Mendengar kata seksualitas bagi masyarakat kita masih terdengar tabu. Ini merupakan pandangan umum yang sudah mendarah daging dalam tradisi masyarakat kita. Namun seiring bergulirnya waktu, dan zaman mulai mengalami pergeseran. Lambat-laun pandangan “tabunya membincangkan seksualitas” mulai berubah. Kini mulai dikampanyekan tentang pentingnya memberikan pendidikan seksualitas bagi anak sejak usia dini. Meskipun mungkin belum bisa berdampak optimal dan masuk pada semua lapisan masyarakat. Tapi upaya ini perlu diapresiai.

Lantas, mengapa masyarakat kita mulai membuka diri mengenai  pentingnya pemahaman seksualitas bagi anak dan apa manfaatnya? Seperti apa pendidikan seksualitas dan bagaimana menyampaikannya?

Sejalan dengan berubahnya pola komunikasi masyarakat dari tradisi lisan ke tradisi tulisan, dari tradisi tatap muka ke tren era teknologi berbagai informasi sangat mudah didapatkan. Tanpa harus bergeser sedikitpun dari tempat rebahan seseorang bisa mengakses berbagai informasi dari berbagai belahan dunia. “Dunia dalam Genggaman” begitu kira-kira analoginya.

Kesempatan untuk mendapatkan informasi yang bersifat publik merupakan hak bagi siapa saja. Hal itu sebagaimana telah diatur dalam UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP). Tentunya hal ini berdampak pada keinginan dan kemampuan masyarakat dalam melek informasi. Tidak bisa dipungkiri berbagai rekam kasus tentang tindakan-tindakan kriminal seperti pelecehan seksual, perundungan dan berbagai hal menyangkut isu perempuan dan anak telah banyak menyeruak dan mengisi jagat media.

Dalam hasil rekam kasus yang tercatat dalam Catatan Tahunan (Catahu) Komnas Perempuan 2020 Kasus dalam kluster anak terekam sebanyak 2341 kasus. Terjadi lonjakan angka dari tahun sebelumnya yaitu 1.417 kasus. Dengan jumlah angka-angka tersebut, Komnas Perempuan mengetengahkan bahwa setiap 2 (dua) jam  setidaknya ada 3 (tiga) korban kekerasan. Miris rasanya mendengar hal ini.

Pendidikan sendiri diartikan sebagai proses pendewasaan diri ke arah kematangan baik secara individu dan sosial, serta kematangan secara intelektual, sosial maupun spiritual. Dalam hal ini merujuk pada pengertian pendidikan dalam Bahasa Arab yaitu tarbiyah. Menurut At-Thabari dalam Jami’ul Bayan ‘an Ta’wil ayat al-Qur’an pengertian tarbiyah adalah upaya melakukan pengembangan anak didik dari segi jasad (fisik/motorik), akal (intelektual) dan jiwa (afeksi) menuju kedewasaan dan kemandirian guna menyongsong kehidupan di masyarakat.

Sejalan dengan pengertian tersebut, Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai upaya memajukan anak didik secara budi pekerti, pikiran dan jasmani demi kemajuan hidup yang sempurna melalui penyelarasan hubungan antara alam dan masyarakat (Nur Kholis, 2013). Berdasar pada beberapa pengertian tentang pendidikan, melalui proses pemberian pemahaman tentang pendidikan seksualitas bagi anak diharapkan si anak mempunyai kemampuan dan pemahaman serta penyikapan tentang hal-hal yang berhubungan dengan seksualitas.

Menurut UNESCO (2009) pentingnya pendidikan seksulitas bagi anak karena 4 (empat) alasan: (a) menambah pengetahuan dan pemahaman tentang seks, sifat dan hukum pelecehan serta sikap yang harus dilakukan. (b) mengeksplorasi dan mengklarifikasi perasaan, nilai dan sikap untuk menumbuhkan kesadaran perasaan bangga atas tubuh dan harga diri (c) memperkuat dan mengembangkan kemampuan untuk mengatakan “tidak” dan melakukan perlawanan (d) mendukung atau mempromosikan untuk menjauhi hal yang beresiko bagi anak.

Berikut adalah hal-hal yang perlu orangtua diperhatikan dalam upaya pendidikan seksualitas sejak dini:

Pertama, pada dasarnya orangtua sudah memberikan pemahaman seksualitas pada anak sejak lahir. Hal itu dapat dirasakan melalui sentuhan orangtua. Sentuhan merupakan wujud dari kasih sayang orangtua pada anak. Dengan memberikan kasih sayang yang cukup, anak akan merasa aman dan nyaman sehingga dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Di kemudian hari, ketika mereka sudah menyadari pentingnya kasih sayang maka tidak akan mencari kasih sayang di luar rumah.

Kedua, memberikan pemahaman tentang fungsi dan anatomi dalam tubuh laki-laki dan perempuan. Pemahaman bisa dilakukan secara umum tentang perbedaan tubuh laki-laki dan perempuan. Contohnya menjelaskan perempuan memiliki vagina dan laki-laki memiliki penis. Juga terkait fungsinya.

Ketiga, memberikan pengertian pentingnya menjaga organ tubuh vital yang mereka miliki. Memperkenalkan tata cara membersihkan ketika cebok dan sebagainya. Serta memberi pamahaman bahwa tidak sembarang orang boleh menyentuh bagian-bagian tubuh tertentu (mulai dari leher sampai bawah lutut) kecuali orangtua, si anak sendiri, atau petugas medis jika diperlukan dengan pengawasan orangtua.

Keempat, jika anak bertanya dari mana mereka dilahirkan, orangtua bisa menjawab dengan jujur mengenai fungsi dari organ vital perempuan atau laki-laki. Penyebutan organ perempuan dengan vagina, dan laki-laki dengan penis harus disampaikan dengan jujur.

Kelima, memperkenalkan nilai dan norma yang berlaku dalam agama maupun masyarakat. Pembelajaran ini bertujuan untuk membentuk kesadaran tentang etika-etika yang harus diikuti oleh si anak dalam pergaulan sehari-hari dan dalam bermasyarakat nantinya. Pemahaman ini bisa dimulai dengan tata cara berpakaian dan sebagainya.

Pemberian pemahaman tentang pendidikan seksualitas pada anak sejak usia dini sangat membutuhkan peran penting dari orangtua. Orangtua adalah sumber pendidikan pertama sebelum institusi pendidikan formal atau semi-formal, seperti sekolah, tempat ngaji atau yang lainnya. Untuk itu orangtua bisa memberikan pendidikan seksualitas sejak dini sesuai kemampuan berfikir masing-masing anak. Oleh karena itu media-media pembelajaran atau parenting harus semakin  digalakkan. Wallalhu ‘alam.

 

Leave a Response