Identitas Buku

Judul               : Hilda: Cinta, Luka, dan Perjuangan

Penulis            : Muyassarotul Hafidzoh

Tebal               : 508 halaman

Terbit              : 2020

Penerbit           : Pustaka 1926

ISBN               : 978-602-53480-6-8

Stigma terhadap perempuan sepertinya masih belum selesai. Ia masih kerap dianggap sebagai biang terjadinya tindakan asusila. Mereka yang beranggapan demikian lupa bahwa lelaki diperintah untuk menundukkan pandangannya dalam arti menjaganya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Setidaknya, itulah yang hendak disampaikan Muyassarotul Hafidzoh dalam novel Hilda: Cinta, Luka, dan Perjuangan. Novel ini dimulai dengan keberanian Hilda, tokoh utama, menyampaikan pandangannya dalam sebuah diskusi di pesantren tempat ia menempuh studi. Hal ini juga yang membuat Wafa terpikat dengan perempuan yang memiliki masa lalu yang tidak diinginkannya.

Peristiwa itu membuka gelombang konflik, mulai dari ketertarikan Wafa, munculnya masa lalu Hilda, hingga pembatalan perjodohannya dengan cucu dari teman ibu nyainya. Dengan kemunculan masa lalu di tengah cerita, penulis sepertinya sengaja membuatnya dengan tidak kronologis guna menjaga ritme konflik.

Sudut pandang pertama tidak hanya ditampilkan dari sosok Hilda, tetapi juga dari Rindang, sosok yang membantu advokasi kasus yang dialami Hilda. Namun, hal ini tidak ditampilkan dari tokoh lainnya, khususnya Wafa. Padahal, tokoh ini juga merupakan sosok penting dalam cerita tersebut. Sudut pandang pertama ini memberikan sentuhan perasaan yang lebih kepada pembaca.

Hal lain yang cukup disayangkan adalah ketidakhadiran tokoh antagonis di dalam pesantren. Kehadiran Andin memang menjadi pengiring cerita cintanya dengan Wafa. Namun, jika ada satu santri lain atau keluarga Bu Nyai yang tidak senang dengan kedekatan keduanya tentu akan menambah keseruan cerita. Perseteruannya bisa lebih meruncing. Hal ini sebetulnya diupayakan penulis dengan kehadiran Zulfi, tetapi tidak cukup untuk memperuncing keadaan. Pasalnya, tidak ada perseturuan di antara Zulfi dan Hilda.

Hal lain yang cukup mengganggu adalah soal kemunculan tokoh seperti orang gila yang diasumsikan sebagai pelaku Hilda. Kehadirannya terkesan mengada-ada karena tidak jelas juntrungannya, tiba-tiba saja ada dan dengan mudahnya juga hilang dibawa petugas keamanan. Ada dua hal yang saya tangkap dari kemunculan itu, yakni (1) pelaku kekerasan seksual akan hidup sengsara, dan (2) menjadi ‘lem perekat’ hubungan Hilda dengan Wafa. Sebab, upaya perlindungan Wafa dari serangan sosok itu menjadi faktor munculnya kenyamanan tersebut. Namun, hal pertama yang tidak dijelaskan prosesnya membuat pembaca pasti bertanya-tanya.

Meskipun demikian, cerita ditulis dengan selesai. Trauma Hilda yang takut tersentuh lawan jenis menjadi sembuh seiring proses kehidupan yang berlangsung. Ini juga menjadi pesan bahwa semua orang berhak bahagia, khususnya perempuan yang sebagaimana ditulis di awal, kerap mendapat stigma dan masih temarjinalkan mengingat patriarkisme yang sedemikian kuat.

Muyas menampilkan wajah pesantren sebagai sebuah solusi atas beragam problematika masyarakat. Pertama, penerimaan Hilda sebagai seorang korban kekerasan seksual menjadi penanda penting mengenai pesantren sebagai jawaban atas beragam masalah masyarakat.

Sebab, di saat yang bersamaan, korban kekerasan seksual dianggap sebagai sebuah masalah dalam institusi lain sehingga harus dikeluarkan, sebagaimana Hilda. Pesantren justru menerimanya dengan segala konsekuensi dan masalahnya. Lebih dari itu, Hilda bahkan dapat melanjutkan pendidikannya di tengah ancaman keterputusan studinya saat mengetahui dikeluarkan dari sekolahnya.

Masalah lain yang dijawab pesantren adalah soal perjodohan. Hilda sempat dijodohkan Bu Nyainya dengan cucu dari temannya, tetapi batal karena keluarga enggan menerima sikap Hilda yang masih enggan disentuh lawan jenis mengingat traumatik yang dialaminya. Namun, Ibu Nyainya juga yang menjadi penyulam cintanya dengan Wafa. Soal ini lumrah terjadi saat masyarakat mengalami kebuntuan soal jodoh, kiai atau nyai menjawabnya.

Hal demikian juga secara khusus diceritakan KH Ahmad Mustofa Bisri dalam cerita pendeknya berjudul Rizal dan Mbah Hambali yang termaktub dalam Cerita-cerita Pengantin. Rizal merupakan perjaka tua yang kerap menerima perundungan dari rekan-rekannya.

Untuk menjawab singgungan sejawatnya, ia mengadu kepada Mbah Hambali. Bukan saja jawaban, Rizal seakan mendapat durian runtuh. Pasalnya, belum mengutarakan makusd kedatangannya, Mbah Hambali langsung membuat pengumuman bahwa Rizal adalah calon menantunya. Ia pun langsung menerimanya.

Kedua cerita perjodohan ini memberikan gambaran yang sama, bahwa sulit bagi santri untuk menolak permintaan kiai atau nyai karena otoritas dan karismanya yang sedemikian kuat. Hal tersebut ditambah dengan keyakinan masyarakat, khususnya santri, atas setiap laku lampah kiai dan nyai yang tidak akan menjerumuskan mereka ke sesuatu yang tida diharapkan. Maka, penerimaannya adalah sebuah kepatuhan atas nama agama.

Tampilnya Bu Nyai dalam cerita juga menjadi hal penting di saat wacana pesantren identik dengan kiai. Bu Nyai bahkan menjadi sosok penting bukan saja dalam perjodohannya, tetapi juga transformasinya menjadi perempuan yang haus akan ilmu dengan disetujuinya melanjutkan studi master di Jogja sekaligus memberinya rekomendasi tempat tinggal dan kerja.

Selama ini, pesantren masih termarjinalkan dalam dunia sastra Indonesia. Beberapa novel angkatan 2000 memang sudah tampak menampilkan dunia pesantren sebagai latarnya. Tetapi, institusi pendidikan khas Indonesia itu masih belum utuh digambarkan, hanya menjadi ‘sampiran’ belaka.

KH Abdurrahman Wahid 40-an tahun silam gelisah akan hal ini. Dalam sebuah artikelnya yang berjudul Pesantren dalam Kesusastraan Indonesia, kiai yang akrab disapa Gus Dur itu mengungkapkan bahwa pesantren belum menjadi sebuah objek dalam sastra Indonesia, meskipun beberapa sastrawan pernah mengenyam pendidikan di sana.

Ia hanya menyebut Robohnya Surau Kami, sebuah cerita pendek karya AA Navis yang berhasil mengungkapkan persoalan pesantren yang sarat akan nilai-nilai agama, meskipun latarnya memang perkampungan, bukan pesantren ‘an sich’.

Gus Dur menyebut ada dua hal kesulitan pesantren masuk dalam dunia sastra Indonesia, yakni (1) soal abstrak yang sulit dituangkan dalam dunia fiktif, seperti determinasi (al-jabru), free destination (iradah), hingga intenstitas ketundukan kepada Tuhan; dan (2) kakunya pandangan masyarakat terhadap manifestasi kehidupan beragama. Hal kedua ini menimbulkan konflik saat kemunculan Ki Pandji Kusmin dengan karyanya Langit Makin Mendung.

Namun, Muyas dengan penuh keberanian tampil menjawab kesulitan itu. Pertama, ia mampu menggambarkan kehidupan pesantren sebagai sebuah latar dengan detail kehidupan dan geografisnya. Hilda sebagai tokoh utama ditampilkan sebagai sosok yang sangat taat menjalankan segala aturan agamanya.

Bahkan, beragam pandangan juga dimasukkan penulis dan membiarkan tokohnya memilih satu di antaranya. Hal itu memberikan gambaran akan kekayaan pengetahuan pesantren atas suatu diskursus dan pilihan tokoh atas satu pandangan menunjukkan sikapnya. Cerita demikian ditampilkan dengan sangat menarik oleh penulis.

Selanjutnya, penulis juga menyajikan cerita dengan tema yang sangat menantang, kesetaraan perempuan. Pasalnya, tema demikian tidak saja menuai perdebatan di kalangan umum, di internal kaum santri sendiri juga masih tabu. Persoalan dramatis dengan penguasaan penuh atas segala macam konfliknya membuat Muyas berhasil menjawab kegelisahan Gus Dur.

Lebih dari itu, Muyas juga menampilkan sisi-sisi lain dari pesantren, seperti gombalan cinta dengan mengutip syair-syair Alfiyah Ibnu Malik, sebuah kitab yang berisi seribuan syair tentang tata bahasa Arab, dan syair-syair cinta dari Rumi. Hal lain yang dimunculkan berkaitan dengan ragam pandangan atas suatu kasus, seperti pengguguran kehamilan.

 

Leave a Response