Judul           : Raden Saleh: Kehidupan dan Karyanya

Penulis        : Werner Kraus dan Irina Vogelsang

Penerbit       : Kepustakaan Populer Gramedia

Cetak           : 2018

Tebal           : xl + 414 halaman

ISBN           : 978 602 424 840 6

 

Jerman dan Indonesia “bersekutu” gara-gara Raden Saleh. “Bersekutu” menghasilkan komik. Pengesahan bakal dilakukan di Frankfurt Book Fair 2019 di Jerman. Pihak Indonesia melalui Kedutaan Besar RI di Jerman berperan sebagai pihak menerbitkan komik. Pembuat komik adalah Werner Kraus dan tiga ilustrator (Solopos, 9 Oktober 2019). Komik itu lanjutan dari “kemesraan” Indonesia dan Jerman mengenangkan Raden Saleh.

Setahun lalu, buku terjemahan berjudul Raden Saleh: Kehidupan dan Karyanya susunan Werner Kraus dan Irina Vogelsang terbit. Penulis Jerman itu memberi bacaan bermutu setelah melakukan riset-riset. Penerbitan buku dalam terjemahan bahasa Indonesia agak terlambat. Kerja belum selesai. Pada 15 Oktober 2019, komik mengenai Raden Saleh dikerjakan Werner Kraus diacarakan di Jerman. Ikhtiar mengenalkan dan menghormati Raden Saleh terasa serius dan berkelanjutan. Sejarah dan ketokohan mungkin enak dimengerti dengan suguhan komik ketimbang buku tebal dan besar.

Kita perlahan memberi pengakuan bahwa Werner Kraus dan Irina Vogelsang serius menekuni Raden Saleh. Kita tentu tak melupa ke penulis-penulis awal mengenai Raden Saleh. Mereka asal Indonesia dengan kecenderungan menulis biografi dan tafsir atas lukisan-lukisan Raden Saleh.

Sejarah turut dijelaskan dengan hal-hal masih misterius atau memicu polemik panjang, sejak puluhan tahun. Dulu, kita disodori buku tipis berjudul Dua Raden Saleh: Dua Nasionalis dalam Abad ke-19 (1951) garapan Soekanto. Kemonceran Raden Saleh tak cuma di Indonesia. Ketokohan dan lukisan-lukisan Raden Saleh memikat penguasa, seniman, dan publik di Eropa, sejak ratusan tahun lalu.

Soekanto terbatas dalam lacak referensi. Buku tipis itu sulit membuat pembaca mengenali Raden Saleh. Pada masa 1950-an, orang-orang dibuat sibuk dengan revolusi. Ikhtiar Soekanto pun revolusioner di kemauan menulis dan menghadirkan tokoh di sejarah seni dan politik. Soekanto menjelaskan bahwa Raden Saleh “berasal dari keluarga revolusioner jang ada perhubungan dengan Pangeran Diponegoro.”

Pengakuan itu “bersambung” ke buku garapan Werner Kraus dan Irina Vogelsang dengan memuat pengantar dari sejarawan memiliki kepakaran tentang Pangeran Diponegoro. Sejarawan itu bernama Peter Carey. Simpulan besar Soekanto penuh pujian untuk Raden Saleh: “… seorang nasionalis, seorang pelukis jang terkenal, seorang terkemuka dalam sedjarah nasional Indonesia.”

Buku tipis garapan Soekanto itu sudah langka. Buku mungkin terlupa di kalangan pengagum Raden Saleh di masa sekarang. Tulisan-tulisna mengenai Raden Saleh berlimpahan, tak cuma ditulis orang Indonesia. Para peneliti asal pelbagai negara pun terpikat Raden Saleh. Mereka pun menulis dengan kemampuan melacak jejak Raden Saleh saat berada di Eropa dan kepustakaan lama. Werner Kraus dan Irina Vogelsang berhasil mengumpulkan dan mengolah secara apik. Kita membaca dengan takjub.

Werner Kraus dan Irina Vogelsang mencatat episode awal kedatangan Raden Saleh ke Jerman, setelah bermukim agak lama di Belanda. Raden Saleh mengunjungi Dusseldorf (18 Mei 1839): “kota penting dalam mazhab seni lukis Romantik Jerman.” Raden Saleh juga pernah ke Frankfurt.

Kota belum memikat Raden Saleh dalam ibadah seni. Ia lanjut pergi ke Berlin. Raden Saleh bergairah melukis. Kutipan dari surat Raden Saleh seperti disajikan di buku Werner Kraus dan Irina Vogelsang: “Di Berlin, setiap hari saya bangun pukul 5 atau pukul 6 dan bekerja di kamar saya. Mulai pukul 9 sampai pukul 1 siang saya bekerja di museum dan pukul 2 siang sampai pukul 8 malam saya melukis di kamar saya dengan komposisi sendiri.”

Sejak lama, Raden Saleh menghubungkan tanah air dan Jerman. Biografi Raden Saleh menjejak di Jerman dan memberi bukti keampuhan sebagai seniman asal Nusantara. Di mata Eropa, ia perlahan memiliki kehormatan.

Pada masa dan situasi berbeda, pujangga asal Indonesia mencari jejak-jejak Raden Saleh sampai ke Jerman meski sejenak. Sekian hal tak ditemukan atau dirasakan. Kurnia Effendi dengan buku puisi berjudul Mencari Raden Saleh (2019) mengabarkan ada takjub tak pernah pudar untuk mengetahui Raden Saleh di masa lalu di pengelanaan sebagai pelukis di Eropa.

Lacakan Kurnia Effendi di Frankfurt terekam dalam puisi: Siapa di antara kalian yang membawa/ kuas dan pena? Syair dan lukisan apa/ yang hendak membekukan peristiwa fana? Kurnia Effendi memilih gubahan puisi, belum sampai ke pembuatan komik bakal dipamerkan di Frankfurt Book Fair 2019.

Pujian-pujian ke Raden Saleh berkepanjangan di Indonesia dan Eropa. Kita menemukan ada kemauan “meralat” di buku berjudul Raden Saleh: Anak Belanda, Mooi Indie & Nasionalisme (2009). Di situ, Harsja W Bachtiar mengingatkan: “Namun demikian, perlu juga ditekankan bahwa Raden Saleh bukan seorang nasionalis, revolusioner, atau bahkan seorang yang radikal. Raden Saleh adalah seorang tradisional yang menerima struktur kolonial yang berlaku di tanah airnya.” Anggapan berbeda dari Soekanto dan Werner Kraus tapi penting terbaca untuk mengetahui masa lalu Raden Saleh di persilangan politik dan seni.

Di mata Eropa, Raden Saleh sering terpuji. Werner Kraus dan Irina Vogelsang menjelaskan: “… ia memperkenalkan tema oriental ke dalam seni lukis Jerman dan masuk menjadi bagian sejarah Jerman. Perannya dalam sejarah seni Jerman jelas merupakan sesuatu yang lain dibanding dengan sesuatu yang ia lakukan di Jawa. Jika di tanah airnya ia merupakan seorang pembaru yang radikal dan seorang modernis, maka di Belanda, Jerman, dan Prancis, orang melihat Raden Saleh sebagai seorang penganut mazhab Romantik akhir.”

Segala anggapan ke Raden Saleh membuktikan sumber-sumber pengisahan tokoh dan situasi politik-seni di tanah jajahan dan Eropa belum terlalu lengkap atau terang.

Tahun demi tahun berlalu, kita terus menantikan ada studi-studi baru mengenai Raden Saleh, terbit di pelbagai bahasa. Edisi bahasa Indonesia tentu kemestian agar Raden Saleh “berpijak” ke tanah air, tak melulu besar dan “teringat” berlatar Eropa. Biografi saja tak memadai. Para sejarawan atau peneliti sibuk memberi tafsir dan mencari segala hal di babak pembuatan lukisan-lukisan selama di Jawa atau Eropa.

Pada abad XXI, Raden Saleh masih memiliki “rahasia-rahasia”. Kita bersabar menunggu kedatangan komik mengenai Raden Saleh, setelah diacarakan secara terhormat di Frankfurt (Jerman). Begitu.

Leave a Response