Judul Buku      : Sister Fillah You’ll  Never be Alone

Penulis             : Kalis Mardiasih

Penerbit           : Penerbit Qanita

Tahun Terbit    : 2020

Jumlah Halaman : 125

Jika mencari buku-buku tentang perempuan, maka sebagian besar yang akan kita jumpai ialah tentang bagaimana menjadi istri yang berbakti, bagaimana cara membuat bidadari surga cemburu, bahkan saya pernah melihat sendiri buku yang membahas tentang perbuatan-perbuatan yang membuat perempuan masuk neraka! Menyeramkan sekali. Umumnya, buku-buku tesebut ditulis oleh mereka yang kurang mendalami permasalahan-permasalahan yang terjadi pada perempuan.

Hal itu menjadi salah satu alasan bagi Mbak Kalis untuk memulai menulis tentang perempuan dari perspektif perempuan. Ia  menulis  tentang perempuan sebagai subjek. Selain itu, ia pun tak pernah berhenti mengungkap apa-apa yang menimpa perempuan. Hal-hal tentang perempuan dari berbagai penjuru yang tidak tersentuh dan terpikirkan oleh banyak orang.

Mbak Kalis sudah banyak menulis artikel di beberapa media digital. Ia juga telah menulis buku yang membahas  perempuan, salah satunya adalah Sister Fillah You’ll Never be Alone yang baru saja terbit tahun 2020 ini.

Buku ini terdiri dari beberapa bab yang seluruhnya membahas tentang  perempuan dan kemanusiaan. Dengan gaya menulisnya yang ringan namun tajam, Mbak Kalis mengungkap perempuan-perempuan luar biasa yang berdiri kokoh di atas kakinya sendiri. Ia mengungkap realita kehidupan perempuan yang sering kali jauh dari ekspektasi, juga memberikan edukasi kepada siapa pun untuk memperjuangkan hak-hak perempuan.

Dalam buku ini, Mbak Kalis  mengajak pembaca untuk menyadari bahwa tidak semua perempuan bernasib baik.  Tidak semua bisa hidup layak hingga memenuhi kualifikasi sebagai perempuan ‘mulia’ yang banyak didengung-dengungkan. Seperti ungkapan perempuan di rumah, menggantungkan diri kepada  suami, tak lupa disertai pakaian anggun yang ‘sesuai daengan syariat’.

Kita sering kali tidak menyadari banyak di luar sana, perempuan yang bertindak sebagai orang tua tunggal yang harus menanggung seluruh beban keluarga, banyak buruh perempuan yang digaji lebih kecil dari laki-laki hanya karena dia perempuan. Padahal kebutuhan sama mencekiknya dengan laki-laki. Juga banyak perempuan yang tidak bisa berpakaian layak yang ‘sesuai syariat’, karena untuk makan pun mereka tak bisa menjamin perutnya akan terisi.

Hal ini menyadarkan kita, memuliakan tidaklah cukup untuk mengangkat derajat semua perempuan hingga hidupnya bisa terjamin lebih baik. Perempuan butuh disetarakan. Hingga ia tidak lagi mengalami objektifikasi dan marginalisasi hanya karena terlahir sebagai perempuan.

“Karena, dimuliakan bersifat pasif. Hal itu datang dari luar dirinya. Penting untuk mengusahakan kemuliaan dari dirinya sendiri. Pada banyak konteks, kemuliaan tidak dapat terakses oleh semua perempuan jika tidak ada  kesetaraan.” Begitu ujar Mbak Kalis dalam bukunya ini.

Banyak yang berpendapat bahwa saat ini perempuan sudah tak butuh lagi disetarakan karena perkembangan zaman yang sudah begitu maju. Sayangnya, pekembangan zaman ini tidak menjamin semua orang juga berpikir progresif.  Banyak permasalahan sosial yang terjadi pada perempuan. Salah satunya adalah pandangan menyepelekan pengalaman perempuan. Baik pengalaman biologis maupun pengalaman sosial.

Pengalam biologis perempuan mrupakan pengalaman reproduksinya yang tidak dialami oleh laki-laki. Yakni, menstruasi, melahirkan, dan menyusui. Semuanya menimbulkan rasa sakit dalam durasi yang panjang.

Sedangkan pengalaman sosialnya ialah marginalisasi (pemiskinan), subordinasi (peminggiran), stigmatisasi (cap buruk), kekerasan, dan beban ganda. Semua pengalaman perempuan ini banyak terabaikan, baik oleh pemerintah dalam kebijakannya, maupun dalam tatanan kehidupan masyarakat dalam perlakuannya pada perempuan.

Sebagai imbas dari pengabaian pengalaman perempuan itu, timbul ketimpangan gender yang terjadi dalam masyarakat. Salah satu contohnya terjadi dalam organisasi terkecil dalam masyarakat, yakni keluarga atau rumah tangga.

Dewasa ini, banyak terjadi kasus kekerasan dalam rumah tangga. Dari kasus-kasus yang telah terjadi, mayoritas yang menjadi korban adalah perempuan. Kekerasan ini bukan hanya kekerasan fisik, tapi juga mental dan verbal.

Di sini, mbak Kalis membawa opini yang menarik untuk mengatasi permasalahan pada perempuan mengenai reproduksi yang sering terjadi dalam institusi keluarga. Yakni dari kewajiban reproduksi menjadi hak-hak reproduksi.

Setelah banyak orang mengutarakan kewajiban istri dalam rumah tangga, salah satunya seperti menaati suami dan menuruti semua  keinginannya, Mbak Kalis menyampaikan hak-hak istri yang juga harus dijaga dan dipenuhi. Juga yang paling menarik ialah penekanan untuk komunikasi yang baik oleh setiap pasangan untuk mengambil keputusan dalam rumah tangga tanpa meminggirkan hak kedua belah pihak.

Di sisi lain kasus kekerasan kepada perempuan juga terjadi pada kehidupan sosial masyarakat. Kasus yang paling fatal ialah pemerkosaan, apalagi sampai diakhiri oleh pembunuhan. Miris sekali.

Untuk itu, Mbak Kalis tak henti-hentinya  menyuarakan untuk memberikan pendidikan seks kepada semua orang dan menyingkirkan pandangan tentang ke-tabu-an pendidikan seks. Dalam RUU PKS pendidikan seks ini dicanangkan diberikan dalam pendidikan formal. Bukan untuk mendemonstrasikan seks bebas, pendidikan seks ini justru bertujuan sebaliknya.

Memberikan pendidikan seks yang layak oleh ahli kesehatan, sehingga menghindarkan seseorang untuk mempelajari pengalaman seksualnya dengan jalan yang salah, seperti situs porno. Selain itu, pendidikan seks ini mengedukasi pada anak untuk menjaga organ vitalnya yang tidak boleh tersentuh oleh orang lain, sehingga menghindari terjadi kekerasan seksual untuk kedepannya.

Selain memaparkan probelmatika yang terjadi pada perempuan, Mbak Kalis juga mengangkat perempuan-perempuan hebat yang memberi pengaruh banyak dalam kehidupan sosialnya. Dengan mengambil contoh pada kasus-kasus terkini, tulisan-tulisan Mbak Kalis memang selalu menarik untuk menjadi konsumsi kita. Wallahu a’lam

 

Leave a Response