Inskripsi-inskripsi yang ada di pemakaman di Palembang menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat muslim Palembang terhadap konsep pemakaman Islam sudah cukup kuat. Pemahaman seperti ini berlanjut hingga kini, sebab makam-makam di Palembang walaupun di atas liang lahatnya itu di pasang jirat, namun berongga dan jika dari semen, di atas liang lahatnya tidak di semen.

Makam Ki Marogan ini ditandai dengan dua buah nisan dari batu andesit berwarna hitam, tidak dibentuk layaknya menhir yang dipasang di atas makam bagian kepala dan kaki. Nisan kepala berukuran tinggi 0,17 meter, lebar 0,17 meter, dan tinggi 0,17 merer; lebar 0,12 meter, dan tebal 0,7 meter.

Sedangkan nisan bagian kaki berukuran tinggi 0,5 meter. Karena ketokohan Ki Marogan, makam iini akhirnya dikeramatkan orang, sehingga sampai sekarang makam ini masih ramai diziarahi banyak orang.

Komplek makam di Kelurahan 14 Ulu terletak di tepi Selatan Jalan KH. Azhari Kecamatan Seberang Ulu II Tanah pemakaman, seluas 75×50 m, dengan jumlah makam tidak kurang dari 200 buah. Terdiri atas tiga kelompok, yaitu 1) Suku Al-Habsyi; 2) Suku Al-Munawwar; dan 3) Suku Al-Kaf.

Di komplek pemakaman tersebut banyak ditemukan nisan yang bertuliskan huruf Arab. Baik hanya merupakan identitas orang yang dimakamkan, atau ayat Al-Qur’an dan Hadist. Tulisan-tulisannya menggunakan gaya tsulus.

Tulisan tersebut terdapat tiga nisan kepala. Dari tulisan tersebut diketahui makam yang tertua berasal dari sekitar tahun 1277 H atau 1856 Masehi.

Kelompok makam ini berada dalam cungkup berpagar kayu yang berukuran 6 x 11,20 meter. Orang-orang yang dimakamkan di dalam cungkup tersebut antara lain: 1) Sayyid Al-Syarif binti Al-Sayid l-Sarif Umar bin Muhammad Al-Habsyi, wafat 26 Safar 1277 H); 2) Habib Al-Syarif Ahmd bin Hasan bin Alwi Al-Habsyi Ba’alawi, wafat 1353 Hijrah; 3) Al-Sayyid Hasan bin Alwi Al- Habsyi, wafat 15 Rajab 1381 H); 4) Al-Sayyidah Al-Sarifah binti Sayyid, Ahmad bin Alwi Al-Habsyi, wafat 8 Muharam 1309 H.

Makam ini dicungkupi bangunan berdinding tembokyangberukuran 21×16 meter. Dalam cungkup tersebut dimakamkan tidak kurang dari 3 orang, antara lain adalah: 1) Sayyid Abdurrahman bin Muhamamd Al-Munawwar yang tertulis wafat tahun 1310 Hijrah (1890 M).

Di samping sebelah timur makam tersebut terdapat makam istrinya, perempuan Palembang, yang bernama 2) Masayu Barriyah; saudara sepupu Kiai Marogan. Jirat dan nisan makam keduanya dibuat dari kayu jati.

Bentuk nisannya dapat dikelompokan tipe Demak-Troloyo. Dalam cungkup tersebut terdapat pula jenis nisan yang dibuat dari batu granit. Bentuknya dapat digolongkan pula dalam tipe Demak-Troloyo dan tipe Aceh yang berbentuk bubutan seperti peluncur catur serta berbentuk daun kumis kucing.

Kelompok makam ini tampak paling luas, luasnya 5 x 50 meter. Jirat dan nisan makam makamnya dibuat dari kayu jati. Bentuk nisannya diketahui terdiri atas dua tipe, yaitu tipe Demak-Troloyo dan tipe Aceh.

Nisan bertipe Demak-Troloyo diukir hiasan berbentuk pintu, jendela dan salur-saluran. Di bagian tengahnya diberi keterangan identitas orang yang dimakamkan, atau ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist. Sementara itu, nisan–nisan bertipe Aceh sebagaian polos dan sebagian lainya dihias, namun tidak seraya hiasan nisan Demak-Troloyo.

Komplek pemakaman ini terletak di tepi Selatan Sungai Musi. Kelurahan Tanggatakat, Kecamatan Seberang Ulu II. Menurut cerita turun temurun. Tubagus Kuning adalah seorang panglima dari Kesultanan Banten. Beliau bersaudara dengan Tubagus Karang yang makamnya berada di Komplek yang sama.

Komplek tersebut sering diziarahi orang. Kekeramatannya dianggap oleh orang, tampak dari adanya sekelompok kera yang hidup di tempat tersebut secara turun temurun. Kera-kera tersebut dipercaya sebagai keturunan pasukan kera dari Tubagus Kuning.

Di Komplek tersebut ditemukan 14 makam yang tersebar dalam lahan yang luasnya tidak kurang dari 4.970,85 meter persegi. Pola keletakan makam cenderung memanjang searah dengan aliran Sungai Musi.

Ia terletak di bagian tengah, dalam satu bangunan cungkup bersama dengan tiga makam tokoh lainnya. Keempat mkam tersebut masing-masing dari Barat ke Timur adalah makam penghulu 1) Gede gelar Tubagus Karang; 2) Datuk Buyung; 3) Tubagus Kuning; dan Kuncung Manis. Di luar cungkup dimakamkan tokoh-tokoh yang menurut ceritera turun temurun antara lain adalah Putri Kembang Dadar, Panglima Bisu, dan Panglima Semut

Makam-makam di komplek tersebut ditandai dengan nisan, namun sebagian nisan tidak asli, melainkan diganti dengan buatan baru. Nisan asli antara lain tedapat pada makam Tubagus Karang, Putri Kembang Dadar, dan Panglima Bhisu. Nisan makam Tubagus Kuning tidak asli, melainkan buatan baru yang dibuat dari kayu dalam bentuk tipe Demak-Troloyo.

Sementra itu, nisan makam Tubagus Karang masih asli, dibuat dari batu berbentuk tipe Aceh dengan ukuran tinggi 45-50 cm, lebar 21 cm, dan tebal 13 cm. Nisan makam Panglima Bhisu adalah batu bentukan alam berbentuk oval seperti manhir dengan ukuran tinggi 13-15 cm, lebar 10-13 cm.

Makam Al-Hadad dan Al-Segaf (Assegaf) terletak pada tanah yang lebih tinggi dari lingkungan sekitarnya, kurang lebih 200 meter di sebelah Selatan Sungtai Musi, Kelurahan 16 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu II Luas komplek tersebut tidak kurang dari 50×150 m. Makam Al-Hadad berada di sebelah Utara dari makam al-Segaf.

Makam Al-Hadad tidak diberi cungkup, sedangkan makam al-Saqqaf diberi cungkup berbentuk kubah dengan dinding tembok yang terkesan mewah.

Menurut cerita penduduk keutunan Arab, Al-Hadad adalah seorang pedagang dari Hadramaut yang mempunyai nama lengkap Abdul Hamid bin Alwi Al-Hadad. Saat pertama kali kedatangannya ke Palembang serta tahun wafatnya tidak ada yang mencatat.

Menurut Muhsin Al-Hadad, mertuanya yang bernama Alwi Assegaf pernah menyatakan makam tersebut telah ada, ketika ia datang pertama kali ke Palembang dari Bangka pada tahun 1869. Alwi Assegaf adalah seorang pedagang yang akhirnya pada tahun 1908 membuka usaha penggilingan padi di Palembang.

Sementara itu, makam yang tetua dari kelompok makam Al-Saqqaf berasal dari awal abad ke 20. Nisan-nisan makamnya dibuat dari papan kayu pipih yang bagian atasnya dibuat dalam bentuk lengkungan setengah lingkaran. Pada nisan-nisannya diberi nama yang dimakamkan saat wafatnya, dan kadang-kadang ayat Al-Qur’an atau Al-Hadist yang seluruhnya ditulis dalam huruf Arab. (MS)

*Tulisan ini adalah rangkuman dari diseminasi penelitian Ahmad Rahman dan D. Zainuddin yang diterbitkan Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kementerian Agama tahun 2017.

sumber gambar: kabar24.bisnis.com

Leave a Response