Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati terletak di Jl. Kenanga II Dk. Sidorejo RT. 03 RW.12 Bangsri – Jepara, Jawa Tengah. Berikut profil lengkapnya.

Berdirinya Darul Falah secara tidak resmi telah berdiri semenjak kepulangan K.H. Taufiqul Hakim dari PonPes Maslakul Huda, Kajen-Margoyoso, Pati tahun 1996. Bersamaan kepulangannya dari Kajen, ada 4 teman beliau yang ikut ke Bangsri dengan tujuan kerja di sebuah toko mebel.

Ternyata beberapa teman beliau yang ikut ke Bangsri termasuk orang yang hafal Alfiyyah, tetapi tidak tahu untuk apa Alfiyyah? Kemudian mulailah proses pembelajaran oleh beliau sendiri dengan menerapkan contoh apapun yang ditunjukkan dasarnya hingga terkumpul 150 bait intisari Alfiyyah.

Teman-teman beliau yang ikut mengaji di antaranya adalah Kang Saifuddin dari Jepat Lor; Kang Mahmuddin dari Ngagel; Saiful Ulum dari Bulu Manis; dan Zainal Abidin dari Tenggales, Kudus. Setengah tahun kemudian ada keponakan beliau bernama Shodiqin dan Nur dari Bondo, Jepara yang kemudian ikut mondok.

Karena pada saat itu, beliau belum memiliki rumah yang layak huni dan keadaan ekonomi yang belum memungkinkan, beliau meminjam rumah Pak Imron yang berada tepat di depan rumahnya untuk mengaji.

Kemudian bersama dengan enam orang tersebut, beliau mendirikan majelis ta’lim anak-anak yang saat itu hampir mencapai 100 anak. Seiring berjalannya waktu, karena merasa sungkan, beliau mendirikan gubuk kecil di samping rumah, tempatnya pun tidak layak karena banyak kecoak, nyamuk, dan atap yang bocor.

Berangkat ke Popongan, Klaten

Merasa kurang dengan keilmuan yang dimiliki, K.H. Taufiqul Hakim berguru thoriqoh ke Pondok Pesantren Al-Manshur, Popongan, Klaten di bawah asuhan K.H. Salman Dahlawi. Satu minggu kemudian ayahanda beliau wafat, namun beliau tidak bisa mengantarkan ke pemakamannya karena harus menyelesaikan ngaji thoriqoh.

Di samping itu, jika pulang sudah tidak ada angkutan dan biaya. Sejak saat itu beliau bertekad tidak akan pulang. Selain mempelajari thoriqoh, beliau juga membantu pembangunan Pesantren Al-Manshur sebagai laden (pembantu tukang batu) tanpa menerima upah. Selama 100 hari, beliau mengkhatamkan thoriqoh yang mestinya harus ditempuh sekitar 5 tahun.

Kepulangan K.H. Taufiqul Hakim ke Bangsri

Setelah khatam thoriqoh, K.H. Taufiqul Hakim pun pulang ke Bangsri. Suatu hal yang menyedihkan adalah majelis ta’lim yang beliau rintis bersama 4 orang teman beliau telah bubar, anak-anak yang mondok telah boyong, hanya Shodiqin lah yang kembali. Dan pada suatu hari, ada salah satu tetangga beliau yang pingsan dan tak sadarkan diri.

Setelah beliau bacakan ayat kursi, Alhamdulillah dengan izin Allah orang tersebut bisa sembuh. Berawal dari situ, nama beliau mulai dikenal oleh masyarakat setempat. Anak-anak pun mulai berdatangan untuk belajar agama kepada beliau.

Pembangunan Awal Pesantren

Pada tengah malam, tepatnya jam 01.00 WIB., demi meningkatkan kenyamanan santri ketika belajar, beliau bersama para santri membongkar rumah beliau dan selesai ketika waktu subuh tiba. Warga sekitar pun memberikan tanggapan negatif dengan pertanyaan “mau tidur di mana nanti”. Dengan penuh kesabaran dan ketabahan beliau kembali membangun gubuk-gubuk kecil sambil memperbaiki rumah.

Terciptanya Amtsilati

Sampai tahun 2000, proses belajar-mengajar menggunakan metode menulis bait-bait Alfiyyah di papan tulis. Selanjutnya dibaca dan dipelajari bersama murid. Pada tahun yang sama, ada anak-anak putri yang bersekolah di MTs ikut mondok di tempat beliau.

Santri selalu stabil 9 orang, bila ada yang masuk, ada yang keluar. Ternyata dari anak-anak kecil tadi ada yang bisa menerima, ada yang tidak bisa menerima, karena memang sama sekali tidak mengenal ilmu nahwu.

Suatu hari K.H. Taufiqul Hakim mendengar ada sistem belajar cepat membaca Al-Qur’an, dan beliau menemukan kitabnya yaitu Qiro’ati. Terdorong dari metode Qiro’ati yang mengupas cara membaca yang ada harokatnya, beliau ingin menulis yang tidak ada harokatnya.

“ Orang mendengar ilmu nahwu jadi ngelu dan alergi. Orang mendengar ilmu shorof menegangkan syaraf.”

Terbentuklah nama AMTSILATI yang memiliki arti beberapa contoh dari saya, juga sesuai dengan akhiran “ti’ dari Qiro’ati. Beliau mulai merenung dan muncul pemikiran untuk mujahadah, di mana dalam thoriqoh ada do’a khusus yang jika seseorang secara ikhlas melaksanakannya, insya Allah akan diberi jalan keluar dari masalah apapun oleh Allah dalam jangka waktu kurang dari 4 hari.

Peresmian Pondok Pesantren

Secara resmi, Pondok Pesantren Darul Falah didaftarkan ke Notaris (Bapak H. Zainurrohman, SH. Jepara) dengan nomor seri 02 pada tanggal 01 Mei 2002.

Santri Darul Falah berasal dari berbagai daerah di penjuru tanah air, di antaranya daerah Bali, Madura, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jabodetabek, Banten, Bawean, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Dengan berkembangnya sistem pembelajaran mulai dari Amtsilati hingga Madin Pasca Amtsilati, Santri yang menempuh pendidikan di Pondok Pesantren ini berjumlah kisaran 3000 Santri.

K.H. Taufiqul Hakim lahir di Jepara, 07 Juni 1975 dari pasangan suami-istri yang bernama (Alm.) H. Supar dan (Alm.) Hj. Aminah. Keduanya berprofesi sebagai petani dan penjual minyak klentik. Beliau adalah putra terakhir dari 7 bersaudara.

Riwayat pendidikan beliau dimulai dari TK Lestari Bangsri, setelah itu melanjutkan ke jenjang Sekolah Dasar 3/7 Bangsri dan MTS Wahid Hasyim Bangsri, sembari belajar membaca Al-Aur’an kepada Kyai Kholil Bangsri.

Sedangkan untuk pendidikan keagamaan, beliau memulainya di PIM (Perguruan Islam Matholi’ul Falah) Kajen, dibawah asuhan KH. Abdullah Salam dan KH. M. A. Sahal Mahfudz. Keinginan beliau ingin belajar di Pesantren tertanam semenjak beliau duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 5, saat ada pengajian yang di sampaikan oleh KH. Masruri (Kakak Bupati Bpk. KH. Marzuqi ).

Karena KH. Masruri alumnus PIM Kajen, beliau betekad untuk belajar di sana. Tidak cukup dengan pendidikan sya’riat saja, beliau juga mendalami dan menyelami Thoriqoh An-Naqsyabandiyyah Kholidiyyah dibawa asuhan langsung KH. Salman Dahlawi. Dan berhasil menempuh dengan tempo waktu 100 hari, yang mana normalnya harus ditempuh dalam kurun waktu 5 sampai 10 tahun.

Setelah beliau menyelesaikan seluruh pendidikannya, beliau pun menikah pada tahun 1997 dengan Hj. Faizatul Mahsunah Al-Hafidzoh. Pernikahan ini melahirkan putra-putri, yaitu: H. Muhammad Rizqi Al-Mubarok (1998), Akmila Azka Ni’mah (2006), dan Muhammad Dzikri Ar- Rohman (2010).

Putra pertama beliau menyelesaikan hafalan Al-Qur’an pada usia 10 tahun, putri beliau juga menyelesaikan hafalan Al-Qur’an pada usia 9 tahun, sedangkan putra yang terakhir baru menyelesaikan hafalan 10 juz pada usia 8 tahun.

Visi:

Mewujudkan Pondok Pesantren Darul Falah sebagai salah satu Pusat Pendidikan dan Pelatihan yang mampu menghasilkan santri yang berakhlakul karimah dan berketaqwaan tinggi, berkeimanan tebal. menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendapatkan kesuksesan dunia dan akhirat serta ridlo Allah SWT.

Misi:

Tujuan:

Formal

Non Formal

1. Amtsilati

Amtsilati adalah metode cepat membaca kitab kuning yang ada di Pondok Pesantren Darul Falah. Dimana para Santri diajarkan dan dibimbing dengan intensif oleh asatidz agar bisa mengkhatamkan Amtsilati dalam kurun waktu 3 sampai 6 bulan atau bisa lebih cepat dengan berbasis sistem kompetisi ( perlombaan ) dan kompetensi (kemampuan). Dalam seminggu, Santri diberikan kesempatan untuk mendaftar tes sesuai kemampuan masing-masing Santri.

Materi yang diajarkan di Amtsilati adalah kitab Qoidati dan Khulashoti karya KH. Taufiqul hakim yang diambil dari intisari kitab Alfiyyah Ibnu Malik karangan Syekh Jamaluddin Muhammad bin Abdullah bin Malik sebanyak 182 bait sebagai materi pokok dari pembelajaran amtsilati. Tak hanya itu, Amtsilati terdiri dari 5 jilid beserta pembahasan dan pemahaman sebagai penunjang kitab Khulasoti.

2. Fan Tasawwuf

Pada jenjang ini para Santri akan diajarkan bagaimana berfikir cerdas, berhati ikhlas dan berakhlak mulia, baik dalam kegiatan keseharian maupun pelajaran yang diterima.

Materi atau kitab yang dipelajari dalam fan Tasawwuf ini yaitu kitab Hidayatul Ashfiya’ karangan KH. Taufiqul Hakim yang di ambil dari intisari kitab ulama salaf yaitu kitab Kifayatul Atqiya Wa Minhaj Al-Ashfiya’ karangan Sayyid Bahari Al-Makki bin Sayyid Muhammad Syatho Ad-Dimyati.

Tidak hanya itu pada fan ini, Santri mengkaji beberapa kitab karya Pengasuh yaitu Al-Jannah, An-Nar, Makarimul Akhlaq, Uswatun Hasanah, Al – Wasiat, Safinatun Najah, doa keseharian dan juga Juz ‘Amma.

3. Fan Bahasa

Fan Bahasa merupakan program lanjutan dari program Tasawwuf di mana para Santri diajak untuk meningkatkan kemampuan dalam berbahasa dan berkomunikasi menggunakan bahasa asing khususnya bahasa Inggris dan Arabiyyah. Mengingat pentingnya kedua bahasa ini dalam era millenial, yang juga menjadi jembatan penting dalam dunia dakwah saat ini.

4. Madin Pasca Amtsilati

Asrama ini biasa disebut dengan asrama Pasca, yang menjadi asrama/jenjang selanjutnya bagi santri yang sudah menyelesaikan kelas bahasa. Pada jenjang ini kitab Fathul Muin karya Syaikh Zainudin Al-Malibari menjadi pegangan para santri dibidang fiqih.

Begitu juga kitab Alfiyah Ibnu Malik dalam bidang Nahwu, dibidang hadits para santri akan menghapal Hadits Arbain, untuk bidang tafsir sendiri menggunakan kitab tafsir Al-Mubarok karya pengasuh, Untuk Balaghoh kami mengkaji kitab Jauhar Al-Maknun, dan berbagai kitab karya ulamaulama yang lainnya.

5. Takhossus Pasca Amtsilati

6. Takhossus Pasca Amtsilati, atau biasa disebut Asrama Takhossus adalah Asrama lanjutan bagi santri tingkat MA/SMA yang sudah menyelesaikan program Amtsilati.

Asrama ini diperuntukkan oleh santri yang memasuki usia SMA, yang mana biasanya santri yang sudah usia SMA ini akan lebih cepat boyong/keluar dri pondok pesantren dan melanjutkan study ke tempat lain, untuk itu pengasuh memberikan kebijakan agar dibuatnya program/asrama ini, yang menggunakan sistem pembelajaran hampir sama dengan Pasca Amtsilati yang dapat ditempuh dalam kurun waktu 2 tahun.

Kitab yang dikaji di jenjang ini hampir sma dengan yang ada di pasca, bedanya di Takhossus hanya terdapat kelas Tasawwuf, Muhadatsati (bahasa arab), Thoharoh, Ubudiyah Jadid, Ubudiyah Qodim, Munakahat, Basecamp dan Dakwah.

7. Tahfidzul Qur’an Az Zahro Putri

8. Tahfidzul Qur’an Az Zahro Putra

Pondok Pesantren Darul Falah memiliki beberapa sarana dan prasarana yang bisa dibilang sudah mulai berkembang bagi Pondok Pesantren yang masih berusia 19 tahun. Pondok Pesantren Darul Falah masih dalam tahap pembangunan dan masih banyak yang perlu dilakukan demi tercapainya kenyamanan dalam menjalankan aktifitas keseharian Pondok Pesantren. Berikut fasilitas sarana dan prasarana yang dimiliki Pondok Pesantren Darul Falah :

Demikian profil Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati Jepara. Semoga bermanfaat. (AL)

 

Sumber: https://amtsilatipusat.net/

Leave a Response