Riset dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti penyelidikan (penelitian) suatu masalah secara bersistem, kritis, dan ilmiah untuk meningkatkan pengetahuan dan pengertian, mendapatkan fakta yang baru, atau penafsiran yang lebih baik.

Sedangkan riset dalam situs Wikipedia berarti suatu proses investigasi yang dilakukan dengan aktif, tekun, dan sistematis yang bertujuan untuk menemukan, mengintepretasikan, dan merevisi fakta-fakta. Penyelidikan intelektual ini menghasilkan suatu pengetahuan yang lebih mendalam mengenai suatu peristiwa, tingkah laku, teori, dan hukum serta membuka peluang bagi penerapan praktis dari pengetahuan tersebut.

Dari kedua definisi tersebut bisa diambil sebuah kata kunci bahwa riset adalah kerja intelektual untuk meningkatkan sebuah pengetahuan. Berbicara soal riset, kegiatan yang berbasis intelektual ini biasanya diketahui oleh peserta didik di jenjang SMP dan SMA khususnya ketika siswa membuat karya ilmiah. Di jenjang perguruan tinggi juga demikian, kegiatan tersebut dilakukan ketika mahasiswa membuat karya berbasis ilmiah. Artinya kegiatan riset-meriset biasanya baru diketahui oleh anak didik dari jenjang SMP hingga perguruan tinggi (PT).

Riset Anak SD

Pertanyaan yang muncul kemudian, mungkinkah anak usia sekolah dasar (SD) sudah mampu untuk meriset? Jawabannya mungkin saja! Adalah anak-anak SD Sanggar Anak Alam (Salam) Yogyakarta yang sejak usia anak-anak sudah belajar riset secara mandiri.

Di sekolah yang memiliki jenjang Kelompok Belajar (KB) hingga Sekolah Menegah Atas (SMA) ini anak-anak kelas 4-6 bebas untuk menentukan tema risetnya sesuai dengan minat dan kemampuannya. Riset yang dilakukan oleh anak-anak Salam tersebut dilakukan untuk menciptakan “peristiwa belajar”. Ada empat tahapan dalam riset mereka yakni tahap perencanaan, pencarian data, pengolahan data, dan presentasi (Gernatatiti dkk: 2019).

Oyi adalah contoh siswa yang melakukan riset. Siswa yang berusia 10 tahun tersebut memilih riset “Membuat Layang-layang”. Setelah melalui 4 tahapan riset dia praktik membuat layang-layang sebanyak tiga kali. Tetapi ketika diterbangkannya selalu gagal, layang-layang tidak bisa terbang. Dari kegagalan yang dialami Oyi justru dia dan teman-temannya memperoleh banyak pengetahuan.

Dari riset itu Oyi berhasil mengamati bahwa ada beberapa faktor yang memengaruhi sebuah layang-layang bisa terbang: bahan layang-layang, perbandingan ukuran bambu, letak bambu agar berimbang, dan angin.

Tak hanya berhenti di situ, setiap pagi fasilitator mengundang seorang anak untuk menceritakan perkembangan risetnya. Dari hal ini tentu setiap anak memiliki data yang berbeda-beda. Masing-masing anak berkontribusi menyumbangkan pengetahuannya untuk mencapai indikator umum yang ada di setiap kelas. Pada tahap inilah fasilitator memiliki peran penting untuk mengolah data mentah menjadi sumber belajar bersama.

Pendiri Indonesian Society for Social Transformation (Insist) Yogyakarta, Roem Topatimasang dalam buku Sekolah Apa Ini? (2019) menyatakan memupuk dan menumbuhkan kebiasaan (sikap dan perilaku) “bertanya dan mempertanyakan” adalah yang membedakan Salam dengan lembaga atau sekolah pada umumnya.

Di Salam, sejak usia dini anak-anak sudah dibiasakan bebas mengajukannya. Para warga belajar sudah tidak lagi mengenal mata pelajaran. Itulah yang memungkinkan para murid lebih akrab dan paham makna riset.

Agus Puji Prasetyono, Staf Ahli Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Bidang Relevansi dan Produktivitas dalam artikelnya “Membudayakan Riset Sejak Usia Dini” (ristekdikti.go.id, 20 Desember 2016) mengungkapkan riset sejak dini merupakan upaya untuk mengisi gap di tiap jenjang pendidikan.

Pendidikan anak usia dini dipercaya sebagai investasi besar bagi keluarga, dan negara. Sebab, anak-anak inilah yang kelak membangun Indonesia menjadi bangsa yang maju. Masa depan bangsa ini sangat ditentukan oleh pendidikan yang diberikan kepada anak-anak kita di masa sekarang.

Mengenalkan tradisi riset sejak dini patut dimulai oleh para pendidik sejak sekarang. Riset yang dibuat bisa dimulai dari hal yang sederhana. Utamanya yang berkenaan langsung dengan peserta didik. Jika sudah membiasakan tradisi tersebut harapannya tentu ketika masuk ke jenjang berikutnya utamanya perguruan tidak gagap lagi. Karena sudah bisa melakukan riset sejak dini. (*)

 

Topik Terkait: #pendidikan

Leave a Response