Wahyu yang pertama kali diturunkan kepada Kanjeng Rasul Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah iqra’. Dari kata iqra’ ini saja kita bisa mengetahui bahwa Islam adalah agama yang menekankan pentingnya literasi untuk menumbuhkan daya kritis dan berfikir rasional-objektif. Kenyataan ini bisa kita tengok pada penjelasan Quraish Shihab tentang makna iqra’ dalam bukunya, Membumikan Alquran.

Menurutnya, kata iqra’ terambil dari kata qara’a yang pada mulanya bermakna menghimpun. Cakupan makna menghimpun ini sangat luas, antara lain, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu, dan sebagainya, yang semuanya bisa dikembalikan kepada hakikat menghimpun.

Sebelum membincang kaitan Islam dan literasi, penting diketahui apa sebenarnya literasi itu? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, literasi adalah istilah yang digunakan untuk menyebut suatu kemampuan dan keterampilan dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan aktivitas membaca dan menulis. Menilik pada penjelasan Quraish shihab mengenai makna iqra’ pada paragraf sebelumnya, sejatinya, mengenali dan memahami ide yang disampaikan secara visual juga merupakan literasi, termasuk di dalamnya membaca ayat-ayat kauniyyah.

Agama ini (Islam) sesungguhnya dibangun atas dasar literasi. Lima ayat pertama dalam surat al-‘Alaq sebagai wahyu yang pertama kali diturunkan menegaskan hal itu. Bukti lainnya adalah nama kitab suci umat Islam, Alquran yang berarti bacaan. Bahkan, mukjizat paling utama (afdlalul mu’jizat) adalah mukjizat literasi: Alquran.

Pada tiga ayat pertama surat al-Bayyinah, Allah subhanahu wa ta’ala telah menegaskan bahwa orang-orang kafir baik dari kalangan ahli kitab maupun musyrik tidak akan meninggalkan agama mereka hingga datang seorang utusan (rasul) yang membacakan lembaran-lembaran kitab suci sebagai bukti yang terang-benderang. Membaca menjadi kata kunci yang ‘memaksa’ akal objektif menerima kebenaran Alquran sebagai sumber utama agama ini.

Hal ini tampak ketika orang-orang kafir Quraisy menuntut bukti kerasulan Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana pernah ditunjukkan oleh nabi-nabi sebelumya, beliau justru membacakan ayat tentang nyamuk (al-Baqarah [2]: 26), makhluk yang dipandang kecil dan remeh.

Nyatanya, nyamuk yang kecil dan lemah itu telah merepotkan banyak kalangan akademisi dan praktisi medis. Penelitian-penelitian telah dilakukan. Pabrik-pabrik telah banyak dirikan. Semua itu dilakukan untuk mengatasi makhluk satu ini. Di satu sisi, ia membawa dampak positif dengan terbukanya lapangan pekerjaan. Namun di sisi lain, banyak orang menderita dan mati karenanya.

Sastra bagi bangsa Arab seakan-akan merupakan bagian hidup yang sulit dipisahkan. Sastrawan penyair  memiliki posisi mulia di sisi mereka. Idola yang mereka damba adalah penyair dan kata-kata yang mereka ikuti adalah kata-kata sastrawan. Maka, ketika Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam menyampaikan wahyu Alquran, mereka menuduh sebagai gubahannya.

Untuk menyangkal tuduhan itu, Alquran menantang mereka untuk menyusun satu surat yang mampu menyamai surat yang paling pendek sekalipun dalam Alquran. Lihat misalnya al-Baqarah [2]: 23–24, Yunus [10]: 37–38, al-Isra’ [17]: 88, dan ath-Thur [52]: 33–34. Ternyata, Baik kafir Quraisy yang hidup di era Rasulullah maupun kaum orientalis masa kini yang meragui Alquran sebagai wahyu tidak mampu membuat karya yang mampu menandingi Alquran. Yang terjadi justru pengakuan otentisitas Alquran. Bahkan, Dr. Maurice Bucaille berkata, “Alquran adalah kitab suci yang tidak ada kesalahan sebesar gabah pun.”

Mukjizat fisik (hissiy) hanya mampu meyakinkan orang yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Sedangkan, orang yang tidak melihatnya secara langsung tidak mudah mempercayainya. Karenanya, mukjizat semacam ini bersifat temporer. Hal ini berbeda dengan Alquran yang menampilkan kebenaran objektif bagi akal manusia.

Karena kebenaran Alquran disaksikan oleh akal (ain al-bashirah) dan merangsang kita berfikir waras dan berakal objektif, maka kemukjizatannya bersifat abadi. Oleh karena itu, meskipun menentang dengan sangat keras dakwah Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, kafir Quraisy semacam Abu Jahal, Abu Sufyan maupun Abu Lahab sering mencuri dengar bacaan Alquran sahabat-sahabat Nabi. Sejatinya, akal mereka mengagumi dan tidak mampu menyangkal logika sederhana Alquran. Hanya karena kesombongan dan harga diri yang tidak pada tempatnya, mereka menolak ajaran Islam.

Menurut Gus Baha’uddin Nur Salim –kyai muda fenomenal asal Narukan, Rembang–, dengan logika sederhana dan objektif Alquran, Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam telah memberikan sarana iman yang seluas-luasnya. Oleh karena itu, meskipun ditinggalkan oleh Nabi, umat ini tetap beriman dengan ajaran yang otentik. Dengan demikian, menjadi tidak logis mendakwahkan agama ini dengan narasi-narasi kekerasan.

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa:
English

Leave a Response