Please assign a menu to the primary menu location under menu

Pada mulanya adalah Islam. Agama yang menjunjung tinggi literasi. Bagaimana tidak, lima ayat pertama (Surat Al-Alaq ayat 1-5) yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad mencakup dua hal sekaligus: perihal membaca (iqra’) dan menulis (bil-qalam). Saat masa hidup Nabi Muhammad budaya menulis—yang tentu diiringi membaca—sudah jamak. Kala itu yang menjadi prioritas untuk dibaca dan ditulis adalah ayat-ayat Alquran.

Kemudian pada masa sahabat, berlanjut pada masa tabi’in dan seterusnya, budaya menulis dalam peradaban umat Islam kian santer. Bertumbuhan layaknya bunga-bunga pada musim semi. Awalnya memang hanya ayat-ayat Alquran dan hadis-hadis Nabi yang ditulis. Namun seiring waktu konten tulisan semakin beragam; tafsir, hadis, sejarah, kedokteran, astronomi, dan lain sebagainya.

Banyak tokoh-tokoh Islam masa silam yang dikenal sebagai penulis ulung. Di antaranya Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Al-Bukhari, dan Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari. Nama terakhir atau yang biasa disebut Ath-Thabari inilah yang menjadi fokus utama tulisan ini. Seorang ulama besar pada zamannya yang dikenal multitalenta dan sangat total dalam masalah keilmuan.

Ath-Thabari lahir di Thabaristan, Iran, pada 225 H/839 M dan wafat di Baghdad tahun 310 H/923 M. Beliau berasal dari keluarga berkecukupan yang mencintai ilmu. Tak heran jika sejak kecil beliau telah belajar banyak cabang ilmu. Bahkan diriwayatkan bahwa pada usia tujuh tahun Ath-Thabari sudah hafal Alquran. Umur yang sama di mana Imam Asy-Syafi’i juga telah hafal Alquran.

Barangkali bukan kebetulan jika kemudian Ath-Thabari juga serupa dengan Imam Asy-Syafi’i dalam hal lain, yakni soal kegigihan menulis. Imam Asy-Syafi’i pernah berujar, “Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah pengikatnya, maka ikatlah (baca: menulislah) buruanmu dengan tali yang kuat.” Dan beliau mengamalkan dengan baik ucapannya sendiri. Imam Asy-Syafi’i sangat produktif. Beliau mengarang berbagai kitab di antaranya yang terkenal adalah Al-Umm dan Ar-Risalah.

Ulama lain, Ath-Thabari juga mengaminkan ujaran Imam Asy-Syafi’i tersebut. Beliau rajin mengikat “buruannya” dengan ikatan yang kuat dan banyak. Di antara hasil “buruan” beliau adalah kitab Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an (Tafsir Ath-Thabari) dan Tarikh al-Umam wa al-Muluk (Tarikh Ath-Thabari). Kedua kitab itu menjadi warisan penting bagi pembelajaran ilmu tafsir dan ilmu sejarah sampai sekarang, seribu tahun lebih setelah ditulis!

Menurut keterangan Ibnu Kumail—murid Ath-Thabari—Ath-Thabari biasa menulis dalam sehari sebanyak 40 lembar. Jumlah yang luar biasa banyaknya mengingat pada zaman itu sarana menulis tidaklah semudah sekarang. Produktivitas menulis semacam itu menunjukkan kecintaan Ath-Thabari terhadap ilmu sekaligus sebagai tanda akan melimpahnya pengetahuan yang terkandung di kepalanya.

Ath-Thabari sebagaimana ulama-ulama pada abad-abad awal Hjriyah adalah seorang pengembara ilmu. Demi menuntut ilmu beliau pergi ke Rayy, Baghdad, Bashrah, Syiria, dan Mesir. Berkat sekian pengembaraannya tersebut, beliau pun jadi mempunyai bekal yang amat banyak untuk menelurkan karya.

Hebatnya, tema tulisan Ath-Thabari sangat kaya, mulai dari sejarah, fikih, ilmu qira’at, tafsir, bahasa, hingga kedokteran digarapnya. Betapa menunjukkan keluasan dan kedalaman ilmu yang dimilikinya. Selain itu, beliau dikenal juga sebagai pelopor. Buku sejarahnya, Tarikh al-Umam wa al-Muluk atau Tarikh ar-Rusul wa al-Anbiya wa al-Muluk wa al-Khulafa atau lazim dikenal Tarikh Ath-Thabari adalah salah satu kitab sejarah Islam yang paling pertama dibuat.

Kitab itu ditulis dengan metode penulisan hadis yaitu dengan menyebutkan riwayat-riwayat beserta sanad-nya. Dalam Historiografi Islam, Badri Yatim meletakkan nama Ath-Thabari di urutan pertama pada bab sejarawan muslim terkenal. Tak lain lantaran peran besar Ath-Thabari dalam penulisan sejarah Islam.

Demikianlah Ath-Thabari, seorang ulama multitalenta yang sangat produktif menulis. Usia beliau memang kurang dari seratus tahun. Namun, sesungguhnya beliau masih hidup di antara kita hingga kini. Beliau masih mengembuskan napas melalui buku-buku yang ditulisnya.

Leave a Response