Kartini menjadi sosok perempuan yang selalu digadang-gadangkan dengan istilah emansipasi. Emansipasi masih sering menjadi pembahasan yang sangat hangat, apalagi ketika melihat ruang-ruang diksusi hingga dewasa ini.

Tidak lain emansipasi yang dimaksud ini erat kaitannya dengan pendidikan. Bagaimana sosok Kartini memperjuangkan pendidikan di bawah kungkungan budaya feodalisme. Yang mana menganggap bahwasanya perempuan tidak diperkenankan memperoleh akses pendidikan.

Namun selain itu, perlu diketahui bahwa sosok Kartini juga sangat melekat dengan literasi. Bagaimana Kartini merawat pemikiran dengan sebuah bacaan dan kepenulisan.

Sebagaimana anak muda pada umumnya, Kartini juga memiliki impian dan hobi. Menyalurkan sebuah kesenangan bagi Kartini bisa menghilangkan kejenuhan. Karena pada waktu itu Kartini masih terbayang-bayang akan adat feodalisme yang menentang kebebasan ia untuk keluar, bahkan ketika belajar saja ia juga dibatasi.

Namun, menyalurkan kesenangan bagi Kartini masih tetap harus disalurkan seperti mendengarkan musik, gending, melukis, mambaca buku baik sastra maupun tidak. Terkhusus hobi membaca, Kartini menekuni dengan penuh semangat melalui buku yang ia jadikan sahabat dalam kesehariannya.

Melalui surat yang ia tulis kepada Nona Zeelander Kartini menulis “Kamu tahu kegemaran saya terhadap kesusastraan, dan tentu saja tahu bahwa saya bercita-cita menjadi pengarang yang berpengaruh.”

Kartini sempat disebut sebagai perempuan blandis karena sahabatnya banyak yang berasal dari Belanda. Mereka di antaranya Mr. J.H Abendanon, Nyonya R.M Abendanon Mandri, Nona Stella Zeehandelaar, Ir. H. H. Van Kol, Nyonya J.M.P Van Kol Porrey, Nyonya M.C.E Ovink Soer, Dr N. Adriani, Nyonya H.G De Booy Boissevain, Prof. Dr. G.K. Anton.

Sahabat-sahabat Kartini ini menjadi tempat curhat berbagai hal yang tidak sesuai dengan hati Kartini terhadap sistem yang diterapkan di lingkungan Kartini terkait pendidikan, poligami, serta pandangan masyarakat terhadap perempuan yang masih bersikap menganggap rendah terhadap perempuan.

Melalui sahabat pena ini Kartini menyampaikan keluh kesah perlawanan terhadap sistem yang tidak seharusnya diterapkan di lingkungannya melalui tulisan-tulisan yang dikirim ke Sahabat Pena Kartini.

Sebagai perempuan yang hidup di lingkungan dengan dikelilingi orang Belanda, menyebabkan Kartini juga tidak bisa lepas dari karya-karya yang berasal dari Belanda. Terlebih banyak buku yang diberikan oleh sahabat pena, ayahnya dan dari sekolahnya juga menggunakan bahasa belanda.

Hingga suatu saat Kartini rela menghabiskan waktunya sendiri demi menghabiskan satu buah buku yang berjudul Hilda Van Suylenburg. Kartini menganggap bahwa buku ini menjadi ratu dari segala karya yang memiliki roman emansipasi perempuan. Di mana sesuai dengan keinginan Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan keinginannya untuk membuat gerakan emansipasi.

Bagi Kartini, setiap buku berhak ia baca tanpa ada batasan-batasan apapun. Ia juga memiliki pembendaharaan buku yang berasal dari agama Nasrani dan Budha. Kartini sangat gemar menuangkan ide dalam sebuah tulisan.

Tiap kali Kartini memiliki gagasan dan pemikiran, maka ia langsung mencatat dalam sebuah buku supaya tidak hilang. Kartini juga pernah diminta untuk menjadi kolomnis di sebuah koran yang diterbitkan oleh Pemerintahan Hindia Belanda.

Hasil karya Kartini juga sangat dikenal oleh kalangan Hindia Belanda. Ia menceritakan keadaan Jawa di bawah kungkungan feodalisme. Kartini juga menyampaikan kritik terhadap kekejaman yang menimpa perempuan pada zamannya.

Kritik tentang pendidikan yang dibatasi, laki-laki yang diperbolehkan poligami, serta wacana perempuan yang selalu hina dan membawa kesialan. Kartini resah melihat kasus-kasus tersebut dan menuangkan perlawanan melalui gagasan yang ia tulis.

Seringkali jika melihat kegiatan dalam rangka memperingati Hari Kartini sejak SD, SMP, SMA biasanya tidak terlepas dari kegiatan fashion show, memasak, berdandan dan segala pekerjaan yang sebenarnya dikritik oleh Kartini pada zamannya.

Emansipasi yang seharusnya dibumikan bukan lagi soal sosok perempuan dan pekerjaan domestik (pekerjaan rumah tangga), melainkan mengikuti perkembangan zaman jika perempuan siap berdiri dalam ranah publik.

Harapannya dengan refleksi ini, semangat dalam merawat dan membumikan literasi semakin tumbuh. Segala bentuk tindakan kekerasan dan ketidakadilan di negara ini masih kerap terjadi dan menimpa perempuan.

Sudah saatnya gerakan-gerakan yang dibentuk dalam rangka Hari Kartini juga gerakan yang memberikan manfaat dan kemaslahatan hidup tanpa melemahkan perempuan maupun laki-laki.

Hidup ini adalah serangkaian pengalaman dan pengalaman akan semakin berharga jika diabadikan dalam sebuah tulisan. Perlawanan terhadap ketidakadilan dapat dipupuk melalui pemikiran, serta cerdasnya pemikiran ditumbuhkan dari bacaan dan literasi yang terus digerakkan.

 

Sumber:

Ulum, Amirul. 2019. Kartini Nyantri. Global Pres : Bantul, Yogyakarta.

Leave a Response