Dunia medis bukanlah bidang yang bisa dikuasai secara sembarangan. Perlu keilmuan dan fasilitas yang mumpuni untuk terjun di dunia medis.

Dalam catatan Oxford Islamic Studies, salah satu institusi pada abad pertengahan yang membidangi penelitian dan pengajaran medis bernamakan Bimaristan. Bimaristan sendiri adalah terminologi persia yang berarti rumah sakit, “Bimar” berarti penyakit dan “stan” bermakna lokasi atau tempat.

Mundur ke belakang ke masa kanjeng nabi Muhammad, rumah sakit dapat disebut sebagai layanan medis bergerak mengiringi pasukan Islam. Para tenaga medis kala itu kebanyakan adalah sahabat dari golongan wanita, termasuk pula istri Rasulullah.

Catatan Rahman dalam artikelnya ‘The Development of Health Sciences and Related Institutions During the First Six Centuries of Islam’ menyebutkan ketika pulang ke Madinah bersama para sahabat yang sebagian terluka pada perang Khandaq, kanjeng nabi Muhammad memerintahkan didirikan tenda di pelataran Masjid Nabawi.

Tenda-tenda itu dijadikan tempat untuk merawat para sahabat yang terluka dalam perang sampai sembuh. Meski begitu, rumah sakit belum menjadi institusi kesehatan yang permanen. Rumah sakit baru muncul di masa pemerintahan Khalifah al-Walid I (memerintah 705-714 M) dari Dinasti Umayyah.

Sementara itu catatan Oxford Islamic Studies, Bimaristan pertama kali muncul pada masa kekhalifahan Harun al-Rashid (memerintah 786-809 M) dari Dinasti Abbasiyah. Terlepas dari perbedaan itu, yang jelas Bimaristan, dan geliat medis kala itu terjadi pada abad pertengahan –In medieval Islam.

Dalam berbagai literatur, Bimaristan juga tercatat sebagai rumah sakit pertama yang menerapkan kebijakan sistem gaji bagi para dokter, perawat dan apoteker. Keberadaan Bimaristan pun langgeng meski kepemimpinan telah berganti-ganti.

Pada kepemimpinan Khalifah Harun al-Rashid dari Dinasti Abbasiyah, pengelolaan sedikit mengalami perubahan dengan adanya dokter dari kalangan non-Muslim yang bernama Abu Said Ubaidallah. Artinya, pengelolaan Bimaristan kala itu sudah terbuka dan egaliter, ditandai dengan digunakannya tenaga medis dari non-Muslim.

Seratus tahun kemudian, tercatat ada sekitar lima Bimaristan berdiri Baghdad. Kemudian pada abad ke-10 Masehi, layanan kesehatan dikembangkan dengan adanya dokter dan apoteker yang datang ke pelosok-pelosok untuk memberikan pengobatan. Sistem layanan kesehatan di masa kekhalifahan Islam diberikan secara egaliter. Artinya, semua orang tanpa pandang bulu boleh menikmati layanan kesehatan.

Belajar dari geliat medis pada abad pertengahan, akhirnya, Bimaristan tak ubahnya rumah sakit yang benar-benar mementingkan urusan medis bagi semua orang tanpa memandang latar belakang pasien maupun sentimen antar golongan. Fakta ini kemudian menjadi landasan bagi dunia medis, bahwa rumah sakit haruslah berdiri untuk semua golongan.

 

Leave a Response