Setiap mazhab dalam Islam mempunyai definisi atau pengertian tentang puasa. Salah satunya adalah puasa menurut Mazhab Syafi’i. Abu Yahya Zakariya Muhyiddin atau yang sering disebut Imam Nawawi merupakan salah seorang ulama besar mazhab Syafi’i. Ia dilahirkan di daerah Nawa, dekat kota Damaskus, Syria pada tahun 631 H dan wafat pada tahun 24 Rajab 676 H.

Dalam kitab Al-Majmu’ (jilid 6, hal. 247), Imam Nawawi tentang puasa menurut bahasa dan istilah sebagai berikut:

الصِّيَامِ فِي اللُّغَةِ الْإِمْسَاكُ وَيُسْتَعْمَلُ فِي كُلِّ إمْسَاكٍ يُقَالُ صَامَ إذَا سَكَتَ وَصَامَتْ الْخَيْلُ وَقَفَتْ وَفِى الشَّرْعِ اِمْسَاكُ مَخْصُوْصٍ عَنْ شَيْئٍ مَخْصُوْصٍ في زَمَنٍ مَخْصُوصٍ مِنْ شَخْصٍ مَخْصُوصٍ

Artinya:

Puasa (الصِّيَامِ) secara bahasa artinya menahan diri (الْإِمْسَاكُ). Setiap bentuk menahan diri dan diam disebut Puasa. Secara pandangan Syariat (istilah), puasa adalah menahan diri dari hal-hal tertentu (yang membatalkan puasa), di masa tertentu (misal: Ramadhan) dan orang tertentu.”

Adapun Imam Ahmad bin Husein al-Syahir Abi Syuja’ dalam Kitab Fathul Qorib menjelas pengertian puasa menurut bahasa dan istilah sebagai berikut:

وَهُوَ وَالصَّوَمُ مَصْدَرَانِ مَعْنَا هُمَا لُغَةً أَلْاِمْسَاكُ وَشَرْعًا إِمْسَاكُ عَنْ مُفْطِرٍ بِنِيَّةٍ مَخْصُوْصَةٍ جَمِيْعَ نَهَارٍ قَابِلٍ لِلصَّوْمِ مِنْ مُسْلِمٍ عَاقِلٍ طَاهِرٍ مِنْ حَيْضٍ وَنِفَاسٍ

Artinya:

Puasa secara bahasa (etimologi) yaitu menahan dari. Adapun puasa secara Syara’ (istilah/terminologi) yakni menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa, disertai dengan niat yang telah ditentukan, sepanjang siang hari yang sah dilakukan puasa dari seorang muslim, yang mempunyai akal, yang suci dari haid dan nifas.

Leave a Response