MERDEKA!

Demikian kata-kata penuh semangat membara yang diucapkan pahlawan-pahlawan kemerdekaan Indonesia kala itu; menggambarkan bahwa Indonesia telah terbebas dari jeratan ketidakadilan, ketundukan, siksaan, tekanan, dan penindasan bangsa lain.

Kini, puluhan tahun berlalu, Indonesia memang telah merdeka dari kedudukan dan kesewenangan kolonial. Namun, apa hakikat kemerdekaan sebenarnya? Bagaimana Alquran memberikan isyarat mengenai hal ini? Mari kita simak!

Berbicara mengenai kemerdekaan, maka kita akan menemukan akar kata ini (dalam bahasa Indonesia) ialah merdeka. Jika kita kaitkan dengan lafadz bahasa Arab, Alquran sendiri menyebutkan kata dasar ‘merdeka’ ini dengan lafadz harrara/ tahrir yang seakar kata dengan lafadz muharraran (Qs. Ali Imran/3:35), al-Hurru/i (al-Baqarah/2: 178), al-Harr (Qs. at-Taubah/9: 81 dan an-Nahl/16: 81), al-harur (Qs. Fathir/35: 21), haririn (al-Hajj/22: 23 dan Qs. Fathir/35: 33) terakhir ialah hariran (Qs. al-Insan/76: 12).

Kata tahrir sendiri disebutkan sebanyak lima kali dalam Alquran. Tiga kali dalam surah yang sama yakni Qs. an-Nisa/4: 92, sekali dalam surah al-Ma’idah/5: 89 dan sekali dalam surah al-Mujadalah/58: 3. Kelima kata tahrir di atas memberikan tuntunan dalam pembebasan/ upaya memerdekakan seorang budak dalam konteks pembunuhan. Dalam Qs. an-Nisa/4: 92 misalnya.

Ayat ini memberikan tuntunan mengenai pembunuhan yang tersalah (tidak sengaja) maka hukumannya ialah wajib memerdekakan seorang budak yang beriman dan menyerahkan diyat (ganti rugi berupa uang) kepada keluarga terbunuh. Ketentuan untuk memerdekakan seorang budak ini sedemikian kuat dan sangat diwajibkan Alquran, terlihat dalam penghujung ayat yang menyatakan, “jika si pembunuh tidak memeroleh budak beriman untuk dimerdekakan, maka ia wajib berpuasa dua bulan berturut-turut” sebagai bukti bahwa ia benar-benar bertaubat kepada Allah.

Kembali kepada maksud lafadz tahrir, memerdekakan seorang budak berarti melepaskan seseorang dari segala macam bentuk penghambaan, kesewenangan, penyiksaan, dan penindasan orang lain. Merdeka juga sebenarnya penolakan/ keengganan menghamba atau tunduk pada orang lain hanya karena mereka (dianggap) lebih kuat, lebih kaya, lebih mulia, dan lebih berkuasa.

Alquran, ratusan ribu tahun lalu sebenarnya sudah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan ini; misalnya dalam surah al-Isra/17: 70 yang menyatakan bahwa bani Adam (manusia) seluruhnya—tanpa terkecuali adalah mulia. Bentuk kemuliaan ini adalah dengan memberikan banyak keutamaan dalam diri mereka salah satunya ialah potensi berpikir. Tak hanya kemampuan berpikirnya, Allah juga mengaruniakan nikmatnya yang melimpah berupa rezeki dari daratan maupun lautan.

Kata karramnâ dalam Qs. al-Isra/17: 70 di atas terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf kâf, râ, mîm yang mengandung makna kemuliaan atau keistimewaan sesuai objeknya (bani Adam). Selain karramnâ, ada lafadz yang juga disebut dalam ayat di atas yaitu fadhdhalnâ yang berasal dari akar kata fadhdhala (mulia). Quraish Shihab memaparkan, terdapat perbedaan antara fadhdhalnâ dan karramnâ.

Kata fadhdhalnâ pertama terambil dari kata fadhl yaitu kelebihan dan ini mengacu kepada penambahan dari apa yang sebelumnya telah dimiliki secara sama oleh orang lain. Adapun yang kedua, karramnâ anugerah berupa keistimewaan yang sifatnya internal.

Dalam konteks ayat ini, manusia dianugerahi Allah yang tidak dianugerahkan kepada selain-Nya dan itulah yang menjadikan manusia mulia serta harus dihormati dalam kedudukannya sebagai manusia. Anugerah-Nya itu untuk semua manusia dan lahir bersama kelahirannya sebagai manusia tanpa membedakan seseorang dengan yang lain.

Alquran surah al-Isra/17: 70 juga menjadi dasar yang kuat bahwa Islam sesungguhnya tidak menghendaki penindasan dan perbudakan yang terjadi di Jazirah Arab (dan beberapa penjuru dunia) kala itu. Memerdekakan budak (tahrir ar-raqabah) dalam konteks Jahiliyah dulu adalah memberikan kedaulatan hidup untuk orang lain. Sebab, perbudakan— atas nama apa pun harus terhapuskan karena melanggar nilai-nilai kemanusiaan.

Penghapusan perbudakan ini betul-betul menjadi upaya revolutif Alquran agar manusia tidak menghamba kepada manusia lainnya. Sebaliknya pula, manusia tidak dikehendaki untuk merasa lebih besar, lebih kuat, dan lebih berkuasa sehingga bebas menindas sesamanya. Dasar-dasar Alquran juga jelas menyatakan bahwa seluruh manusia adalah sama dan lemah di hadapan Tuhan.

Ketaqwaan pada Tuhanlah yang membedakan mereka (Qs. Mujadalah/58: 13). Dengan demikian, Alquran telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan setiap manusia. Kemerdekaan dalam perspektif Alquran ialah menghendaki setiap manusia bisa hidup dalam kemerdekaan dan saling menjaga hak-hak (kehidupan) orang lain.

Leave a Response