Please assign a menu to the primary menu location under menu

Ulama ahli Al-Qur’an dan Tafsir asal Kab. Rembang KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha dalam suatu pengajian kitab bersama para santri membahas tentang guyonan dua kiai yang berdebat tentang dalil halal-haram rokok.

Berikut penjelasan Gus Baha:

Bahasa Arabnya rokok itu membingungkan! Rokok itu termasuk tha’âm (makanan) apa tidak? Tidak kan?!

Orang Arab menamainya syarâb ad-dukhân (شراب الدخان). Syarâb (شراب) itu minuman. Jadi rokok itu membingungkan.

Asap kok dikatakan minuman! Jadi, sudah keliru semua!

Bahasa Arabnya rokok itu apa? Dukhân (دخان) kan?! Lalu kalau ‘menghisap’ itu orang Arab menyebutnya syarâb (شراب) atau syurb (شرب).

Lalu kok bisa dikatakan syurb itu minuman, faktornya apa?

Cair? Apakah rokok cair?! Hehehe

Jadi tidak jelas!

Sesuatu yang jadi temannya setan itu memang susah dibahasakan! Hehehe

Tapi ya itu tadi. Kalau kamu ‘terlalu’ mengharamkan rokok, itu orang alim-alim banyak yang merokok. Yang tidak merokok, biar dikatakan alim ikut merokok.

Yo mboh (ya entahlah), hehehe…

Saya tidak mengharamkan atau menghalalkan rokok.

Saya pernah ada tamu, seorang kiai. Kiai tersebut merupakan mursyid terkenal yang mengharamkan rokok. Dia ke mana-mana sering mengaja kiai lain untuk mengharamkan rokok.

Alhasil singkat cerita, suatu saat ada pengajian yang muballigh-nya itu merokok. Sedangkan kiai yang bagian tugas berdoa adalah kiai sepuh yang mengharamkan rokok.

Jadi, yang satu mengharamkan, yang lainnya menghalalkan.

Kedua kiai itu sama-sama temperamen, akhirnya geger (ribut) di depan umum.

“Dalilnya mana Mbah, kalau rokok itu haram?” (tanya kiai yang merokok)

Sampean saja dalilnya belum tahu kok berani-berani merokok. Cari dulu dalilnya kalau rokok itu halal?!” (balas kiai yang tidak merokok)

Jadi, keduanya saling menuntut dalil. Yang menghalalkan rokok menuntut yang mengharamkan rokok.

Shohibul bait (tuan rumah pengajian) pun senang, “Wah ada tontonan ilmiah ini!” Hehehe

Yang bingung itu santri, takut semua, karena sama-sama kiainya.

Sebagai orang alim, bagi saya (perdebatan dalil rokok) itu adalah khazanah ilmiah. Hehehe

Menurut kamu, pilih yang mana?

Yang berani merokok itu menuntut: “Mana dalil yang mengharamkan rokok?”

Kamu yang mengharamkan (rokok) kan tidak punya dalil.

Kan tidak mungkin Al-Qur’an dan hadis membahas tentang rokok, kurang kerjaan atau bagaimana?! Hehehe

Lalu yang mengharamkan (rokok) juga menanyakan: “Mana dalil yang menghalalkan rokok?”

Kemudian kamu pakai dalil wakulû wasyrabû (وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا), itu tidak memasukkan rokok. Bahasa Arabnya rokok saja membingungkan.

Ayo coba, rokok itu masuk kategori math’am  (makanan) atau masyrab (minuman)?! Ayo jawab yang jujur!

Laa math’ama walaa masyraba (bukan makanan dan juga minuman)!

Membingungkan kan?! Lalu mau kamu carikan dalil yang mana? Hehehe

Ya tidak ada bahasa Arabnya. Makanya, mau merokok ya silakan, tidak pun silakan! Nanti saatnya mati bakal mati sendiri-sendiri.

Biarlah tsumma yunabbiukum bima kuntum ta’malûn (يُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ).

Ayatnya tsumma ilallâhi marjiukum (ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ).

Nanti akan kembali kepada Allah, biarlah Allah yang akan menghisab!

Link Ngaji Versi Audio-Visual:

Gus Baha – Soal Dalil Haramnya Rokok

Leave a Response