Suara Gus Faiz menggema di ruangan. Nana yang sedari tadi tak melepaskan pandangannya masih saja khusyuk. Bukan khusyuk terhadap kajian yang tengah disampaikan Gus Faiz. Melainkan, terhadap wajah Gus Faiz yang lama-lama mengingatkan Nana kepada seseorang.

Nana mengerjapkan matanya. Membiarkan kelopak mata miliknya berkedip beberapa kali. Mungkin Nana salah orang atau Gus Faiz hanya mirip dengan seseorang yang Nana kenal.

“Na, khusyu sekali kamu ini. Khusyu karena kajiannya bagus atau karena yang menyampaikan adalah Gus Faiz?” Rani bertanya dengan nada menggoda tak lupa beserta cubitan lembut yang mendarat di lengan Nana.

“Ssst, Rani! Engga boleh berisik. Tentu khusyuk sama kajiannya donk. Oiya, jadi nama beliau  itu Gus Faiz?”

“Kamu engga tahu Gus Faiz, Na? Gusnya Abah Hasan yang engga hanya jadi idaman temen-temen di kajian rutin organisasi kita ini, tapi jadi idaman di seluruh penjuru pesantren putri.” Rani menjawab sambil nyengir-nyengir.

“Aih, kan aku baru pulang minggu lalu, Ran. Tahu sendiri selama dua tahun magang profesi, aku ikut kajian rutinnya kalau pas pulang aja.” Nana menimpali.

“Oiya, kelupaan. Hehe. Soalnya kajian rutin ini kan ide kamu dulu, Na. Masih ingat banget gimana hectic-nya awal-awal kajian biar bisa istiqomah sampai sekarang. Makanya, aku selalu ngerasa kamu selalu ikut kajian meski lagi di tanah rantau.” Rani nyengir lagi.

“Mbak-mbak cantik, kajiannya belum selesai, jangan diskusi sendiri dulu.” Wajah Hasna menyembul di antara lengan Nana dan Rani bersamaan kalimat yang keluar barusan.

Nana dan Rani lekas nyengir sekaligus mengangguk bersamaan.

Nana menghadapkan wajahnya ke depan kembali. Meski begitu, pikirannya tenggelam dan berputar-putar lagi.

Sejak dua tahun lalu–sejak Nana magang di rumah sakit—Nana tidak lagi mengorganisir kajian rutin yang dibentuknya dulu bersama sebelas kawan-kawan lainnya. Karena itulah Nana tak terlalu paham siapa saja yang sekarang mengisi kajian rutin setiap jadwalnya.

Waktu berlalu, menghantarkan Gus Faiz pada kalimat wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Nana yang masih tenggelam dengan pikirannya, namun memusatkan matanya pada wajah Gus Faiz dibuat kaget.

Kedua iris Gus Faiz tepat saling bertatap dengan mata Nana. Tidak tertinggal, sebaris pelangi tipis yang melengkung di bibir Gus Faiz.

Cepat-cepat Nana mengalihkan pandangan. Cepat-cepat Nana mengatur jantungnya yang berdetak tak beraturan.

Aiih Nana. Itu pasti senyum dan tatap untuk jamaah. Kenapa Nana jadi aneh begini?!” Hati Nana berucap menenangkan diri sendiri.

Namun, meski bersikeras mengalihkan pikirannya. Seseorang yang Nana ingat justru semakin jelas raut wajahnya.

Nana semakin yakin bahwa Gus Faiz adalah orang itu. Lelaki yang mengucap janji kepadanya tepat setahun lalu.

“Na, mau tahu nggak rumor yang lagi bikin patah hati teman-teman kajian dan santri putri di pesantren Abah Hasan?” Pertanyaan Rani mengaburkan lamunan Nana.

“Apalagi.. apalagi.. Aduh kayaknya selama aku di tanah rantau banyak sekali ketinggalan info nih.” Nana menjawab sambil  tertawa kecil.

“Katanya nih, Gus Faiz sebentar lagi mau nikah.”

Deg..!!

Tidak ada yang salah dengan informasi Rani. Tapi, entah mengapa kalimat itu seolah aneh di telinga Nana. Terlebih perasaan gusar yang semakin berdesir di dada Nana.

“Heh, malah kita ngomongin orang. Sudah-sudah, ayo kita fokus ke kajian Ran. Sudah tinggal penutupan dari MC ini.” Balas Nana memotong obrolan Rani.

Bersamaan dengan MC yang menutup kajian rutin malam itu, Nana pun ikut menutup hatinya. Meyakinkan diri bahwa Gus Faiz bukanlah seseorang yang setahun lalu mengucap janji kepadanya.

“Umi, Faiz izin akan melamar perempuan pilihan Faiz besok.”

Amah Nurul, ibunda Faiz yang tengah duduk di ruang tengah menghentikan muraja’ah-nya sejenak.

“Apakah kamu sudah yakin, nak? Atau keputusan ini hanya bentuk penolakan terhadap perjodohanmu?”

“Faiz sudah yakin, Umi. Bukan niat Faiz untuk menolak maksud baik perihal perjodohan Umi dan Abah. Tapi, Faiz sudah menemukan jawaban istikharah Faiz Umi.

“Perempuan yang selalu hadir sejak tiga tahun lalu di setiap istikharahmu itu, nak? Siapa namanya?”

“Nana. Namanya Nana.” Gus Faiz mengeluarkan nama itu sambil tersenyum.

Amah Nurul ikut tersenyum lantas mengangguk memberi restu atas niat putranya untuk melamar besok.

Yogyakarta, satu tahun yang lalu.

“Aku bersyukur kepada yang memberi cinta. Telah mempertemukan kamu dan aku secara nyata. Setelah ratusan hari lamanya hanya wajahmu yang menampak di mimpi-mimpi malam usai istikharahku.” Lelaki di depan Nana spontan mengeluarkan tiga kalimat itu.

Nana yang baru selesai merapatkan perban di lengan lelaki itu mengernyit bingung. Kakinya baru saja melangkah beberapa puluh menit yang lalu. Ia baru pulang dari rumah sakit tempatnya magang saat matanya mendapati seorang pengendara motor terpeleset jatuh di depannya.

Belum usai lelah selepas magang, bertemu dengan seorang tak dikenal yang jatuh tepat di depan matanya, sekarang justru kalimat-kalimat aneh menambahi pikiran Nana.

“Mohon maaf mas, saya tidak kenal mas. Saya hanya berniat menolong karena sudah menjadi kewajiban saya secara tak langsung saat berada di kondisi seperti sekarang.”

“Saya Faiz. Mbanya, siapa?” Lelaki itu bertanya nama tiba-tiba.

“Saya? Hmm, Nana.” Nana menjawab lirih.

“Terima kasih Na. Terimakasih sudah menolong saya. Terima kasih sudah hadir di hadapan saya hari ini.”

“Sama-sama. Itu hanya pertolongan pertama yang dapat saya lakukan. Sebaiknya Mas Faiz segera ke rumah sakit atau ke dokter agar mendapat penanganan lebih lanjut. Saya permisi.”

“Kapan saya boleh melamar ke rumah?” Lelaki bernama Faiz itu lagi-lagi bertanya tiba-tiba.

Nana yang merasa benar-benar tidak mengenal lelaki itu memasang wajah bingung.

“Setahun dari sekarang. Setahun dari sekarang saya akan menunggu kamu.”

Nana yang merasa suasana menjadi semakin aneh segera bergegas melangkahkan kaki. Meninggalkan lelaki bernama Faiz di belakang punggungya.

Namun begitu, kalimat-kalimat yang terasa aneh bagi Nana terus tinggal di dalam pikiran dan benaknya.

Terus tinggal sepanjang tahun. Sepanjang tahun yang bahkan tak sekalipun Nana berjumpa kembali dengan lelaki bernama Faiz itu.

Topik Terkait: #cerpen#Cerpen santri

Leave a Response