan menyampaikan apa yang kau maksud kepada lelaki tersebut, wahai Fathimah An-Nisabburiya,” jawab utusan itu dengan tegas.

Pergilah utusan Fathimah An-Nisabburiya untuk menemui lelaki pilihan Fathimah An-Nisabburiya, Syekh Ahmad. Sesampainya di tempat Syekh Ahmad, utusan tersebut segera menyampaikan pesan dari tuannya.

“Hamba datang menemui Tuan sebagai utusan dari Fathimah An-Nisabburiya,” Ujar utusan itu.

“Ada hal apa yang menyebabkan Engkau kemari. Adakah perkara yang harus diselesaikan, wahai Fulan?” tanya Syekh Ahmad.

“Benar, Tuan,”Jawab utusan itu.

Kemudian ia melanjutkan penjelasannya, “Sebagai umat Rasulullah, Tuan saya, Fathimah An-Nisabburiya hendak menjalankan sunnahnya yang mulia, yaitu menikah. Dengan niat yang baik serta tulus, Fathimah An-Nisabburiya mengutus hamba untuk menyampaikan tawaran dirinya sendiri untuk kau nikahi.”

Terkejutlah Syekh Ahmad mendengar ucapan utusan tersebut. Beliau diam sejenak sembari berpikir sebelum memberi jawaban.

“Atas dasar kebaikan Fathimah An-Nisabburiya yang ditawarkan kepadaku, sungguh aku merasa tersanjung dan merasa dihargai. Aku berterima kasih. Akan tetapi sampaikan permohonan maafku sebab aku belum bisa menyanggupi permohonannya tersebut,” jawab Syekh Ahmad kepada utusan itu.

Setelah mendengar jawaban tersebut, pulanglah utusan Fathimah An-Nisabburiya dengan tangan kosong. Tawaran Fathimah An-Nisabburiya ditolak oleh Syekh Ahmad, lelaki sufi yang disukainya. Bukannya mencari lelaki lain, Fathimah An-Nisabburiya justru tidak menyerah.

“Ia hanya menguji kesungguanku, wahai Fulan,” kata Fathimah An-Nisabburiya.

“Beliau tidak sungguh-sungguh dalam memberikan penolakan kepada Tuan, Wahai Fathima An-Nisabburiya,” utusan itu tampak setuju dengan pernyataan tuannya.

“Apakah Engkau berkenan untuk menyampaikan tawaranku lagi?” tanya Fathima An-Nisabburiya.

“Hamba akan menyampaikannya wahai Fathimah An-Nisabburiya,” jawab utusan tersebut.

“Kalau begitu, lima belas hari dari sekarang, sampaikan lagi permintaanku ini kepadanya!” ujar Fathimah An-Nisabburiya.

Lima belas hari kemudian, pada hari yang telah dituntukan, datanglah kembali utusan Fathimah An-Nisabburiya kepada Syekh Ahmad. Kedatangannya kali ini sama seperti kedatangan yang awal, yakni menyampaikan tawaran Fathimah An-Nisabburiya untuk dinikahi oleh Syekh Ahmad.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kali ini, kedatangan utusan tersebut tidak sia-sia. Syekh Ahmad berkenan menerima tawaran dari Fathimah An-Nisabburiya. Ia berfikir bahwa wanita shalihah yang mengajukan dirinya untuk dinikahi merupakan keseriusan untuk menapaki jalan sunnah Rasulullah.

Pulanglah utusan itu dengan hati berbungah. Segera ia sampaikan kabar baik tersebut kepada Fathimah An-Nisabburiya.

Pada hari yang telah ditentukan, menikahlah dua hamba Tuhan yang sama-sama menjalankan kehidupan zuhud, yakni Fathimah An-Nisabburiya dengan Syekh Ahmad. Sebagai seorang sufi, keduanya menjalankan kehidupan sebagai sepasang suami istri dengan tidak melupakan jalan spiritual. Keduanya bahkan terus mendekatkan diri kepada Allah.

 

Sumber:

Ali Abdullah. 2018. Kisah Hikmah Para Sufi dan Ulama Salaf. Yogyakarta: Qudsi Media.

 

Leave a Response