Please assign a menu to the primary menu location under menu

Dunia entertainment tanah air kembali menjadi bahan perbincangan publik. Juli ini sebuah film remaja berjudul “Dua Garis Biru” menjadi bahan petisi online para netizen, khususnya kalangan orang tua.

Film yang disutradarai oleh Ginatri S. Noer ini menampilkan dua sosok remaja usia SMA yakni Bima yang diperankan oleh Angga Aldi Yunanda dan sosok Dara yang diperankan oleh Adhisty Zara (Zara JKT48). Dalam film itu keduanya nampak saling mencintai dan yang pada akhirnya melakukan hubungan layaknya suami istri hingga Dara hamil di luar nikah.

Sampai tahap ini banyak orang tua yang merasa film “Dua Garis Biru” tak layak dikonsumsi publik, apalagi di kalangan para remaja. Mereka takut anak-anaknya terjerumus pada pergaulan bebas sebagaimana dialami Dara. Mereka kemudian membuka petisi oniline di Change.org menolak film tersebut ditayangkan di bisokop seluruh Indonesia.

Sebenarnya film ini tidak saja  menampilkan tentang bagaimana kelakuan remaja zaman now, namun juga tentang apa saja bahaya yang ditimbulkan atas pergaulan bebas tersebut.

Sosok Bima yang digambarkan baru berusia 17 tahun ini terpaksa menjadi seorang ayah dari anak yang dikandung di dalam perut  mungil Dara yang juga saat itu baru berusia 17 tahun. Bayangkan saja betapa remaja yang harusnya menikmati masa-masa indah di sekolah malahan merasakan betapa beratnya jadi orang tua.

Film ini pula memuat tentang edukasi di bidang kesehatan. Dara yang masih sangat muda dengan rahimnya yang belum kuat menopang sang jabang bayi, jika dipaksakan akan menimbulkan resiko besar baik bagi bayi maupun keselamatan Dara sendiri. Tentu saja hal ini memicu keresahan tersendiri bagi dirinya, Bima, beserta keluarga dari keduanya.

Penolakan atas tayangnya film ini menjadi salah satu fenomena betapa kejumudan telah melanda pemikiran para orang tua. Zaman sudah berganti, para muda-mudi tidak lagi menghiraukan larangan-larangan dari orang tua. Ajaklah mereka sekali dua kali ke bioskop untuk nonton film. Pemahaman mereka justru akan terbentuk melalui peranan film. Film “Dua Garis Biru” ini contohnya, dengannya muda-mudi justru bisa lebih paham bagaimana risiko dan dampak buruk jika melakukan hubungan di luar nikah, hamil usia dini dan bagaimana pula menjadi orang tua di usia yang masih tergolong belum stabil.

Khawatir itu perlu, tetapi juga tidak dengan cara ‘memboikot’ film yang bahkan di dalamnya justru memuat pesan-pesan edukasi positif. Tenang saja, menonton film ini tidak membuat anak anda ‘auto hamil’, kok. Toh nyatanya film ini meraih hingga satu juta penonton. Keren kan?

Bagi muda-mudi, ingat baik-baik pesan tokoh Ibu dalam film ini, “Menjadi orang tua itu bukan hanya 9 bulan 10 hari. Itu pekerjaan seumur hidup.”

Saya harap sebagai generasi muda, nikmatilah masa-masa indah kita. Jangan dulu jadi orang tua di usia yang (sangat) muda. Selain fisik belum kuat, psikis masih harus banyak di rawat.

So, jangan pada salah pilih pergaulan ya gaes. Pergaulanmu menentukan karakter pribadimu.

 

 

Leave a Response