KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) dalam suatu majelis ngaji kitab bersama para santri menerangkan tentang sifat manusiawinya Nabi Muhammad dan peristiwa ketika beliau lupa tentang beberapa hal.

Berikut keterangan dari Gus Baha.

Orang Islam (Sahabat Nabi) pernah berkali-kali menyaksikan Nabi Muhammad lupa. Suatu ketika Nabi pernah shalat Dhuhur 2 rakaat terus beranjak pulang.

Para Sahabat saat itu tidak ada yang berubah imannya: “Gimana sih, Nabi kok bisa lupa?! Diikuti serius kok malah lupa!”

Ketika sudah tidak ada yang berani menegur Nabi, seorang Sahabat yang bernama Zulyadain lalu memberanikan diri bertanya kepada beliau yang sudah berada di pintu keluar masjid.

“Ya Rasulallah, ini shalat model baru atau memang Anda lupa?”

Kalau model baru artinya shalat Dhuhur besok sudah mulai dua rakaat. Karena, teori nasakh mansukh itu mengambil hukum yang paling akhir.

Kata Nabi, “Ah, masak?!”

Kemudian Nabi kembali tempat imam dan menghadap Sahabat yang hadir ikut shalat berjamaah.

“Apakah benar yang dikatakan Zulyadain?”

“Betul, Rasulullah. Tadi Anda shalat Dhuhur hanya dua rakaat,” kata Sahabat.

Nabi tetap tenang saja, kemudian takbir lagi dan menambah dua rakaaat, terus salam.

Berangkat dari cerita dalam hadis ini, orang Fikih jadi bingung dan saling bantah-bantahan juga.

Tapi tidak masalah. Dari dulu umat Islam mensifati Nabi dengan al-a’radh al-basyariyah (sifat manusiawi). Artinya, Nabi itu tidak apa-apa lupa, karena bukan Allah. Yang tidak boleh lupa itu Allah (وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا).

Jadi, ilmu seperti ini perlu dipahami. Hal ini karena Nabi itu itu juga menikah, dan bisa lupa juga.

Makanya, Nabi bersabda: “Aku ini tidak pernah lupa, tapi diberi lupa agar menjadi Sunnah.”

Nabi Muhammad kadang lucu juga. Suatu pagi beliau bertanya kepada Aisyah:

“Ya Aisyah, ada sarapan?”

“Tidak ada.”

“Ya sudah, aku puasa saja.”

Masih dalam keadaan puasa, sekitar jam 10 bertanya lagi kepada Aisyah:

“Ya Aisyah, ada sarapan?”

“Ada.”

“Ya sudah aku makan saja (tidak puasa).”

Atas peristiwa ini, bisa saja ada orang Khawarij yang bilang, “Nabi kok tidak konsisten!”

Orang Khawarij itu semakin khusuk justru semakin bodoh. Mereka membayangkan Nabi itu dibayangkan seperti pikirannya: harus selalu shalat Qabliyah dan Bakdiyah. Kalau tidak mereka kecewa.

Yang shalat sunnah biarkan shalat, yang tidak ya silahkan. Wong ini kan hukumnya sunnah.

Orang alim itu shalat sunnah Qabliyah/bakdiyah kadang-kadang saja. Kalau shalat sunnah terus nanti orang kafir tidak mau masuk Islam. Karena, lihat shalatnya saja mereka sudah ‘meriang’.

Misalnya, semua orang Muslim sedunia melakukan shalat Qabliyah dan Bakdiyah Dhuhur (8 rakaat), Qabliyah Ashar (2 rakaat), shalat Awwabin (antara Maghrib dan Isya), Witir (13 rakaat), Qabliyah Subuh (2 rakaat), maka orang kafir tidak jadi masuk Islam karena melihat shalatnya banyak sekali.

Tapi, berkahnya umat Islam hanya dibebani shalat fardhu saja, sehingga orang kafir berpikir, “Ternyata Islam itu ringan.”

Islam di kota-kota (luar negeri) misalnya di Turki, banyak yang masuk Islam karena melihat praktik Islam itu mudah.

Bayangkan jika semua umat Muslim membaca wirid setelah habis shalat Dhuhur, langsung disambung shalat Ashar lalu wiridan lagi sampai Maghrib, lalu wiridan lagi sampai Isya.

Yang pengen masuk Islam langsung tidak jadi (mengurungkan niat), karena melihat banyaknya ibadah jadi meriang tidak bisa ngapa-ngapain.

Makanya, kata Imam Syafi’i, “Jika ada ibadah sunnah yang ingin kalian lakukan, maka lakukan saja. Namun, jika yang melakukan sudah banyak maka tidak usah ikut-ikutan. Kalau sudah tidak ada yang melakukan sunnah tadi, maka kalian lakukan.” (M. Zidni Nafi’)

Leave a Response