Please assign a menu to the primary menu location under menu

Dalam acara “Ngaji Turats Syaikhona Kholil”, KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) pernah diberi pertanyaan oleh salah seorang jamaah tentang fenomena oknum yang memvonis pemikir liberal terhadap beberapa tokoh kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Jamaah ini juga menanyakan soal bagaimana standar pemikiran disebut “liberal”.

Berikut jawaban Gus Baha:

Soal masalah salah paham karena kita belum alim atau kurang cocok itu jelas sunnatullah.

Nabi Musa pernah berdoa, “Ya Allah, kasih doa aku supaya semua orang menerimaku dan diam tidak mengomentariku.”

Jawabannya Allah lucu, “Aku saja sebagai Tuhan sering disalahpahami, apalagi kamu yang hanya sebatas Nabi.

Jadi santai saja dan rileks saja!

Soal liberal, kita ini kan tidak ingin menjadi namam (tukang adu domba). Liberal itu bisa bermakna positif, yaitu menerima sesuatu tanpa tekanan orang lain. Sehingga kepentingan Nabi menerima Perjanjian Hudaibiyah itu satu hal, orang bisa membicarakan apa saja.

Padahal saat itu orang Islam bisa masuk kafir, dibiarkan. Sedangkan yang kafir masuk Islam harus dikembalikan.

Semua perjanjian merugikan Nabi. Tapi, Nabi diuntungkan satu hal, yakni orang boleh berdiskusi tentang Islam, baik yang setuju maupun yang menentang.

Akhirnya orang pada diskusi tentang Islam, kemudian siapa pun yang mempunyai nalar punya akal, akhirnya masuk Islam.

Akhirnya diskusi-diskusi ini memenangkan Islam. Jadi jika liberal dimaknai berpikir bebas tanpa tekanan, maka itu bisa bagus, karena hanya mengikuti kebenaran.

Kata Imam Syafi’i:

“Karena akal dipaksa menerima kebenaran.”

Tapi, kalau liberal dimaknai orang tidak mau diatur masalah cara menutupi aurat, menahan nafsu, nah itu mesti buruk.

Jadi, itu kan urusan sedang benci dan sedang suka.

Jadi, liberalisme dengan makna kebebasan berpikir, yang kita berharap mengarah ke Islam seperti zaman Perjanjian Hudaibiyah, yaitu positif. Kalau liberalisme tanpa aturan yang negatif.

Sampean tanya, “Kapan Gus, kita tahu itu?”

“Kapan-kapan kan bisa. Kan tidak mendesak.”

Liberal itu kata yang konotasinya bisa bermakna positif, tentu orang akan mengarah negatif karena dianggap liberal itu tidak mau ikut aturan. Tapi, yakinlah orang akan dipaksa untuk menerima kebenaran.

Tapi, kita tentu mempunyai cara tertentu agar orang mudah iman. Makanya, kita selalu berdoa اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ.

Jadi, Islam itu yang rileks, yang happy.

Link Ngaji Versi Audio-Visual:

Gus Baha – Ditanya tentang Liberalisme

Leave a Response