Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Auliya Allah Kutub Az-zaman Khalifah Rasulullah Panetep Panatagama Ing Tanah Sunda. Demikian adalah gelar yang disandang oleh Sunan Gunung Jati atau Syaikh Syarif Hidayatullah bin Maulana Sultan Muhammad Syarif Abdullah ketika dinobatkan menjadi Tumenggung oleh Pangeran Cakrabuana.

Sunan Gunung Jati adalah sosok wali yang selalu menarik untuk dibicarakan. Mengupas jalan hidup Sunan Gunung Jati merupakan refleksi bagi keyakinan dan pemahaman teologis terhadap Islam yang oleh sebagian kalangan sering kali direpresentasikan dengan kekerasan, wajah marah, anti budaya, puritan, dan arkaisme.

Jalan hidup Sunan Gunung Jati seolah menjadi antitesa yang hendak meneguhkan paradigma Islam inklusif bahwa keberagamaan yang benar mesti diartikulasikan dalam sikap lentur dan kosmopolit, serta kecermatan ngindung ka waktu mibapa ka jaman (Salahudin, 2017: 240).

Penobatan Sunan Gunung Jati oleh Pangeran Cakrabuana disinyalir merupakan pondasi awal terbentuknya tatanan baru di Pakuwon Caruban. Masyhur dan abadinya nama Sunan Gunung Jati di hati masyarakat Caruban dan Tatar Sunda disebabkan karena jasa-jasanya. Khususnya dalam proses Islamisasi dan pembentukan peradaban yang lebih maju.

Uniknya, meskipun Sunan Gunung Jati lahir di Makkah (1448 M), alih-alih merujuk kepada kultur Arab untuk membangun Caruban dengan konsep keislamannya, namun beliau justru lebih tertarik mengakulturasi budaya setempat (local wisdom) dengan doktrin teologis Islam yang dibawanya.

Kearifan lokal yang tertanam dalam palung kultural keyakinan masyarakat Caruban diasimilasi dengan semangat al-muhafadzotu ’ala al-qodim as-sholih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah, bijak menjaga kebaikan yang sudah eksis sejak lama dan menciptakan suatu hal baru yang lebih bajik.

Jika meminjam istilah Hodgson (1974), ada fenomena Islam yang dapat menyatu dengan budaya lokal yang ia sebut dengan istilah Islamicate atau budaya yang bercorak Islam. Istilah tersebut sesuai dengan apa yang beliau lakukan dalam mendakwahkan Islam di Caruban. Manifestasi Islam rahmatan li al-‘alamin terbangun dalam wujud Islam yang memiliki kesatuan dalam keberagamannya (unity in variety).

Dalam usahanya melakukan Islamisasi di wilayah Caruban dan Tatar Sunda, Gunung Jati  memainkan peran ganda. Di samping kedudukannya sebagai seorang ulama yang mendapat gelar Auliya Allah Kutub Az-zaman dan Panatagama (Wakil Tuhan), pun beliau memainkan peran sebagai seorang pemangku kekuasaan (raja) Caruban yang kharismatik dan mempunyai otoritas tradisional sekaligus legal formal-rasional.

Inilah satu hal yang membedakan beliau dengan para waliyullah lainnya, bahwa kiprahnya bukan hanya bergerak dalam bidang kultural-keagamaan, namun juga piawai memerankan dirinya sebagai tokoh politik-kekuasaan dengan pergerakannya yang artikulatif.

Pada masa kepemimpinannya (1479-1526), Cirebon tampil sebagai kekuatan super power yang diperhitungkan di Nusantara karena letak geografisnya yang strategis sebagai sentral pelabuhan yang menghubungkan Jawa Barat dengan Jawa Tengah, sekaligus jangkar tengah antara kebatinan Jawa dan mistisisme Sunda.

Mahrus, seorang peneliti manuskrip, mengatakan bahwa, “pada masa itu bidang politik, keagamaan, dan perdagangan maju dengan sangat pesat. Pada masa itu pula berlangsung penyebaran Islam ke Banten sekitar tahun 1525-1526 melalui penempatan putranya yang bernama Maulana Hasanudin.”

makam sunan gunung jati

(Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon Jawa Barat. Sumber: Republika.co.id)

Cirebon dan Banten lewat kepemimpinan Sunan Gunung Jati dan Maulana Hasanudin berhasil menjadi kota metropolitan yang masyhur. Hal itu ditandai dengan: pertama, pertumbuhan kehidupan masyarakat kota yang bernafaskan Islam dengan pola penyusunan masyarakat dan kompleksitas hierarki sosial.

Kedua, perkembangan bidang arsitektur, seperti masjid dan keraton. Ketiga, pesatnya pertumbuhan karya seni, seperti seni lukis, pahat, membatik. Keempat, pemikiran Islam muncul dan berkembang dengan sangat bergairah dalam manuskrip-manuskrip yang ditinggalkannya. Kelima, kemajuan pendidikan.

Hal tersebut dibuktikan dengan adanya tradisi pewayangan, muludan, pajang jimat, grebek sawal, sedekah bumi, dan lain sebagainya yang sangat terasa Islami sekaligus sundawi karena oleh beliau budaya Sunda (dan Jawa) dijadikan oksigen penghayatan keberislaman yang nyata. Berkembang juga di sana banyak pesantren dan madrasah bagi keberlangsungan pendidikan.

Perpaduan kekuatan kultural dan formal-struktural ini diasumsikan sebagai jawaban atas mengapa Islam dengan mudah tersebar di Tatar Sunda. Harmonisasi sayap budaya dan kuasa berjalan selaras dan damai.

Demikian karena hal tersebut ditopang dengan etika imperatif dari kewalian Sunan Gunung Jati—yang sesuai dengan kaidah fiqh “tashorrufu al-imam ‘ala ro’iyyati manuthun bi al-maslahah”—yang  kemudian membuatnya sukses mengelola publik dengan mengutamakan kemaslahatan dan mendengar aspirasi rakyat. Alhasil hukum berdiri tegak lurus dan terstruktur secara adil.

Sikap bijak Sunan Gunung Jati dalam kepemimpinannya selalu mengedepankan keamanan dan stabilitas masyarakat. Serta senantiasa berusaha mewujudkan bahwa “negara” hadir sebagai rumah teduh bagi semua kepentingan. Hal tersebut tampak jelas dalam beberapa petuahnya yang masyhur, yakni di antaranya:

”Aja nyindra janji mubarang (jangan mengingkari janji), angadahna ing perpadu (jauhi pertengkaran), singkirna sifat kenden wanci duweha sifat kang wanci (jauhi sifat yang tidak baik dan miliki sifat yang baik), aja ilok gawe bobat (jangan suka berbohong), ing panemu aja gawe tingkah (bila berilmu jangan sombong), ingsun titip tajug lan fakir miskin (saya titip masjid dan fakir miskin), dan lain-lain.” (Salahudin: 2017, h. 243).

Jalan hidup dan dakwah Sunan Gunung Jati adalah jalan religiositas yang luas dan lapang serta menampilkan Islam dengan “wajah sumringah nan tidak pongah, serta toleran tetapi tidak plin-plan.”, sekaligus sukses mengelola kekuasaan dengan mengedepankan maslahat bukan muslihat, pun bukan rute menikung keberagaman dengan paradigma eksklusif dan keras kepala.

Syahdan, sebetulnya Islam  merupakan agama yang mudah dan tidak pernah mempersulit penganutnya dengan bejibun doktrin-doktrin normatif yang saklek dan jumud sehingga menjauhi realitas kehidupan (al-waqi’iyah) yang penuh kebudayaan.

Islam harus kita pahami sebagai jalan besar yang Allah sediakan bagi kita untuk menuju kepada garis finish (wushul) di depan sana. Jangan sampai agama dianut (hanya) penuh semangat aksi namun miskin epistemologi, berisik dengan pengamalan tapi defisit penghayatan (Salahudin, 2017: 28).

Spirit dan prinsip Sunan Gunung Jati yang humanis dan mengedepankan harmonisasi antarelemen masyarakat perlu kita lanjutkan di mana pun kita berpijak. Karena bagaimanapun Nusantara ini adalah kapal besar yang dihuni oleh keberagaman budaya dan agama.

Tugas kita dalam hidup tidak sebatas hanya perihal melaksanakan doktrin-doktrin syariah mahdhoh, lebih dari itu bahwa mengibarkan bendera etika dan kemanusiaan universal lintas batas dan lintas sekat adalah tugas kita bersama.

“Ad-dinu hubbun wal-hubbu dinun, agama adalah cinta dan cinta adalah agama.” Demikian perkataan Imam Jakfar Ash-shadiq bin Muhammad Al-baqir bin Ali Zainal  Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib (Edi Iyubenu, 2019: 29).

 

Leave a Response