Menyambung lanjutan tulisan tentang pendidikan seksualitas pada anak yang telah dibahas sebelumnya. Jika tulisan sebelumnya lebih banyak menyoroti tentang pendidikan seksualitas pada anak secara umum utamanya di usia  balita, tulisan lanjutan ini membahas bentuk pendidikan seksualitas pada anak pada jenjang sekolah dasar. Pada jenjang sekolah dasar merupakan jenjang dimana seorang anak sudah mulai melihat realitas sosial di lingkungan sekitarnya secara lebih luas.

Berbeda dengan jenjang sebelumnya yaitu usia anak dari mulai bayi sampai balita secara umum mereka akan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar di bawah pantauan orang tua atau orang dewasa. Selain itu anak-anak di usia tersebut (di PAUD atau TK) biasanya mengenyam pendidikan formal dengan anak-anak seusianya. Artinya tidak menyatu dengan usia yang lebih tinggi di atasnya.

Hal ini berbeda ketika si anak sudah masuk di bangku sekolah dasar. Perbedaan jenjang usia yang lebih beragam menjadikan anak lebih banyak melihat situasi-situasi yang perlu banyak dipelajari.

Pada usia sekolah dasar seorang anak mencoba mengidentifikasi diri menjadi seorang individu dan bagian dari masyarakat (citizen). Beragamnya pergaulan anak di jenjang ini menjadikan orang tua harus lebih aktif memantau pergaulan dan perkembangan anak. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membentuk pemahaman tentang seksualitas pada anak usia sekolah dasar.

Pertama, memberikan pemahaman dasar tentang pentingnya keluarga. Penjelasan tentang peran keluarga beserta tanggung jawab yang harus dilakukan oleh orang tua akan menumbuhkan kesadaran agar anak tidak segan untuk berbagi informasi.

Dengan begitu proses kontrol terhadap hal-hal yang bisa mengganggu tumbuh kembang anak, seperti informasi negatif bisa difilter oleh orang tua.

Kesadaran tentang pentingnya keluarga akan menjadikan anak tidak mudah putus asa dan merasa berkecil hati, minder atau memendam masalah sendiri. Keberanian anak untuk selalu meyampaikan perasaannya pada orang tua atau keluarga harus terus dilatih.

Dengan adanya intensitas dialog antara orang tua dan anak hubungan harmonis dan saling membutuhkan dalam keluarga juga akan menjadikan anak lebih mudah untuk diberi masukan dalam pengambilan keputusan.

Kedua, mengajarkan keterbukaan agar berteman dengan siapa pun. Keterbukaan pertemanan membuat anak lebih peka terhadap kondisi di sekitarnya. Anak juga akan lebih inklusif menerima perbedaan. Dari perbedaan tersebut seorang anak belajar untuk lebih bijak dan mampu memilih alternatif terbaik dari sikap yang akan dilakukan.

Kebiasaan melihat dan menerima perbedaan akan menjadikan anak lebih ramah dengan kondisi di sekitarnya. Hal ini juga akan menjadikan anak lebih dewasa dan tidak ingin menang sendiri jika menghadapi perbedaan yang tidak berpihak padanya.

Dalam kondisi tertentu, ketika si anak melihat perbedaan seksualitas seperti ketika melihat transgender (laki-laki yang berpenampilan perempuan,atau sebaliknya), anak yang terbiasa dengan perbedaan tidak akan emosional dan tidak dengan mudah mengungkapkan judgment. Di sinilah pentingnya pemahaman tentang perbedaan yaitu agar mampu berempati dengan orang lain.

Ketiga, memberikan pengertian tentang rasa cinta dan kasih sayang serta bagaimana mengungkapkannya. Ungkapan kasih sayang merupakan dimensi kemanusiaan yang bersifat natural atau alamiah. Namun, anak juga perlu diberi pemahaman bagaimana mengungkapkan kasih sayang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarkat.

Dimulai dari keluarga, peran orang tua memberikan titik tolak penting contoh penyampaian rasa kasih sayang yang tepat. Pada siapa ia perlu mengungkapkan kasih sayang dan dengan apa, serta bagaimana pengungkapannya.

Penyampaian kasih sayang merupakan ungkapan penghargaan kepada orang lain. Untuk itu mengarahkan anak dalam penyampaian kasih sayang bisa berpengaruh pada kemampuan anak menjaga perasaan dan menejemen emosi.

Hal ini akan berpengaruh pada kehidupannya semasa dewasa, karena si anak tidak akan mudah menjadi stress, depresi atau minder jika ternyata ungkapan kasih sayangnya tidak mendapat respon yang ia harapkan.

Keempat, memberikan pemahaman tentang hakikat berpasang-pasang yang diciptakan oleh Allah atau tentang pernikahan. Hakikat berpasangan ini bisa dilakukan jika sudah ada ikatan pernikahan.

Menyampaikan pengertian penting untuk diungkapkan agar si anak memahamai bagaimana hubungan yang diperbolehkan, dan bagaimana proses seorang anak diciptakan dan dilahirkan. Dari sini pemahaman seorang anak tentang hubungan seksualitas yang sehat akan terbentuk. Bahwa tidak bisa asal-asalan melakukan atau berhubungan tanpa ada ikatan pernikahan.

Pemahaman tentang konsekwensi pernikahan dengan adanya tanggung jawab yang harus dilakukan suami atau istri menjadikan anak lebih berpikir dewasa, bahwa kelak pada usia yang sudah matang atau dewasa mereka akan diizinkan untuk memutuskan menikah. Hal ini untuk menghindari keputusan melakukan pernikahan dini yang bisa merugikan baik secara fisik, mental maupun yang lainnya.

Sebagaimana tujuan pendidikan seksualitas adalah untuk menghindari anak (baik laki-laki maupun perempuan) agar terhindar dari tindakan kekerasan sesksual, peran penting dari orang tua untuk memberikan beberapa pemahaman yang telah disebutkan di atas adalah titik kunci.

Selain itu, peran-peran dari lembaga sekolah dan lembaga pengajaran informal (social keagamaan) sangat menentukan pemahaman bagi anak. Untuk itu kurikulum tentang pendidikan seksualitas sesuai jenjang pendidikan penting untuk mulai diformulasikan dalam buku pegangan di sekolah-sekolah. Wallahu a’lam.

 

Leave a Response