Please assign a menu to the primary menu location under menu

Pada masa pandemi covid-19, muncul ini sebuah kebiasaan baru yang harus diterapkan oleh setiap orang, termasuk keluarga. Peran orang tua diharapkan hadir sebagai penopang keluarga yang tangguh dan cerdas. Anak yang berada di bangku Sekolah Dasar belum memiliki kemandirian dalam belajar. Hal ini menjadikan stressor baru di Pandemi, dikarenakan orang tua harus mendampingi anak belajar di rumah.

Tulisan ini membahas lebih dalam mengenai pentingnya keluarga sebagai support system bagi anak dan strategi mendidik anak saat belajar  di era pandemi.

Keluarga menjadi tempat untuk berlabuh untuk melepas lelah dan keluh-kesah berupa kesedihan, kekesalan, kekecewaan hingga kebahagiaan. Bahkan keluarga akan selalu mendengarkan setiap cerita dan memberikan motivasi terbaik, sehingga rasa percaya diri pun akan kembali muncul dari keterpurukan.

Ada tujuh fungsi keluarga, di antaranya adalah:

Keluarga yang harmonis atau ideal adalah keluarga yang seimbang. Keharmonisan keluarga yang ditandai terdapat hubungan yang baik antar ayah dengan ibu, ayah dengan anak, serta ibu dengan anak.

Ada beberapa aspek dalam keharmonisan suatu keluarga, di antaranya: pertama, komitmen. Keluarga yang harmonis memiliki komitmen saling menjaga dan meluangkan waktu untuk keluarga demi kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga.

Kedua, apresiasi dan kasih sayang (Apresiasi dan Afeksi). Keluarga yang harmonis mempunyai kepedulian antar anggota keluarga, saling menghargai sikap dan pendapat anggota keluarga, memahami pribadi masing-masing anggota keluarga dan mengungkapkan rasa cinta secara terbuka.

Ketiga, komunikasi positif . Keluarga yang harmonis yang diidentifikasi sering masalah dan mencari jalan keluar dari masalah dengan cara mengkomunikasikan secara bersama-sama.

Keempat, mempunyai waktu bersama. Keluarga yang harmonis selalu memiliki waktu untuk bersama, seperti: berkumpul bersama, makan bersama, mengontrol anak bermain dan mendengarkan masalah dan keluhan-keluhan anak.

Kelima, kesejahteraan spiritual. Keluarga yang harmonis memegang nilai-nilai spiritual dan keagamaan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari karena di dalam agama terdapat nilai-nilai moral dan etika bagi kehidupan.

Keenam, kemampuan mengatasi stres dan krisis. Keluarga yang harmonis memiliki kemampuan untuk mengatasi stres sehari-hari dengan baik dan krisis hidup dengan cara yang kreatif dan efektif.

Menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmita, kenormalan baru adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal, tapi ditambah dengan penerapan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan covid-19.

Prinsip kenormalan baru adalah bisa menyesuaikan dengan pola hidup. Transformasi ini adalah untuk menata kehidupan dan perilaku baru, ketika pandemi, yang kemudian akan dibawa terus ke depannya sampai ditemukannya vaksin untuk covid-19 ini. Kenormalan baru adalah proses yang sulit tetapi sesuatu yang dapat diatasi oleh siapa pun setelah beberapa waktu.

Pada masa kenormalan baru orang tua hendaknya memenuhi kebutuhan akan kasih sayang, kelekatan, keselamatan, dan kesejahteraan yang menetap dan keberlanjutan, demi kepentingan terbaik bagi anak.

Orang tua dapat menjadi pendamping anak, tempat curhat, tanggap terhadap perubahan anak, kreatif, tidak menggunakan kekerasan dalam mendidik anak, memotivasi, menanamkan rasa percaya diri, menumbuhkan optimistis, daya tahan terhadap stres dan memberikan contoh teladan kepada anak ketika di rumah.

Dikutip dari The Union Journal, dampak psikologis yang dapat terjadi bagi pada anak di masa ini di antaranya perilaku regresif, perubahan nafsu makan dan mengalami gangguan tidur. Dampak lain yaitu anak sulit berkonsentrasi, ada perubahan suasana hati seperti mudah marah dan menangis, keluhan somatik dan membutuhkan kasih sayang serta perlindungan dari orang tua.

Dibutuhkan peran orang tua dalam mengatur waktu antara bekerja di rumah dengan mendampingi anak belajar. Buat suasana rumah nyaman sehingga anak merasa ”betah” tinggal di rumah dan senang belajar di rumah. Kesungguhan dan kesiapan orang tua untuk mendampingi belajar serta menjadi guru anaknya dengan kesabaran dan keikhlasan.

Adapun strategi mendidik anak di rumah selama kenormalan baru antara lain:

Demikian persiapan yang harus dilakukan ketika anak masuk sekolah di era kenormalan baru. Orangtua diharapkan memberikan edukasi yang cukup tentang bagaimana cara menghadapi lingkungan baru selama masa kenormalan baru. (AL)

 

Tulisan ini adalah rangkuman dari diseminasi penelitian Rilla Sovitriana (Dosen Universitas Persada Indonesia dan Psikolog Rumah Sakit Islam Jakarta) yang diterbitkan Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kementerian Agama Tahun 2020.

Ilustrasi: SurveyMETER

Leave a Response