Please assign a menu to the primary menu location under menu

Salah satu yang dapat dijadikan sebagai dasar suatu peristiwa sejarah adalah kata-kata yang diukirkan pada batu monumen dan sebagainya atau yang disebut dengan inskipsi. Inskripsi bisa menjadi penanda mengenai suatu tokoh, agama, atau apa pun yang berkaitan dengan pengetahuan masa lalu.

Inskripsi ada di mana-mana. Di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan wilayah-wilayah lainnya. Semuanya sangat penting untuk diketahui. Berikut ini adalah catatan ringkas penelitian mengenai inskripsi yang ada di Provinsi Banten.

Mesjid Caringin, disebut juga Mesjid Salafiyah Caringin, terletak di Desa Caringin, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Propinsi Banten. Jarak tempuh dari Kota Serang, ibukota Propinsi Banten, sekitar 66 km atau 43 km dari kota Pandeglang.

Letak mesjid ini tepatnya di Jl. Raya Labuan-Carita, Pandeglang, Banten. Mengenai sejarahnya masih terdapat kesimpangsiuran. Sebagian mengatakan dibangun sebelum metelusnya Gunung Krakatau (1883) dan sebagian mengatakan sesudah itu.

Menurut Tim Penyusun Benda Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Banten, mesjid ini dibangun pada tahun 1883 ketika Daendles membuat jalan Anyer-Panarukan. Akan tetapi, ketika Gunung Krakatau meletus, wilayah ini menjadi hancur dan gersang karena terjadi gempa bumi akibat letusan tersebut.

Pada tahun 1884, sebagian mengatakan tahun 1889, penduduk desa ini kembali ke Caringin dan membangun kembali mesjid ini bersama seorang ulama yang bernama Syekh Asnawi. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, mesjid ini selesai dibangun pada tahun 1893 atau 1895 M.

Luas areal mesjid ini sekitar 2.775 m2, dengan luas bangunan kurang lebih 2.500 m2. Tinggi pondasinya mencapai 120 cm, dan atapnya berbentuk tumpang. Mesjid ini memiliki empat tiang utama (soko guru), yang berpondasi umpak batu berbentuk buah labu. Tembok halaman setinggi 115 cm mengelilingi halaman mesjid.

Terkait dengan inskripsi keagamaan di Mesjid Caringin terdapat pada mimbar dan satu tulisan “Muḥammad” dalam bentuk lingkaran di mihrab bagian depan. Kondisi fisik inskripsi pada mimbar relatif masih bagus dan terpelihara karena masih dapat dibaca. Inskripsi pada mimbar terbuat dari kayu, sedangkan inskripsi pada mihrab terbuat dari batu.

Pada bagian atas mimbar terdapat tiga baris teks Arab, selain teks paling atas yang berbunyi Lā Ilāha illā Allāh Muḥammad Rasµl Allāh. Panjang teks baris ke-2 adalah 79 cm (melengkung), lebar tengah 23 cm, lebar kiri kanan 10 cm. Tulisan teks Arab berwarna kuning emas dengan dasar merah.

Adapun teks baris ke-3 berukuran panjang 89 cm (juga melengkung), lebar kiri kanan 8 cm, dan warna dasarnya merah dengan tulisan berwarna kuning emas

Mesjid Al-Khusaeni (seharusnya Al-Husaini, selanjutnya tetap disebut Mesjid Al-Khusaeni mengikuti tulisan pada papan nama di mesjid ini) terletak di kampung Pagedongan, Desa Sukajadi, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Propinsi Banten. Jarak tempuh untuk mencapai Mesjid Al-Khusaeni sekitar 76 km dari ibukota Provinsi Banten, Serang, atau kurang lebih 51 km dari kota Pandeglang.

Mesjid Al-Khusaeni dan Mesjid Caringin memiliki pola arsitektur yang sama dan bahkan dibangun hampir pada masa bersamaan, yaitu akhir abad ke-19 M setelah meletusnya Gunung Krakatau. Menurut kisah masyarakat, Mesjid Al-Khusaeni dibangun lebih dulu dari pada Mesjid Caringin.

Jika diasumsikan riwayat yang agak sahih bahwa Mesjid Caringin dibangun tahun 1889, maka bisa diduga Mesjid Al-Khusaeni dibangun tahun 1884. Keduanya memang dibangun setelah meletusnya Gunung Krakatau tahun 1883 M.

Pendiri Mesjid Al-Khusaeni Carita adalah KHM. Husein, yang juga merupakan murid Syekh Nawawi al-Bantani. Mesjid ini diceritakan pernah dijadikan sebagai pusat pendidikan agama Islam. Mesjid ini dibangun di atas pondasi masif yang tingginya 90 cm, dengan denah ruang utama berbentuk empat persegi, yang berukuran 12×12 m.

Lantainya dilapisi tegel berwarna kuning berukuran 20×20 cm. Mesjid ini memiliki serambi pada keempat sisinya, yaitu serambi timur dan selatan (serambi terbuka), sisi barat dan utara (serambi terbuka).

Di mesjid ini terdapat 18 inskripsi, semuanya berbahasa Arab. Kondisi fisiknya pada umumnya relatif bagus dan masih dapat dibaca, kecuali beberapa inskripsi dari bahan kertas yang agak robek tetapi masih dapat dibaca, dan satu inskripsi berbentuk lingkaran pada dinding dalam sebelah selatan di ruang utama mesjid, yang agak sulit dibaca karena tertimbun cat dan semen.

Di antaranya inskripsi di atas pintu tengah serambi dalam sebelah timur. Lebar pintu 126 cm, tinggi 250 cm, panjang inskripsi 120 cm dan lebar 41 cm. Bahan dasarnya kayu, dengan ketebalan kurang lebih 3 cm, dicat dasar hijau, dan tulisannya berwarna emas.

Di Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama terdapat banyak tinggalan arkeologis yang berasal dari sekitar museum ini. Oleh karena itu, museum ini disebut museum in site (museum di dalam situs).

Benda- benda arkeologis tersebut antara lain mata uang kuna yang berinskripsi Arab, uang Oridab (uang kertas yang dicetak oleh Kesultanan Banten), nisan-nisan makam, yang memuat inskripsi yang beraksara Arab dan Cina, keramik, batu-batu, gerabah, dan lain-lain. Di bagian luar, halaman museum, antara lain terdapat batu bekas alat penggilingan dan meriam Ki Amuk.

Inskripsi yang menarik dari museum situs ini adalah tiga inskripsi yang terdapat pada meriam Ki Amuk yang semuanya berbahasa Arab. Meriam ini ditempatkan di halaman depan Museum Kepurbakalaan Banten Lama, Serang, sebelah timur Mesjid Agung Banten Lama dan sebelah utara Keraton Surosowan.

Inskripsi pada Meriam Ki Amuk telah diteliti oleh para ahli seperti K.C. Crucq, L.C. Damais, dan Claude Guillot bersama Ludvic Kalus. Para ahli tersebut masih menyisakan satu inskripsi pada meriam itu yang, karena kurang jelas, belum terpecahkan hingga saat ini.

Bagian inskripsi yang sudah dibaca pun masih kurang tepat, dan itu telah tersebar ke mana-mana. Bahkan Harian Republika telah mengutip transliterasi inskripsi tersebut yang ternyata kurang tepat. Inskripsi yang dimaksud adalah ungkapan “La Fata Ila Ali Ila Dzulfikar” (tiada kemenangan tanpa Ali tiada Ali tanpa pedang Dzulfikar). (MS)

*Tulisan ini adalah rangkuman dari diseminasi penelitian Asep Saefullah yang diterbitkan Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kementerian Agama tahun 2017.

sumber gambar: http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbanten/masjid-caringin/

Leave a Response