Judul: Masak Hijrah Begitu?

Penulis: Edi Ah Iyubenu

Editor: Rusdianto

Penerbit: DIVA Press

Tahun: 2020

Tebal: 264 halaman

ISBN: 978-602-391-837-9

 

Beberapa waktu lalu kemunculan istilah “hijrah” mencuat cukup populer. Kemudian istila ini menjelma menjadi sebuah istilah spiritual, religius, dan islami yang menghentakkan suatu dambaan paripurna perjalanan hidup seseorang. Pada dasarnya booming istilah “hijrah” ini adalah hal wajar. Ia merupakan bagian dari dinamika kehidupan manusia. Puncak dari proses dialektika antara agama dan budaya.

Jika dirunut dari sisi historis, “hijrah” merujuk pada bermigrasinya Nabi dan sejumlah sahabat ke Madinah. Sebuah gerakan berpindah dari kekurangbaikan menuju kelebihbaikan. Ada misi progresivisme di dalamnya demi terciptanya masyarakat yang mampu bergerak dinamis dengan tetap berpangku pada misi profetik Islam, yaitu mewujudkan keadilan sosial dan kemanusiaan universal. Namun realitanya praktik hijrah kekinian menjadi sedemikian anomalinya dengan tujuan dan misi Islam tersebut.

Buku ini mengurai fenomena “tren hijrah” yang mewabah hingga pada ranah yang tidak sama sekali Islam, yang melenceng dari khiththah Islam itu sendiri sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin. Dalam penilaian Edi, telah terjadi reduksi, pengikisan bahkan pendangkalan dalam (sejumlah) praktik hijrah kekinian terhadap gerakan pencerahan yang sejatinya merupakan spirit Islam.

Tidak sedikit pelaku hijrah kekinian yang melemparkan kemegahan dunia yang telah mapan dimiliki atas nama Islam hakiki berkedok status mukmin sejati. Padahal, hidup menderita sama sekali bukanlah parameter tunggal bagi ke-kaffah-an iman dan takwa (halaman: 207). Bisa dikatakan pula, Tuhan dan surga-Nya bukan hanya persoalan seberapa lama berada di atas sajadah atau–dengan kata lain–seberapa banyak mengerjakan ibadah mahdhah saja.

Lebih dari itu, masih menurut Edi, krusialitas sekaligus sensitivitas amanat amar ma’ruf nahi munkar turut ambil bagian dalam penyimpngan itu. Pemahaman dan aplikasi yang salah atas amar ma’ruf nahi munkar menjadi berpunggungan dengan maksud Tuhan dalam firman-Nya tersebut. Merasa paling ma’ruf atas perilaku diri lalu dengan mudahnya mengkafirkan bahkan menerakakan orang lain yang tidak sefrekuensi merupakan konsekuensi logis dari misinterpretasi itu.

Dalam hal ini perlu digaris tebal bahwa berbeda merupakan keniscayaan, sedangkan berselisih adalah suatu pilihan. Jadi tidak selamanya perbedaan harus disikapi dengan perselisihan apalagi pertengkaran, perpecahan, dan permusuhan. Manusia yang hanya pemeran skenario Tuhan sungguh tidak pantas mengklaim otoritas Tuhan sebagai penentu baik buruk.

Lanjut Edi, Amar ma’ruf nahi munkar mengandung amanat luhur yang terspesialisasikan hanya untuk sebagian mukmin yang memiliki kualitas dan kapabelitas serta hak hukum semacam ulil amri dan para ahli ilmu (ulama), serta mampu bersikap ma’ruf (tidak memicu perpecah-belahan dan permusuhan) dalam menjalankannya. (halaman: 226). Maka kejemawaan memproklamirkan diri dan merasa paling pantas sendiri untuk selalu di depan namun berujung kegaduhan sungguh sama sekali dilarang.

Faktor esensial dari ekspresi hijrah yang salah adalah dominasi laku lahiriah dan pengabaian laku rohaniah. Sederhananya, menurut Edi, ada tiga parameter untuk menakar kualitas rohani diri. Pertama, iman dengan penuh seluruh bahwa Allah yang Satu hanya satu-satunya. Kedua, takwa, ekspresi iman yang direpresentasikan dalam kepatuhan atas syari’at. Ketiga, akhlak karimah, buah sosial dari iman dan takwa yang teradaptasi dalam relasi yang bukan hanya antar umat Islam tetapi juga antar manusia. (halaman: 200).

Kedalaman ilmu dan sekaligus iman takwa akan tercermin dalam menerima dan mendudukkan perbedaan-perbedaan dan kemajemukan-kemajemukan. Begitupun sebaliknya, perilaku barbar berlabel Islam adalah cerminan terkikisnya keimanan seseorang. Perilaku semacam itu musykil dipentaskan oleh orang yang benar-benar memahami dan menjalankan nilai-nilai Alquran dan Sunnah Nabi.

Tidak hanya itu, urgensitas kesadaran yang tinggi dalam setiap diri bahwa hijrah bukan final tetapi start agar setiap kita tidak merasa “telah selesai dan baik-baik saja” hanya dengan lakon lahiriah berbungkus religius. Dan tentu saja dalam pengarungan ini sangat alamiah jika seseorang memerlukan guru sebagai pendamping, pencerah, pengoreksi, pengarah dalam setiap ‘amaliyah yang dijalaninya.

Maka hal lain yang perlu dimiliki di era trend hijrah ini adalah kemampuan menfilter guru atau pembimbing rohani. Guru yang memiliki kapabelitas dan spirit cinta serta kebijaksanaan. Lahir dari rahim kedalaman dan keluasan ilmu dari satu sisi, dan kejernihan rohani yang benderang di sisi yang lain. Kendati berbeda guru selama masih dalam koridor spirit cinta dan kebijaksanaan, maka tidak layak adanya klaim benar-benaran versus salah-salahan.

Buku karya Edi Ah Iyubenu ini sangat menarik untuk dibaca. Dengan wacana-wacana kritisme yang segar serta bahasa yang ringan sangat cocok sekali untuk semua kalangan. Segalanya diramu sedemikian rupa dalam bentuk singkat dan padat yang langsung mengarah tepat sasaran pada inti persoalan tanpa bertele-tele panjang lebar sehingga pembaca terhindar dari kebosanan.

Leave a Response