Masa muda sangat dekat dengan masa transisi, mengekspresikan diri, dan mencari eksistensi. Tiga hal tersebut akan melahirkan nilai yang diwariskan oleh para pemuda untuk generasi setelahnya. Dalam hal prinsipil maupun bersosial, nilai-nilai tersebut terkontrol oleh agama yang bersifat pemberian aturan sekaligus arahan.

Dari masa ke masa, agama beserta praktiknya tentunya telah mengalami perkembangan. Belakangan pesatnya industi dan teknologi menjadi faktor yang dominan dalam perkembangan tersebut. Dalam konteks ini, media digital banyak berperan terhadap praktik keberagamaan umat Islam di masa saat ini yang dikenal era revolusi industri 4.0.

Di masa yang disebut juga sebagai era milenial ini, muncul fenomena hijrah yang menjadi tren dan topik perbincangan di berbagai kalangan. Gerakan atau komunitas hijrah tersebut banyak mendapat antusias terutama dari kalangan pemuda atau sering disebut “generasi milenial”.

Fenomena tersebut nampak saat komunitas-komunitas hijrah mengadakan suatu even dengan mengundang kalangan milenial sebagai sasaran utama. Berbekal teknologi digital yang dikemas secara kreatif melalui instagram, youtube, podcast, hingga tik tok, ajaran agama Islam ‘disulap’ menjadi konten-konten yang nampak kekinian. Tidak sedikit generasi milenial yang terpukau dan terpikat untuk bergabung dengan gerakan hijrah tersebut.

Gerakan ini juga semakin marak lantaran banyak pula dari kalangan artis, selebriti atau publik figur yang juga ikut ‘hijrah’. Pro dan kontra tentunya bermunculan seiring dengan derasnya arus komunitas hijrah. Banyak yang setuju, namun tidak sedikit pula yang menolak.

Istilah hijrah sebenarnya sudah dikenal semenjak peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Hijrah di sini merupakan perubahan ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Umat Islam yang sebelumnya terganggu dengan tradisi jahiliyah, akhirnya mampu menjalankan ajaran agama dengan sempurna ketika sudah berhijrah.

Fenomena hijrah yang berkembang saat ini juga dikaitkan dengan perubahan pada diri seseorang untuk menjadi lebih baik lagi. Salah satunya adalah, ketika seorang perempuan muslim menyatakan diri untuk berhijab, ia atau bahkan orang di lingkungannya menyebut dirinya telah ‘hijrah’.

Mereka beranggapan bahwa yang dilakukan perempuan tersebut adalah berubah menuju jalan yang lebih baik. Istilah ini juga sering kali dipakai oleh kalangan muda, ketika ada perempuan yang memutuskan untuk berhijab, berarti ia telah ber-’hijrah’.

Inilah yang perlu menjadi koreksi, tidak semua perubahan menuju hal yang lebih baik dapat didefinisikan dengan hijrah. Pemuda harusnya dapat memfilter, mana kiranya yang patut dinamakan dengan hijrah. Menutup aurat, khususnya berhijab merupakan kewajiban bagi setiap muslimah semenjak ia sudah akil baligh. Perintah tersebut tertuang dalam QS. al-Ahzab ayat 59:


يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dalam ayat tersebut, perintah berjilbab untu kaum perempuan merupakan kewajiban. Jadi, ketika ada perempuan yang sudah baligh namun belum mengenakan jilbab atau belum menutup aurat dengan sempurna. Lalu ia memantapkan hati untuk berjilbab maka yang demikian itu bukanlah hijrah, melainkan “taubat”. Karena yang dilakukan merupakan perintah yang memang harus dijalankan. Jadi, ia tidak disebut dengan ‘berhijrah’ akan tetapi disebut dengan ‘bertaubat’.

Tren hijrah generasi milenial yang meningkat juga dapat dilihat dengan bergesernya tren fashion saat ini. Melihat perempuan berjilbab panjang dan lebar sudah bukan lagi pemandangan yang langka. Mengenakan jilbab besar atau bahkan beserta niqab bukan karena proses memahami nilai syariat keagamaan, akan tetapi penggunaan jilbab panjang tersebut merupakan kebutuhan fashion style.

Masih banyak lagi istilah-istilah yang tidak sesuai jika didefinisikan dengan hijrah namun orang menyebutnya dengan hijrah. Ini terjadi lantaran minimnya pengetahuan tentang urusan keagamaan, atau karena sekedar mengikuti tren yang sedang berkembang.

Terlepas dari benar tidaknya perbedaan tentang istilah hijrah, yang terpenting dalam hal ini adalah bagaimana konsisten hijrah di jalan kebaikan. Dengan kata lain, menyatakan diri serta mempraktikkannya secara lahir dan batin. Berikut empat hal tentang hijrah yang penting bagi generasi milenial.

Pertama, ketika telah memantapkan hijrah, maka haruslah dibekali dengan ilmu yang cukup. Artinya sebaiknya belajar agama dari hal-hal yang mendasar; bab ubudiyah, aqidah, akhlaq, muamalah, dan seterusnya. Sambil belajar hal dasar, kita juga bisa masalah-masalah keagamaan kontemporer yang sedang dihadapi.

Kedua, tidak memosisikan diri sebagai orang yang sudah paling suci dan benar. Tidak etis rasanya apabila memandang sebelah mata kalangan yang nampak masih bermaksiat, mengumbar aurat, atau yang bagi kita belum berada di jalan hijrah. Hal ini karena hijrah adalah jalan yang tujuannya Allah, bukan karena ikut-ikutan tren artis, selebritis atau tokoh idola. Mereka bisa saja perantara diri kita menuju Allah, karena hakikatnya yang memberi hidayah yaitu Allah.

Ketiga, memilih guru yang tepat dalam belajar agama. Tidak hanya itu, guru tersebut sebaiknya mampu membimbing spiritualitas kita supaya tidak hanya soleh ritual, melainkan juga soleh sosial.

Keempat, tidak mudah terprovokasi oleh berita atau orasi tokoh (baca: ustadz, politisi) apalagi yang berkaitan dengan masalah politik. Sebab persoalan politik merupakan hal yang sangat kompleks dan syarat kepentingan. Jadi, kita membutuhkan perangkat-perangkat keilmuan dan wawasan yang matang untuk memahami seluk beluknya. Jika tidak, maka kita akan mudah terperangkap pada sikap saling mencurigai, kebencian dan penyesatan kepada kelompok lain.

Pemuda yang merupakan kunci masa depan bangsa, harus bijak dalam menghadapi fenomena ini. Perubahan menuju hal yang lebih baik harus selalu dilakukan oleh tiap-tiap pemuda. Namun, jangan asal mengikuti tren tanpa tahu kebenaran dari fenomena yang sedang berkembang. Karena jika hanya mengikuti tren yang sedang berkembang, maka hal tersebut akan hilang dengan perlahan digantikan oleh tren yang lebih modern.

Oleh sebab itu, fenomena hijrah ini harus ada yang mengawal agar tetap dilakukan secara istiqomah namun tidak bertentangan dengan ajaran yang sebenarnya. Seluruh komponen yang ada harus bersatu dan  bersama-sama mewujudkan generasi emas. Terlebih para pemuda yang menjadi juru kunci bangsa.

Mereka harus mampu menongkatkan pemahaman masalah keagamaan namun tidak kolot dan stagnan. Harus ada inovasi yang dikembangkan agar semakin banyak pemuda yang tertarik dengan Islam, terutama tren hijrah namun dengan pemahaman dan praktik yang tepat.

Leave a Response