Please assign a menu to the primary menu location under menu

Puisi-puisi di atas menggambarkan fenomena dan realitas ulama perempuan di atas panggung sejarah Islam awal. Pusat-pusat peradaban Islam, paling tidak di tiga kota metropolitan, pusat peradaban dunia saat itu. Ketiga kota itu yakni, Damaskus (Siria), Baghdad (Irak), dan Andalusia (Spanyol) memperlihatkan aktifitas, peran, dan posisi kaum perempuan dalam ruang publik, politik, ekonomi, dan budaya.

Fakta-fakta sejarah dalam peradaban awal Islam ini menunjukkan dengan pasti betapa banyak perempuan yang menjadi ulama, cendikia, dan intelektual. Beragam keahlian dan kapasitas intelektual relatif sama dengan bahkan sebagian mengungguli laki-laki ulama. Fakta ini juga dengan sendirinya telah menggugat anggapan banyak orang. Bahwa, akal, intelektualitas, kecerdasan, dan moralitas perempuan lebih rendah dari akal, intelektualitas dan moralitas laki-laki.

Islam hadir untuk sebuah cita-cita kemanusiaan universal. Cita-cita itu dalam rangka membebaskan penindasan, diskriminasi, dan kebodohan menuju perwujudan kehidupan yang setara, berkeadilan, dan berilmu pengetahuan bagi semua manusia: laki-laki dan perempuan.

Nama-nama perempuan ulama/intelektual/cendikia, perjalanan hidup dan karya-karya mereka terekam dengan baik dalam banyak buku dan terukir indah dalam kaligrafi. Ibnu Hajar, seorang ahli hadis terkemuka dalam bukunya: “Al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah”.

Ia menyebut ada 500 ulama perempuan yang di bidang hadis dan menulis jejak langkah mereka. Nama-nama mereka juga ditulis ahli sejumlah ulama: Imam Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf al-Nawawi dl-Dimasyq, muhaddits faqih besar dalam “Tahzib al-Asma wa al-Rijal”.

Khalid al-Baghdadi (1779-1827 M), seorang sufi besar menulis ratusan perempuan ulama dan cendikia dalam bukunya yang sangat terkenal: “Tarikh Baghdad”. Juga, Abu Abdullah Muhammad bin Sa’ad (784-845 M), seorang sejarawan awaal terkemuka menulis mencatat nama-nama dan sejarah hidup mereka dalam karyanya yang termasyhur “Al-Thabaqat”. Demikian juga Imam al-Sakhawi, seorang sejarawan, ahli hadits, tafsir, dan sastra, dalam bukunya “al-Dhaw al-Lami’ li Ahli al-Qarn al-Tasi” dan lain-lain.

Bersambung

Leave a Response