Judul buku      : Muhammad Nabi Cinta: Catatan Seorang Nasrani tentang Rasulullah Saw.

Penulis             : Craig Considine

Penerbit           : Noura
Cetakan            : September 2018
Tebal                 : 181 halaman
ISBN                 : 978–602-385-538-4

 

Tidak sedikit sarjana non-muslim yang mengagumi Nabi Muhammad. Mereka menilainya dari aspek-aspek tertentu. Penulis buku ini, Craig Considen,  sarjana Nasrani mengagumi Nabi Muhammad dari aspek perjuangan humanisnya. Ada tiga deskripsi perjuangan humanis Nabi Muhammad yang ia uraikan dalam buku ini, yakni penghargaan terhadap kelompok yang secara teologis, ras, dan gender berbeda.

Bagi Nabi Muhammad, Islam yang ia bawa merupakan misi kerahmatan bagi seluruh alam. Gerak dakwahnya tidak hanya mengabarkan kebenaran Islam, tapi juga membenarkan kebenaran pihak-pihak lain untuk menghindari konflik memperebutkan kebenaran yang biasanya berujung pada permusuhan yang menyalahi misi kerahmatan itu sendiri. Craig mengulik kebijakan Nabi Muhammad saat mengakomodasi penganut  agama berbeda.

Nabi Muhammad mengirimkan surat ajakan keislaman kepada penduduk Yaman. Penduduk Yaman yang sudah memeluk agama Nasrani menolak ajakan tersebut. Bahkan mereka mengutus  65 agamawan plus cendekiawan ke Madinah untuk berdialog dengan Nabi Muhammad. Banyak hal yang mereka sepakati kecuali persoalan teologis. Nabi Muhammad menghargai perbedaan tersebut. Begitu tingginya apresiasi Nabi, sampai-sampai beliau mempersilakan mereka untuk melakukan ibadah di Masjid Nabawi. “Kalian adalah pengikut Tuhan. Silahkan berdoa dalam masjidku. Kita semua saudara sesama manusia, “ kata Nabi (hlm 6).

Craig menerima surat elektronik dari orang muslim bahwa betapapun ia mengagumi Nabi Muhammad tetap saja akan masuk neraka sebelum memeluk Islam. Si Muslim itu beralasan bahwa agama yang diterima di sisi Allah hanya Islam. Agama-agama lain tertolak.

Craig melihat bahwa orang tersebut belum memahami ajaran agamanya secara holistis. Dia mengutip ayat 82 surah Al-Maidah yang menyatakan bahwa orang Nasrani merupakan Ahli Kitab yang memiliki akar ajaran yang sama dengan Islam. Dia juga mengutip lanskap historis akan konfesi Nabi Muhammad terhadap penganut Nasrani sebagai saudara seiman.

Dengan para biarawan Sinai, Mesir, Nabi Muhammad juga menjalin kesepakatan untuk saling menjaga solidaritas dan keamanan. Saat Gereja mereka rusak, Nabi memerintah para sahabat untuk membantu memperbaikinya. Dengan tegas beliau mengatakan bahwa siapapun yang menyakiti pemeluk Nasrani sama halnya dengan menyakiti keluarga beliau sendiri (hlm 140).

Jika memang selain Islam adalah tidak sah, kata Craig, tentu sejak awal Nabi Muhammad sudah mendoktrin dan memaksa non-muslim untuk konversi ke dalam Islam. Saling berebut agama paling benar akan mudah menyesatkan agama-agama lain.  Sepanjang sejarah manusia, klaim demikian yang menyebabkan benturan berdarah antara penganut agama.

Nabi Muhammad juga menghapus rasialisme. Dengan keras dia mengecam umatnya yang merendahkan orang  lain karena perbedaan warna kulit. Kendatipun berasal dari Arab, beliau dengan tegas mengatakan bahwa Arab tidak lebih tinggi dari yang non-Arab. Penghormatan bukan atas ras, namun didasarkan pada kualitas pribadi, keimanan, perbuatannya (hlm 12).

Craig juga mengangkat perjuangan Nabi Muhammad mengentaskan martabat perempuan. Adat Arab yang membunuh anak perempuan dihapus. Istri dijadikan warisan juga dilarang. Secara berlahan perempuan diberi ruang kebebasan yang setara dengan pria dalam segala lini kehidupan.

Penelitian Craig yang tertuang dalam buku ini bertujuan untuk mengangkat tabir kebenaran ajaran Islam yang ditutupi perilaku buruk sebagian umatnya dan juga opini sepihak yang beredar di tengah non-muslim. Dengan menampilkan ajaran Islam yang dia ciduk langsung dari sikap Nabi Muhammad, kemungkinan besar umat Islam akan kembali sepenuhnya pada teladan Nabi mereka.

Objektivitas Craig sebagai non-muslim mengkaji agama Islam layak dipuji. Dia menjadi contoh bagi umat beragama untuk tidak antipati terhadap agama lain walaupun dalam banyak aspek memiliki perbedaan signifikan dengan keyakinannya. Kesediaan mencari aspek persamaan dan menghargai yang berbeda merupakan sikap bijak yang diperlukan dalam dunia yang mudah kacau sebab agama itu sendiri.

Topik Terkait: #Rasulullah#Toleransi

Leave a Response