Sains berhutang kepada seseorang Afrika-Amerika: perempuan, ibu, dan berkulit hitam. Namanya Henrietta Lacks. Pada 1951, Henrietta Lacks mendatangi rumah sakit Johns Hopkins karena kanker rahim. Ia sudah berobat, tapi tetap meninggal dan terlupakan.

Sel-sel Henrietta yang diambil dan dinamai HeLa justru terus hidup dan berbiak dari laboratorium ke laboratorium di dunia. Sel tubuh Henrietta melahirkan penemuan-penemuan baru di dunia bioetika modern. Rebbeca Skloot membuka-melacak kehidupan Henrietta dalam buku Kehidupan Abadi Henrietta Lacks (2011).

Sel-sel Henrietta yang terpenting dalam medis seratus tahun terakhir, menjadi bagian riset gen penyebab kanker dan peredam kanker, hemofilia, penyakit Parkinson—memungkinkan penemuan vaksin polio, kemoterapi, dan lain-lain. Kromosom dan protein sel Henrietta terus dipelajari.

Namun untuk sumbangan yang sangat berharga ini, justru keluarga Henrietta tidak tahu apa-apa selama dua dekade. Di balik daya hidup sains yang mengubah kematian Henrietta menjadi keabadian, di sana ada kenyataan tentang rasisme, kemiskinan, diskriminasi.

Sel di dalam tabung bukan sekadar “sesuatu” yang diteliti. HeLa adalah seorang perempuan yang pernah hidup—mencintai, menjadi ibu, ataupun menari.

Kemajuan-kemajuan menakjubkan dicapai ilmu pengetahuan, menyimpan cerita-cerita menakjubkan pula tentang perempuan meski cenderung tragis. Mereka tidak diakui atau dianggap bukan karena kalah secara kognitif, tapi tata sosial, budaya misoginis, dan bahkan agama membuat perempuan tabu terlalu dekat dengan pengetahuan.

Mileva Mitza Maric, perempuan yang pernah dicintai dan dinikahi Einstein misalnya, menjadi satu-satunya perempuan di kelas Kelompok Enam Profesor Weber yang tersohor di Politeknik Federal Swiss pada 1896. Marie Benedict menceritakan riwayat Mileva dalam novel The Other Einstein (2018). Ada Einstein yang lain, bukan seorang laki-laki dan terkubur di balik sosok abadi Einstein.

Einstein yang lain itu seorang perempuan, cerdas, pincang, dan berdarah Serbia. Ia belajar matematika dan fisika sama seriusnya dengan Einstein. Melalui proses risetnya, Marie menemukan, “Dia justru menjadi fokus banyak perdebatan dalam komunitas fisika.

Peran yang mungkin dimainkannya dalam peletakan dasar teori Albert yang inovatif tahun 1905 menimbulkan polemik, terutama sejak setumpuk surat antara kedua sejoli ini dari tahun 1897 hingga 1903—ketika Mileva dan Albert sama-sama menjadi mahasiswa dan baru menikah—ditemukan pada tahun 1980-an. Dalam surat itu, Albert Einstein dan Mileva mendiskusikan berbagai proyek yang mereka garap bersama.”

Rasa cinta yang besar dan akhirnya pernikahan, justru memadamkan api pengetahuan. Einstein semakin gemilang, Mileva meredup. Kehidupan rumah tangga justru tidak ikut membawa Mileva semakin merengkuh pengetahuan di samping Einstein.

Peran dan kegeniusan Mileva diingkari dan ia dipaksa cukup menjadi ibu rumah tangga biasa. Einstein menguras ambisi ilmiah Mitza. Dunia melupakan keterlibatan Mitza sebagai pemikir dan penggarap teori khusus relativitas.

Gairah akademis dan kehidupan rumah tangga, keduanya seringkali harus dibuktikan berjalan beriringan dan beres, saat perempuan ingin merengkuh ilmu pengetahuan. Memasak sama menariknya dengan meneliti spesimen di laboratorium.

Pertanyaan menjadi ilmuwan di abad ke-20 disusun menjadi buku dokumentatif penting oleh Vivian Gornick, Wanita dalam Sains (1988). Meski menghimpun pengalaman perempuan ilmuwan di Amerika, cerita mereka tampak relevan bagi kasus sains dan perempuan di mana pun. Para perempuan dari pelbagai latar ini bercerita tentang kesenangan, ambisi, dukungan-tentangan keluarga, diskriminasi, stigma, dan pilihan.

Tidak ada pilihan yang mudah dan sia-sia. Vivian bercerita tentang seorang ilmuwan berusia 54 tahun, telah membesarkan 6 anak dan sejak berusia 40 tahun ia kembali belajar dan menjadi seorang ahli biologi. Perempuan ini menjabat sebagai peneliti kepala di sebuah laboratorium sekolah kedokteran. Dukungan dari suami hadir sejak awal. Mereka bahkan tidak keberatan hanya bertemu di akhir pekan.

Namun di waktu tidak terduga, konsekuensi di luar sainslah yang menguji. Vivian menulis, ‘Kemudian suaminya dipindahkan ke pantai barat, dan tiba-tiba relasi mereka menjadi suatu masalah. “Saya rasa Dave sangat terkejut karena saya tidak mau mengikutinya ke California,” kata ilmuwan itu.

“Tuhan tahu bahwa saya sangat ingin mengikutinya pindah. Saya sangat merindukannya.” Ditundukkannya kepalanya, tetapi kemudian diangkatnya lagi dan ia berkata, “Tetapi apakah yang akan saya lakukan dalam sisa hidup saya, bila saya meninggalkan sains? Saat ini saya tidak dapat berhenti menggunakan daya pikir saya.”’

Novel The Lie Tree (2020) Frances Hardinge dan diilustrasi oleh Chris Riddell, ikut membentangkan rumitnya perempuan merengkuh pengetahuan. Tokohnya anak perempuan bernama Faith Sunderly yang dilahirkan di keluarga ningrat.

Ayah Faith, Erasmus Sunderly- agamawan naturalis, justru menegaskan batasan yang harus ditaati demi menjadi perempuan “seharusnya”. Sepintar dan seingin apa pun Faith, ia tidak akan dipersiapkan untuk pekerjaan sains karena kecelakaan biologis: terlahir sebagai perempuan.

Adik Faith, Howard Sunderly, yang agak ringkih, suka bermain, dan tidak terlalu suka belajar, sejak awal telah digariskan mewarisi jejak keintelektualan Erasmus. Perempuan akan menjadi istri tanpa perlu tergoda pengetahuan, seolah membenarkan konspirasi antara evolusi dengan takdir, bukan karena bentukan agama dan budaya.

Dalam perburuan pohon muslihat yang disembunyikan oleh Erasmus, justru membuka kenyataan hebat sekaligus tragis. Tokoh utama dari perburuan pohon itu adalah perempuan-istri bangsawan yang tampak ringkih dan aristokrat bernama Agatha.

Ketika Agatha jatuh ke jurang demi memburu pohon, Faith menyimpan kekaguman yang murung, “Agatha sudah tiada. Pikirannya yang pintar, licik, semangatnya akan ilmu pengetahuan, dan obsesinya menguap ke udara begitu saja. Sebentar lagi Agatha hanya akan menjadi sekadar ‘istri tercinta’ di sebuah nisan pualam.”

Sains sering menokohkan bapak dan diwariskan ke anak (laki-laki). Ibu lebih berperan dalam pembentukan budi pekerti dan pembelajaran etika. Nobelis Fisika, Richard Feynman, di buku Feynman, Genius Fisika Paling Cool Sedunia (2006) mengakui, “ayah sudah dari dini mengajariku tentang dunia dan betapa menariknya dunia ini.”

Tentang ibu, Feynman mengatakan, “Aku belajar dari ibu bahwa bentuk tertinggi dari pengertian yang bisa kita raih adalah tertawa dan saling mengasihi sesama manusia.”

Terlepas dari pembagian peran, Feynman menandari pengasuhan dan rumah sebagai basis kecintaan sains. Feynman belajar matematika lewat permainan ubin, membaca ensiklopedia atau buku-buku, pergi ke gunung, mengamati bunga dan burung, dan menjelajah hutan.

Daoed Joesof, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1978-1983 yang diceritakan dalam buku Emak (2005) juga memiliki cerita sains dari rumah yang dibentuk oleh ibu yang dipanggil emak.

Emak menjadi sosok peletak kecintaan sains, sekaligus pengajaran budi pekerti, religiusitas, dan etos kerja keras. Misalnya saat piknik ke pantai emak berkata bahwa duduk-duduk di pantai bukan sekadar mediasi menikmati keindahan, tapi menjadi bukti bahwa bumi itu bulat seperti bola.

Anak sebaya Daoed biasanya sudah tahu bahwa bumi itu bulat, tapi tidak pernah mencari pembuktian. Emak pun menyuruh Daoed mengamati perahu. Garis lengkung bumi membuat tiang kapal terlihat lebih dulu, dikuti oleh layar dan  kemudian badan perahu. Emak juga menjelaskan perputaran bumi yang menyebabkan terjadi siang dan malam.

Harian Kompas, 16 Agustus 2021, memuat sosok Carina Joe, salah satu pemilik hak paten vaksin Covid-19 AstraZeneca. Setelah lulus dari SMAK 1 Penabur Jakarta, Carina memutuskan menekuni studi bioteknologi.

sCarina kali pertama terlibat penelitian di luar negeri sejak merampungkan program magister bioteknologi di Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), Australia. Di balik vaksin yang telah disetujui dan digunakan di 178 negara ini, ada perempuan terlibat.

Tragedi permulaan tentang buah terlarang pernah membuat perempuan sebagai yang bersalah. Terlalu ingin dekat pada pengetahuan seolah menyalahi kodrat. Di kehidupan hari ini, rekonsiliasi terus berlangsung. Para perempuan ada di jalan pengetahuan dan zaman akan terus mencatat cerita-cerita mereka.

 

Leave a Response