Santri, Inspirasi Menghadapi Pandemi- Lima tahun lalu, melalui Kepres Nomor 22 Tahun 2015, Presiden Joko Widodo menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional (HSN). Tanggal dipilih berdasarkan momentum Resolusi Jihad yang digemakan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 saat masa perang mempertahankan kemerdekaan. HSN menjadi bentuk penghargaan atas jasa para kiai dan kaum pesantren dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan sekaligus sumbangsih pesantren selama ini dalam pembangunan bangsa.

Setiap tahun, Hari Santri Nasional (HSN) mengangkat tema yang berbeda-beda. Pada tahun 2016, HSN mengusung tema “Dari Pesantren Untuk Indonesia”. Pada tahun 2017, HSN mengangkat tema “Wajah Pesantren Wajah Indonesia. Kemudian pada tahun 2018 bertema ”Bersama Santri Damailah Negeri”. Adapun pada tahun 2019, HSN bertema “Santri Indonesia Untuk Perdamaian Dunia”.

Kemudian, untuk tahun 2020 ini, secara khusus HSN mengangkat tema “Santri Sehat Indonesia Kuat”. Menurut keterangan Dirjen Pendis Kemenag Muhammad Ali Ramdhani dalam Republika.co, isu kesehatan tersebut diangkat berdasarkan fakta bahwa dunia saat ini. Tanpa terkecuali di Indonesia, tengah dilanda pandemi Covid-19. Pengangkatan isu kesehatan dalam HSN bisa dipahami sebagai upaya menjadikan pesantren sebagai contoh positif penanganan pandemi.

Pesantren sebagai tempat santri berkumpul memang berisiko tinggi menjadi tempat menyebarnya Covid-19. Namun, menurut Ali Ramdhani, ada pengalaman dari beberapa pesantren yang telah terbukti berhasil melakukan upaya-upaya pencegahan, pengendalian, dan penanganan dampak pandemi Covid-19. Kedisiplinan, kepatuhan, dan teladan dari kiai di pesantren dianggap menjadi modal penting yang mendukung upaya-upaya penanganan Covid-19 .

Misalnya, Ponpes yang mendapat banyak sorotan adalah Ponpes Darunnajah Jakarta. Dalam KOMPAS diinformasikan bahwa selama 7 bulan pandemi, ponpes ini hanya melaporkan satu kasus santri terinveksi Covid-19. Ketika ditemukan ada satu kasus positif, ponpes langsung mengambil langkah cepat dengan melakukan tes seluruh penghuni pesantren.

Berbagai strategi utama penanganan Covid-19 di Ponpes Darunnajah adalah: pembatasan orang keluar masuk (One Gate System), budaya menjaga kebersihan di seluruh lingkungan ponpes, disiplin menerapkan protokol kesehatan, rajin olahraga, setiap santri melakukan isolasi mandiri sebelum bergabung dengan santri lain, hingga menerapkan dua pembelajaran, baik daring maupun luring.

Keberhasilan pesantren terbebas dari klaster Covid-19 bisa menjadi contoh atau role model untuk tempat-tempat publik lainnya. Seperti diungkapkan Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Dr. Sonny Harry D. Harmadi, bahwa pesantren diharapkan bisa menjadi ujung tombak di masyarakat dalam mensosialisasikan perubahan perilaku guna menekan virus corona.

Sebab, pesantren adalah tempat para cendekiawan yang menjadi tuntunan di masyarakat,  sehingga berperan strategis dalam edukasi dan sosialisasi penghadapi pandemi ini (covid19.go.id).

Anti penyakit

Di luar berbagai strategi menangani pandemi di pesantren tersebut, pada dasarnya santri memang memiliki berbagai karakter positif yang bisa menghindarkan mereka dari berbagai penyakit dan masalah kesehatan. Irsyad Roqiyul Azmi dalam tulisannya Santri Healing: Proyeksi Generasi Sehat Psikis dan Fisik (2016) menyebutkan nilai-nilai kehidupan santri yang dapat mencegah potensi penyakit, yang selanjutnya disebut pola hidup sehat psikis dan fisik yang dinamai dengan Santri Healing.

Pertama, “kebersyukuran santri” yakni tentang bagaimana santri selalu diajari untuk hidup sederhana dan bersyukur di tengah kondisi apa pun selama mondok. Kebesaran hati dan rasa syukur ini dapat menghindarkan santri dari sikap cemas dan panik. Cemas dan panik adalah sikap yang dapat menimbulkan berbagai penyakit, seperti maag, radang tenggorokan, hingga kanker tenggorokan.

Kedua, “kebaikan hati santri”, yaitu tentang suasana guyup dan rukun hingga tradisi bercanda ria yang tercipta antarsesama santri. Susana penuh canda ini ampuh membuat santri tidak mudah marah dan tersinggung. Sikap marah berpotensi tinggi membuat stress karena urat-urat menjadi tegang dan berisiko mengidap penyakit jantung koroner.

Ketiga, “kesantunan santri”, yakni tentang kerendahhatian santri dalam bersikap, menghindarkan santri dari sikap sombong. Sikap sombong berpotensi membuat orang mengalami depresi serta penyakit jantung dan hipertensi.

Keempat, “kepatuhan santri” berupa kesungguhan menjaga sanad keilmuan dan kebiasaan ta’aluq ruhiyah, membuat santri terus berusaha dalam belajar karena yakin dan percaya adanya barokah yang didapat dari kepatuhannya. Kesungguhan dan kepercayaan ini menghindarkan santri dari sikap putus asa. Sikap putus asa membuat orang berisiko terkena serangan jantung, diabetes, dan stroke.

Kelima, “kemandirian santri”. Kita tahu kehidupan di pesantren membuat santri terampil di banyak bidang: mulai bersih-bersih, merapikan tempat dan benda, memasak, mencuci, menjadi sopir kiai, menjaga koperasi pondok, hingga membetulkan saluran air dan listrik dan sebagainya. Semua itu mengasah kepekaan dan kepedulian santri terhadap lingkungannya. Peduli sesama akan membuat aktivitas otak menjadi positif, sehingga menunjang kesehatan mental santri.

Kita sadar bahwa santri memiliki keikhlasan, kesungguhan, kedisiplinan, hingga berbagai karakter dan nilai yang bisa menunjang kesehatan secara mental maupun fisik. Di momentum Hari Santri Nasional 2020 ini, kita berharap karakter-karakter positif tersebut bisa terus dijaga dan diperkuat.

Sehingga bisa menjadi motivasi dan inspirasi bagi kita semua dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan yang ada, terutama dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang masih melanda saat ini. Selamat Hari Santri Nasional. Santri sehat, Indonesia kuat!

Leave a Response