Judul               : Bahagia Cara Sufi
Penulis           : Lord Tengku Seraski Koling Mochtar
Penerbit          : Noura Books
Cetakan           : 2019
Tebal                : 104 halaman
ISBN                 : 978-602-385-774-6

 

Bisa dikatakan, kebahagiaan menjadi hal yang dicari semua orang. Apa pun pekerjaannya, semua orang mengejar kebahagiaan. Namun, kenyataannya banyak orang sulit bahagia meski sudah berusaha mencarinya sekuat tenaga.

Sebagian orang sudah memiliki harta melimpah, jabatan tinggi, juga popularitas, namun tetap tak merasakan kebahagiaan. Sebaliknya, ada orang-orang yang tak begitu punya materi, hidup sebagai orang biasa tanpa tahta dan kedudukan terpandang, namun bisa menikmati kehidupannya dan merasa bahagia.

Sebenarnya, apa yang membuat orang benar-benar merasakan kebahagiaan? Apa sumber kebahagiaan sejati itu?

Di buku ini, Lord Tengku Seraski Koling Mochtar mengajak kita mencari jalan kebahagiaan berdasarkan kearifan para sufi.

Jalan sufi dikenal sebagai jalan menuju kesejatian: jalan menuju Allah Swt. Bertumpu dari kebutuhan menuju Sang Ilahi inilah, terentang jalan menuju kebahagiaan sejati.

Secara psikologis, orang bahagia ketika sanggup memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Kebahagiaan bertalian erat dengan “kebutuhan”. Penulis buku laris The Hidden Wisdom of Islam ini memaparkan berbagai kebutuhan dasar manusia menurut para sufi, di mana “kebahagiaan yang sejati” hanya akan dirasakan seseorang ketika bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Langkah pertama menuju kebahagiaan adalah dengan memahami siapa diri kita dan apa yang akan membuat kita bahagia. Menurut pandangan para sufi, kita, manusia, bukan sekadar terdiri dari tubuh fisik. Manusia adalah makhluk multidimensi yang terdiri dari pikiran kita, emosi kita, jiwa kita.

Lewat sebuah ilustrasi, penulis menjelaskan bagaimana mekanisme dan dorongan yang terjadi dalam diri kita. Mula-mula, tubuh fisik kita dikendalikan oleh pikiran sadar kita. Pikiran sadar tersebut didorong oleh emosi bawah sadar kita. Dan emosi bawah sadar tersebut diarahkan oleh jiwa spiritual kita. Dan jiwa spiritual ini tidak lain terhubung dengan Sang Realitas, Allah Sang Pencipta (hlm 47).

Di sinilah, terungkap rahasia tersembunyi bahwa setiap diri kita merupakan bagian dari REALITAS. “Dan hanya dengan memenuhi berbagai kebutuhan dari semua dimensi diri kita, barulah kita bisa benar-benar bahagia,” jelas Lord Tengku.

Level Kebahagiaan

Para sufi besar zaman dahulu menggambarkan 13 level kebutuhan manusia. Level pertama hingga ketiga merupakan “kebutuhan tubuh”, meliputi: (1) kebutuhan bertahan hidup; (2) kebutuhan untuk hidup baik; dan (3) kebutuhan untuk berkecukupan.

Kemudian level keempat hingga keenam adalah “kebutuhan pikiran”. Terdiri dari: (4) kebutuhan akan kebebasan; (5) kebutuhan akan ilmu pengetahuan; dan (6) kebutuhan akan penguasaan dan kendali. Kebutuhan selanjutnya adalah “kebutuhan jiwa”, yang meliputi: (7) kebutuhan akan orisinalitas dan kreativitas; (8) kebutuhan akan ekspresi diri yang unik; dan (9) kebutuhan akan peninggalan abadi.

Kebutuhan selanjutnya adalah “kebutuhan emosi”, yang meliputi: (10) kebutuhan untuk terhubung dengan orang lain; (11) kebutuhan untuk membantu orang lain; (12) kebutuhan untuk memberi dan menerima cinta. Dan yang paling dalam adalah: (13) kebutuhan “Realitas”, yakni kebutuhan untuk menyatu.

Sepanjang hidupnya, manusia terombang-ambing di antara rasa senang, susah, sedih, bangga, kecewa, dan berbagai emosid an perasaan dalam kait-kelindan berbagai level kebahagiaan tersebut.

Ketenangan hidup hanya dirasakan jika setiap level kebahagiaan dipenuhi secara selaras atau seimbang. Penulis menegaskan, memusatkan perhatian hanya pada satu bagian dan mengabaikan bagian lainnya tidak akan bisa membawa kebahagiaan.

Manifestasi Sifat-Sifat Allah

Karena setiap diri kita merupakan bagian dari Sang Realitas, maka apa-apa yang menjadi sumber kebahagiaan sejati kita pada dasarnya merupakan pancaran dari apa-apa yang menjadi sumber-sumber sifat Sang Realitas. Penulis melihat, berbagai dimensi kebutuhan dasar manusia tersebut tidak lain merupakan manifestasi atribut-atribut atau sifat-sifat dari Allah Sang Pencipta

Misalnya, kebutuhan untuk “bertahan hidup” merupakan perluasan dari sifat Allah Yang Maha Wujud, yang berarti “Ada”. Orang selalu terdorong mempertahankan hidup (nyawa) dengan berusaha menghindari kelaparan, bahaya, dan kesakitan. Dengan menghindarkan diri dari bahaya, punya makanan dan air ketika lapar dan haus membuat kita merasa lebih bahagia. Ini, tak lain merupakan perluasan dari sifat Allah Yang Maha Ada (wujud).

Selain bertahan hidup, orang juga punya kebutuhan untuk berkecukupan. Ini terkait kebutuhan yang tak sekadar menunjang bertahan hidup, namun bagaimana bisa hidup dengan cukup nyaman. Dijelaskan di buku ini, dorongan untuk bisa hidup berkecukupan ini merupakan perluasan dari sifat Allah Yang Maha Berkecukupan atau Maha Berdiri Sendiri (Qiyamu bin-Nafs, Qayyum, dan Ghani) yang berarti Mandiri, Mencukupi Diri.

Contoh lainnya, untuk bisa menjalani kehidupan, manusia juga mesti memiliki bekal pengetahuan. Di sini, manusia dikaruniai akal untuk berpikir dan menggunakannya untuk bisa hidup secara lebih baik. Kebutuhan akan ilmu pengetahuan ini merupakan perluasan dari sifat Allah ‘Ilm, Hadi, dan Rasyid (Mengetahui, Memberi Petunjuk, dan Mengajari).

Manusia juga punya kebutuhan bersosialisasi dengan sesama manusia. Manusia tak bisa hidup seorang diri. Dengan berdialog, bekerja sama, bertukar pikiran, manusia menyelesaikan berbagai persoalan hidup. Kebutuhan untuk “terhubung dengan orang lain” ini merupakan perluasan dari sifat Bashar, Sami’, dan Kalam (Melihat, Mendengar, dan Berbicara).

Zaman terus berubah. Perubahan ini menuntut manusia punya kreativitas. Orang kemudian punya kebutuhan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan orisinal. Dan kebutuhan menemukan hal-hal baru, kebutuhan menjadi kreatif, semua itu merupakan perluasan dari kekuatan Sang Maha Kreatif yang menciptakan alam semesta ini. Ini merupakan perluasan dari sifat Khaliq, Bari, dan Mushawwir (Pencipta, Pembuat, dan Perancang).

Setiap manusia pada dasarnya merupakan bagian dari Sang Realitas atau Yang Maha Mencakup Segalanya. Karena itu, jiwa spiritual kita selalu terdorong selalu mendekati-Nya.

Dorongan tersebut muncul lewat keinginan mendekati, “meniru”, dan memancarkan sifat-sifat Allah Swt. Dan hanya dengan memenuhi kebutuhan akan dorongan-dorongan tersebut, kebahagiaan yang sejati akan benar-benar kita rasakan. Wallahu a’lam.

Leave a Response